WAKIL Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat (PP) ISHARI NU Farid Jatmiko menambahkan, selain istighotsah dan salawat hadrah, dalam kesempatan ini, ISHARI NU juga akan menganugerahi KH Abdul Wahab Chasbulloh sebagai Bapak ISHARI NU.
Di samping sebagai pendiri, Mbah Wahab dinilai memiliki kontribusi besar dalam memperjuangkan ISHARI NU pada masa penjajahan Belanda. ’’Beliau punya peran penting kepada ISHARI NU. Bahkan, dulu sebelum kemerdekaan, oleh Mbah Wahab, hadrah dibuat sebagai alat perjuangan sekaligus melestarikan kesenian,’’ tandasnya.
Momen tersebut, lanjut Farid, salah satunya ketika Mbah Wahab menggelar pertemuan bersama kiai sepuh ulama pesantren, di antara tradisi yang tidak ditinggalkan adalah mengadakan kesenian hadrah. Selain sebagai strategi perjuangan, hadrah juga digunakan untuk mengalihkan perhatian para penjajah. Agar dalam setiap rapat yang dihadiri Mbah Wahab dan para kiai tidak terbaca oleh penjajah.
’’Karena hadrahnya ditaruh di depan, maka oleh penjajah hadrah ini dianggap sebagai pagelaran seni. Padahal, di dalam ada pertemuan penting para kiai yang menggagas berdirinya Nahdlatul Ulama bahkan perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia,’’ urainya.
Tulis Secarik Surat dengan Huruf Pegon
Farid mengungkapkan, komitmen Mbah Wahab dalam melestarikan dan membesarkan ISHARI NU juga diwujudkan melalui secarik surat berisi perintah untuk segera membentuk PP ISHARI. Surat tertanggal 6 Agustus 1961 ini, ditulis Mbah Wahab menggunakan huruf pegon.
Kala itu, pada 1959, penyebutan ISHARI masih dikenal dengan istilah Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia. ’’Artinya, atas perjuangan beliau ini, maka ISHARI NU menganugerahi Mbah Wahab sebagai Bapak ISHARI NU,’’ tandasnya. (ris/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto