KOTA - Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, mendapat perhatian serius dari ulama sepuh Kota Mojokerto, KH Muthoharun Afif. Pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin, Kota Mojokerto ini menilai dinamika yang berkembang justru menjadi momentum positif untuk membenahi serta meningkatkan kualitas dan kinerja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di tengah derasnya arus globalisasi internasional.
Namun Kiai Muthoharun tetap menekankan pentingnya menjaga kondusivitas selama hajatan tertinggi organisasi islam terbesar di Indonesia ini berlangsung. Pihaknya mengimbau seluruh warga Nahdliyin, khususnya para muktamirin yang memiliki hak suara, untuk senantiasa mengedepankan ketertiban dan ketaatan terhadap Aturan Rumah Tangga (ART) NU.
Terutama mekanisme pemilihan, baik untuk Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dalam memilih Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU, yang harus dijalankan secara murni dan steril dari intervensi kepentingan politik praktis. Proses transisi kepemimpinan di tubuh NU diharapkan tetap menjaga marwah dan khittah jam’iyah. ’’Kan sudah ada aturan organisasi yang disepakati dalam ART. Aturan itu yang harus dikedepankan sesuai marwah dan khittah jam’iyah,’’ ujar Kiai Muthoharun.
Rais Syuriah PCNU Kota Mojokerto ini beranggapan, sosok pemimpin NU kedepan sebisa mungkin memiliki kealiman dan keilmuan tinggi dalam memahami kondisi NU secara utuh, baik dalam dimensi jamaah (warga) maupun jam'iyah (organisasi).
Bahkan, wajib menjadi juru selamat organisasi dari persoalan maupun prasangka buruk. Yang mana, figurnya diharapkan membawa ketenangan dan kemajuan bagi seluruh struktur dan warga NU. ’’Menakhodai PBNU untuk lima tahun ke depan memerlukan kesadaran tinggi terhadap dinamika sosial-keagamaan masyarakat Indonesia,’’ imbuh Kiai Muthoharun.
Menanggapi berbagai pertemuan pra-Muktamar yang sempat menjadi perbincangan publik, seperti konsolidasi di Asrama Haji Sukolilo Surabaya sejak Selasa (25/8) maupun pertemuan di beberapa daerah, Kiai Muthoharun memandangnya sebagai hal yang wajar dalam tradisi berorganisasi. Forum tersebut sebaiknya disikapi sebagai bentuk silaturahmi biasa dan bukan strategi dalam dukung-mendukung kontestan muktamar. ’’Biasa saja, tidak perlu ditanggapi dalam tensi tinggi. Dukung-mendukung itu wajar, namun tetap berpegang teguh pada aturan,’’ tambahnya.
Untuk pemimpin PBNU mendatang, Kiai Muthoharun berharap agar Muktamar ke-35 ini melahirkan nakhoda yang benar-benar kompeten untuk memimpin organisasi selama lima tahun ke depan. Sosok terpilih diharapkan memiliki kepekaan mendalam serta kesadaran tinggi terhadap dinamika kondisi sosial-keagamaan masyarakat di Indonesia.
Mengenai kinerja PBNU, mantan Ketua MUI Kota Mojokerto ini menilai kepengurusan periode KH Yahya Cholil Staquf sudah berjalan dengan baik. Beberapa capaian seperti inisiasi gerakan global R20 (Religion of Twenty) hingga modernisasi dan efisiensi tata kelola organisasi secara digital melalui platform Digdaya NU mampu diaplikasikan secara efektif.
Meski demikian, peningkatan kapasitas serta kapabilitas dalam meramu struktur organisasi tetap diperlukan agar tata kelola PBNU semakin optimal. Langkah ini diharapkan dapat membimbing warga Nahdliyin untuk semakin taat pada kewajiban sebagai umat yang beradab dan bermoral. ’’Untuk warga Nahdliyin, harapannya semakin sadar akan kewajibannya sebagai umat Muslim yang bertakwa dan menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur ulama terdahulu,’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto