Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Cikal Bakal Berdirinya PMI Mojokerto, Diinisiasi Mahasiswa Kedokteran untuk Menolong Korban Perang

Rizal Amrulloh • Kamis, 14 September 2023 | 11:55 WIB

KEMANUSIAAN: Markas PMI Kota Mojokerto di Jalan Mojopahit Utara tahun ini sedang dalam proses rehabilitasi.
KEMANUSIAAN: Markas PMI Kota Mojokerto di Jalan Mojopahit Utara tahun ini sedang dalam proses rehabilitasi.
PADA tanggal 17 September 2023, Palang Merah Indonesia (PMI) genap menapaki usia ke-78 tahun. Namun, embrio terbentuknya organisasi yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan ini telah ada sejak pra-kemerdekaan RI.

Di Mojokerto, perkumpulan para sukarelawan ini awalnya diinisiasi oleh mahasiswa kedokteran pribumi untuk menolong korban perang.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, cikal bakal keberadaan PMI sebenarnya telah ada sejak masa kolonial. Yakni ditandai dengan berdirinya Nederland Roode Kruis Afdeling Indie (Nerkai) pada 21 Oktober 1873.

’’Menghadapi perang dunia kedua, pemerintah kolonial juga mendirikan Nerkai di daerah-daerah yang didudukinya, termasuk di Mojokerto,’’ terangnya.

Tetapi, organisasi kemanusiaan ini dibentuk untuk kepentingan penduduk kolonial sendiri. Karena itu, Nerkai hanya didirikan di kota-kota besar yang banyak dihuni warga asing, khususnya orang berkebangsaan Belanda.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, pendirian Nerkai Mojokerto bermula pada 21 Juli 1936. Dia mengatakan, saat itu digelar rapat pembentukan merah yang diprakarsai oleh Kepala Rumah Sakit (RS) Gatoel, dr Vreede.

Dalam forum tersebut, jelas Yuhan, wilayah Mojokerto dinilai perlu segera dibentuk organisasi roode kruis atau palang merah.

Tujuannya untuk mengantisipasi terjadinya perang di Kota Surabaya yang menjadi basis dari tentera Belanda.

’’Karena memiliki jarak yang cukup dekat dengan Surabaya, maka posisi Mojokerto sangat strategis untuk dijadikan tempat evakuasi korban maupun pengungsi,’’ ulas dia.

Dalam rapat tersebut akhirnya disepakati untuk mendirikan Nerkai Mojokerto. Selain tenaga kesehatan dan pejabat kolonial, Bupati Mojokerto Rekso Amiprodjo juga ditunjuk untuk mengisi jajaran pengurus palang merah.

Selain itu, organisasi kemanusiaan pertama di Mojokerto ini juga membuka peluang bagi sukarelawan untuk bergabung.

Sayangnya, keberadaan Nerkai tidak mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

’’Karena warga pribumi menginginkan untuk membuat organisasi sendiri dengan nama Palang Merah Indonesia,’’ ulas anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini.

Dengan dukungan dari kalangan pelajar dan mahasiswa, rancangan pendirian PMI akhirnya disuarakan pada saat kongres Nerkai pada tahun 1940. Akan tetapi, inisiatif tersebut terpaksa harus kandas karena ditolak.

Tak menyerah, para mahasiswa kedokteran melakukan manuver dengan menginisiasi pembentukan organisasi kemanusiaan dan sosial secara mandiri. Wadah tersebut dinamakan Penolong Korban Perang atau dikenal Pekope.

’’Pekope sebenarnya sama dengan PMI, namun namanya disamarkan dengan tujuan untuk mengedukasi warga desa,’’ ulasnya. (ram/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#kedokteran #pmi #korban #mojokerto #perang