Jumat (8/12) dini hari, anak sungai Bengawan Solo ini kembali meluap hingga menggenangi perkampungan warga.
Khususnya yang tinggal di Dusun Talunbrak, Desa Talunblandong; Dusun Klanting, Desa Pulorejo; dan Dusun Ngarus, Desa Banyulegi. Normalisasi yang sudah berjalan sejak Agustus lalu dinilai tidak efektif untuk mengatasi banjir tahunan tersebut.
Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, air mulai meluber ke perkampungan sejak pukul 03.00. Saat itu, debit air di Kali Lamong telah naik sejak dini hari. Air baru masuk ke rumah warga pukul 04.00.
Khususnya 5 rumah di Dusun Klanting dan 3 rumah di Dusun Ngarus yang terdampak parah akibat luapan air.
Mereka pun langsung berusaha mengamankan barang berharganya agar tidak ikut terendam air luapan sungai. ''Sejak Subuh tadi, tiba-tiba air sudah di depan rumah dan terus naik sampai masuk ke dalam,'' Terang Lelly, warga Dusun Klanting.
Hingga saat ini, ketinggian air telah mencapai 60 sentimeter atau setinggi lutut orang dewasa. Selain merendam rumah, akses jalan yang menghubungkan antara Desa Pulorejo dengan Banyulegi juga ikut terendam.
Bahkan, jalan desa terpaksa ditutup oleh warga mengingat ketinggian air yang terus naik. ''Bahaya kalau dilewati kendaraan, bisa-bisa nanti kecelakaan. karena jalannya sudah nggak terlihat akibat tingginya air,'' tandasnya.
Warga juga menilai, upaya pemerintah mengatasi banjir lewat normalisasi sungai Lamong yang berlangsung Agustus-November lalu belum maksimal. Sebab, masih banyak bidang sungai yang belum tergali sehingga debit air sulit untuk ditampung.
Termasuk dua anak sungai Lamong yang sempat diwacanakan ikut dinormalisasi, justru dibiarkan begitu saja. Padahal, sungai tersebut juga kerap ikut membanjiri rumah warga saat debit Kali Lamong naik.
"Sungainya (Kali Lamong, Red) sudah dikeruk, tapi air tetap nggak tertampung,'' pungkas Iin, warga setempat yang lain. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah