Kuah yang lebih nendang dan rasa segars ehingga menarik pembeli untuk mencicipi kuliner ini. Muntani, selaku penjual lontong balap mengatakan resep yang digunakan merupakan turun-temurun dari kakek. Sehingga dilanjutkan oleh sang suami yang merupakan cicitnya.
’’Resep yang saya gunakan hanya bawang prei dan bawang putih. Tapi prosesnya turun-temurun dari kakeknya suami. Kalau ada yang tanya resep saya kasih tahu. Tapi kadang rasanya bisa beda,’’ jelasnya.
Perempuan 47 tahun ini mengaku berjualan lontong balap sudah selama 9 tahun. Karena pada awalnya sudah mencoba banyak dagangan namun gagal, akhirnya kakeknya mengatakan untuk mencoba jualan lontong balap.
’’Saya sudah jualan ini sudah 9 tahun, awalnya sudah coba jualan bakso tapi belum ada rezeki. Akhirnya coba resep dari kakeknya suami, Alhamdulillah bisa jualan sampai sekarang,’’ ungkapnya.
Lontong balap ini mempunyai rasa kuah yang berbeda. Rasa kuahnya yang lebih terasa dan segar menjadi keunggulan dari lontong balap ini. Hal ini disebabkan oleh proses resep yang sudah diturunkan dari kakeknya.
’’Kalau untuk isi lontong balap cuman lontong, tahu, lentu sama tauge. Sedangkan kalau bumbu untuk kuahnya bawang prei, bawang putih sama kecap. Itu saja bumbunya,tapi prosesnya yang sulit. Kalau prosesnya itu rahasia keluarga,’’ paparnya.
Selain hanya berdagang melalui warung, lontong balap ini juga dijual di online dengan harga yang berbeda. Warung pada pukul 17.00 sudah tutup.
’’Untuk penjualan lontong balap kami juga buka di online namanya Lontong Balap Garuda Pak Udin. Harganya beda kalau di online Rp 13 ribu, kalau beli langsung Rp 10 ribu,’’ pungkasnya. (Novita Ainiyyatuz Zakiyyah/fen)
Editor : Fendy Hermansyah