Apalagi akhir-akhir ini cuaca begitu ektrem dan tidak menentu, ketika pagi hari begitu panas sedang ketika malam hujan deras.
Isnandi, petani asal Desa Jampirogo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto mengatakan, adanya perubahan cuaca yang begitu ekstrem ini sangat mempengaruhi kondisi tanaman pertanian.
Salah satunya daun padi menjadi tidak bisa mekar dan berbentuk melingkar-lingkar.
"Pengaruhnya ya daunnya (padi) gak bisa mekar, agak mlungker-mlungker," ungkapnya, Selasa (13/2/2024).
Pihaknya mengatakan, tanaman jagung miliknya juga tidak bisa panen saat musim penghujan.
Karena akar jagung yang rentan terhadap air yang berlebih, membuat tanaman jagung mengalami gagal panen di cuaca yang seperti ini. Dirinya pun mengalami kerugian Rp 2 juta.
Apalagi, lahan yang digarap bukanlah milik pribadi, melainkan lahan sewaan. Tentu hal ini semakin merugikan petani.
"Yang lahan sebelah barat itu untuk tanam jagung. Akhirnya hancur karena hujan dan kebanyakan air, jadinya rugi sampai Rp 2 juta. Belum lagi harus bayar lahannya. Karena kan lahannya, lahan sewaan," jelasnya.
Kendala lainnya yang dihadapi Isnadi adalah masalah pupuk. Harga pupuk yang semakin mahal membuat para petani keberatan.
"Pupuk itu sulit. Keluhannya petani ya dari pupuk. Sekarang pupuk mahal, biasanya itu paling enggak dapat satu ton setengah. Tetapi sekarang hanya dapat 6 kuintal saja. Kekurangannya petani yaitu, keberatan," ungkapnya. (fir/fen)
Editor : Fendy Hermansyah