Mbah Wahab Berjasa Besar dalam Sejarah Berdirinya ISHARI NU

Moch. Chariris • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:33 WIB
INISIATOR: Jajaran PP ISHARI NU menyerahkan gelar Bapak ISHARI NU kepada Mbah Wahab yang diterima dzuriyah, KH Moh. Hasib Wahab Chasbullah (kiri), di GSG KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (20/8) malam. (Chariris JPRM)
INISIATOR: Jajaran PP ISHARI NU menyerahkan gelar Bapak ISHARI NU kepada Mbah Wahab yang diterima dzuriyah, KH Moh. Hasib Wahab Chasbullah (kiri), di GSG KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (20/8) malam. (Chariris JPRM)

RADAR MOJOKERTO - Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) Nahdlatul Ulama (NU) menganugerahi KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) sebagai Bapak ISHARI NU. Gelar yang diberikan oleh Pengurus Pusat (PP) ISHARI ini setelah sosok inisiator sekaligus muassis NU tersebut memiliki jasa besar kepada ISHARI NU.

Penghargaan ini diserahkan langsung kepada dzuriyah Mbah Wahab, KH Moh. Hasib Wahab Chasbullah (Gus Hasib) dalam acara istighotsah dan salawat menyambut gelaran Muktamar ke-35 NU di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Kamis (20/8) malam. ’’Semoga penghargaan ini membawa berkah, ISHARI makin besar dan jaya,’’ tutur Gus Hasib.

Pembacaan istighotsah dan salawat dihadiri ribuan jemaah ISHARI NU dari berbagai daerah di Jawa Timur (Jatim) dan santri PPBU. Mengenakan baju serbaputih, mereka tampak khidmat mengikuti pembacaan doa bersama dan salawat dari awal hingga akhir.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PP ISHARI Farid Jatmiko menuturkan, gelar Mbah Wahab sebagai Bapak ISHARI NU ini tak lain karena tokoh pencipta lagu Yalal Wathon tersebut memiliki peran penting dan strategis dalam sejarah panjang ISHARI NU.

"Jasa dan perjuangan Mbah Wahab dalam membesarkan ISHARI NU sangat luar biasa. Sehingga ISHARI NU bisa berkembang dan besar seperti sekarang ini. Maka, gelar tersebut adalah bentuk khidmat kami kepada beliau dan NU,’’ ujarnya.

Memang, semasa perjuangannya, lanjut Farid, Mbah Wahab menilai tradisi majelis salawat Terbang Abdurrahim yang didirikan KH Abdurrohim bin Abdul Hadi asal Pasuruan, sebagai sarana dakwah yang potensial, masif, dan mengakar. Sehingga, pada 23 Januari 1959, Mbah Wahab menginisiasi untuk membawa jamiyah hadrah tersebut dalam naungan NU, dengan nama Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (ISHARI). 

"Langkah ini diambil untuk memperkuat rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus membentengi umat melalui seni budaya Islam,’’ imbuh warga asal Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, ini.

Ia menjelaskan, semasa merintis kelahiran ISHARI, Mbah Wahab juga melibatkan sejumlah tokoh ulama NU. Yakni seperti, KH Bisri Syansuri, KH Syaifuddin Zuhri, KH Ahmad Syaiku, dan KH Muhammad bin Abdurrokhim. Keseriusan Mbah Wahab ini kemudian berlanjut hingga Agustus 1961.

Mbah Wahab menulis secarik surat menggunakan huruf pegon, yang isinya meminta KH Muhammad bin Abdurrokhim segera membentuk Pengurus Pusat (PP) ISHARI dan berkedudukan di Surabaya. 

’’Puncaknya, dalam musyawarah para ulama dan tokoh hadrah se-Jatim saat itu, menetapkan Mbah Wahab sebagai pembina dan pelindung. Sedangkan KH Muhammad bin Abdurrokhim ditunjuk sebagai ketua ISHARI,’’ tandasnya.


Selain PP ISHARI NU, turut hadir dalam acara tersebut jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), serta pengurus yayasan dan majelis pengasuh PPBU. Di antaranya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU KH Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sekaligus Ketua SC Muktamar ke-35 NU, Bendahara Umum (Bendum) PBNU H Gudfan Arif Ghofur, Sekretaris SC Muktamar ke-35 NU H Muhammad Nuh, serta  Ketua Umum Yayasan PPBU sekaligus OC Panitia Lokal (Panlok) Muktamar ke-35 NU KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozaq), dan majelis dewan pengasuh Gus Hasib.

"Istighotsah adalah bagian dari cara melakukan permohonan dan pertolongan kepada Allah dengan memperbanyak membaca istighfar,’’ terang KH Miftachul Akhyar.

Sekjen PBNU Saifullah Yusuf menambahkan, majelis doa bersama ini diharapkan menjadi landasan batin agar selama perhelatan Muktamar ke-35 NU di PPBU Tambakberas berjalan aman, lancar, serta membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

 ’’Yang sulit dimudahkan, yang rumit bisa diurai, dan akhirnya nanti semua bisa bergembira berkah dengan hasil yang baik,’’ tandas Gus Ipul. (ris/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
muktamar di jombang muktamar 35 nu ishari nu mbah wahab