Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kisah Raja Zulkarnain, sang Raja Romawi dan Nabi Khidir AS

Moch. Chariris • Selasa, 26 Maret 2024 | 05:29 WIB
ULAMA MASYHUR: KH Chusaini Ilyas, salah satu ulama sepuh di Kabupaten Mojokerto yang hingga kini masih aktif berdakwah. (foto: internet)
ULAMA MASYHUR: KH Chusaini Ilyas, salah satu ulama sepuh di Kabupaten Mojokerto yang hingga kini masih aktif berdakwah. (foto: internet)

RADARMOJOKERTO - Raja Zulkarnain dikenal sebagai raja yang membangun tembok tinggi untuk memisahkan dunia manusia dengan alam zulma.

Yakni, dunia yajuj dan majuj.

KHARISMATIK: KH Chusaini Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto memberikan tausiyah agama. (foto: internet)
KHARISMATIK: KH Chusaini Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto memberikan tausiyah agama. (foto: internet)

Raja Romawi ini bernama Zulkarnain, karena memiliki dua tanduk di kepalanya.

Tanduk itu menyimbolkan bahwa ia merupakan penguasa bumi di bagian timur dan barat.

KH Chusaini Ilyas menuturkan, pada zaman Nabi Khidir Alaihissalam (AS), terdapat raja yang mampu mengatur bangsa malaikat dan jin.

Raja tersebut tidak lain adalah Raja Zulkarnain.

Akan tetapi, pada akhirnya Raja Romawi ini merasa tak sanggup karena harus memimpin manusia, malaikat, dan jin secara bersmaan.

”Nabi Khidir menjelaskan, menjadi seorang raja di dunia adalah hal yang tidak terlalu besar kedudukannya. Mengingat, alam semesta ciptaan Allah SWT, jauh lebih besar. Maka, Raja Zulkarnain diajak untuk melihat akan besar dan luasnya dunia,” terang Kiai Chusaini Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto.

Selama perjalanannya melewati alam zulma, raja menitipkan kudanya di alam gelap tersebut pada pengawalnya.

Saat turun dari dunia menuju ke jagat raya, malaikat yang berwujud sapi menyambut dan mengucapkan salam.

”Malaikat tersebut menjelaskan bahwa ia bertugas memuliakan mahluk yang paling bagus, yaitu manusia,” imbuh Kiai Chusaini Ilyas.

Raja Zulkarnain pun turun ke berbagai lapisan dunia dan melihat bahwa sapi tersebut berpijak pada malaikat yang berwujud batu.

Sedangkan, batu itu bertugas menyangga mahluk Allah SWT yang istimewa yaitu manusia.

Setelah itu dilihat bahwa batu tersebut juga berpijak pada ikan nun.

Begitu pula jauh ke bawah, ikan nun berpijak kepada air laut.

Sementara Raja Zulkarnain berpijak pada udara.

Begitu pula udara berpijak dengan kodratnya Allah SWT.

Dari hikmah tersebut Kiai Chusaini Ilyas lantas menyampaikan ditakdirkan hidup di dunia adalah rahmat yang mulai bagi manusia.

”Apabila (manusia) terkena musibah hendaknya selalu melihat ke bawah dan bukan ke atas. (Karena) diberikan napas dariudara, termasuk ketentuan dari Allah SWT,” paparnya.

Dari pelajaran ini, kiai kharismatik tersebut mengajak umat muslim hendaknya untuk selalu bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Allah SWT.

Di antaranya nikmat bernapas dan diberikan kehidupan agar senantiasa dapat menjalankan perintah-perintah Allah SWT.

”Sehingga (manusia) jangan lupa untuk selalu bersyukur,” pungkas KH Chusaini Ilyas. (satria putra)

Editor : Moch. Chariris
#nabi khidir #kh chusaini ilyas #manusia #raja