KOTA – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, 27-31 Agustus nanti turut dijadikan momentum refleksi oleh Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Mojokerto.
Dalam Gebyar Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Multazam Tiga, Jumat (21/8) malam, Kiai Sa’dulloh Syarofi selaku penasihat memberikan gambaran mengenai esensi kemerdekaan hingga pentingnya membangun tatanan dan keberlanjutan organisasi.
Menurutnya, arti kemerdekaan sejati adalah kondisi ketika tidak terbebani oleh hal-hal yang tidak diinginkan. ’’Tidak hanya dirayakan atas melimpahnya rahmat, tetapi juga ikhtiar meminimalisir keburukan,’’ terang Gus Dulloh, sapaan karibnya.
Perlu cara untuk bisa menjaga keberlangsungan kemerdekaan dalam berorganisasi. Yang mana, pemimpin dan anggotanya harus memahami garis demarkasi demi mencegah potensi kerusakan. Fokus utamanya adalah pembangunan mental dan spiritual yang tertuju sustainability.
Untuk itu, lanjut Gus Dulloh, perlu tiga kesadaran penting yang wajib dimiliki setiap kader Ansor-Banser. Pertama, selalu introspeksi di setiap memulai langkah, taat dan disiplin dengan aturan, serta senantiasa husnuzan antarlini. Esensi dari kesadaran tersebut terbagi menjadi tiga pilar. Yakni qanaah terhadap modal dan sarana yang ada, istikamah pada proses, dan tawakal atas hasil akhir.
Gus Dulloh juga berpesan kepada kader untuk selalu memelihara optimismenya. ’’Termasuk kepada pimpinan organisasi untuk memberikan kepercayaan kepada bawahan berdasarkan pertimbangan yang logis dan objektif,’’ pungkas putra KH M. Chusaini Ilyas ini. (far/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto