Per bulan, pasangan dengan empat anak ini meraup untung sebesar Rp 15 juta.
Beragam jenis ikan hias dalam akuarium tertata rapi di toko milik Ningrum dan Endik ini. Beberapa pembeli hilir mudik di lokasi.
Meskipun lahannya tidak terlalu besar, usahanya banyak diminati pecinta ikan hias maupun penjual eceran.
Muria Ningrum menjelaskan, usaha agen ikan hias milik keluarganya ini dikembangkan karena tidak akan sepi pembeli.
Menurutnya, selama menekuni usaha ini pembelinya dari berbagai kalangan mulai anak kecil hingga dewasa.
’’Anak kecil sekarang itu banyak yang suka pelihara ikan. Sampai dewasa pun mereka terus menyukai hobinya. Selain bisa dibeli dengan harga yang murah, ikan juga dapat menjadi hiburan,’’ ujar perempuan 38 tahun itu.
Usaha yang sudah berdiri sejak 2009 ini awalnya hanya bermodal tekad dan hobi saja.
Ia merintis berjualan dengan menawarkan ikan hias ke tetangganya. Rupanya, banyak yang membeli dagangan Ningrum.
’’Awalnya karena hobi saja. Karena sejak muda saya suka ikan, lalu ingin bisnis jualan ikan,’’ ujar Ningrum.
Bisnis ikan hias milik Ningrum tak selalu mulus. Dia pernah menderita kerugian karena ikannya mati terkena hama atau penyakit.
’’Mulai ikan terkena jamur akibat cuaca hujan hingga filter air tersenggol ikan sehingga kandungan air berubah,’’ sebutnya.
Oleh karena itu, sambung Ningrum, perawatan ikan itu tidak sembarangan. Ada yang harus dimasukkan ke akuarium dan tidak mau air baru. Itu seperti Glofish, Danio, Manfish, Red King, Black ghost, Balasak, dan Kafiat.
’’Sedangkan yang di kolam itu bisa diberi air baru. seperti ikan koi, komet, tombro, dan nila,’’ sebut Ningrum sembari menunjukkan ikan jualannya.
Dilanjutkannya, selain filter air yang terus diperhatikan, garam juga perlu untuk menetralkan PH air.
Karena, air baru maupun lama memilihi PH yang berbeda. Memberi makan ikan juga tidak boleh terlalu banyak.
Pakan yang tersisa mengakibatkan air keruh. Sehingga, air perlu diganti seminggu tiga kali tergantung seberapa kotor airnya.
Selain berjualan di rumah, kata Ningrum, pemasaran ikan hias juga dilakukan di media sosial.
Akan tetapi, pembeli harus datang ke tempatnya langsung agar bisa melihat ikan dan mendapat arahan cara merawatnya.
Ine Oktavia, salah satu pembeli mengaku sudah lama berlangganan di agen tersebut.
Ia membeli ikan untuk dijual kembali sebagai usaha sampingan selain menjual makanan di kantin sekolah.
’’Memilih ikan itu harus bentuknya yang baik dan warnanya menarik agar tidak monoton. Saya beli biasanya sesuai pesanan, antara 10 sampai 15 ekor saja,’’ ungkap perempuan 45 tahun itu.
Usaha ini juga mengalami kendala dalam pengiriman ikan ke luar kota. Ikan yang bisa dikirim biasanya jenis cupang karena bisa tahan tiga sampai lima hari.
Sedangkan ikan hias seperti koi belum bisa dikirim karena tidak tahan lama.
’’Kita jualan ini ibaratnya jual nyawa. Karena setiap ikan ada nyawanya dan sebisa mungkin merawatnya dengan baik,’’ ungkap Nigrum.
Usaha ikan hias tersebut mendapat pesanan sampai ke berbagai kota. Mulai Lamongan, Gresik, Sidoarjo, Surabaya, dan paling jauh di Madura.
Dari usaha agen ikan hias, Ningrum dan suaminya, Endik Arisanto, mendapat omzet sekitar Rp 15 juta per bulan.
’’Alhamdulillah jodohnya di jualan ikan hias. Dari omzet tersebut kami gunakan untuk membeli jenis ikan yang lebih banyak lagi,’’ pungkas Ningrum dengan tersenyum. (Nailul Mufarichah/fen)
Editor : Fendy Hermansyah