Permainan Tradisional: Kesenangan Sederhana yang Mulai Dilupakan

Imron Arlado • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 17:33 WIB
Permainan Tradisional: Kesenangan Sederhana yang Mulai Dilupakan
Permainan Tradisional: Kesenangan Sederhana yang Mulai Dilupakan

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan maraknya permainan digital, keberadaan permainan tradisional kian terpinggirkan. Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan tradisional menyimpan nilai kebersamaan, kreativitas, dan kearifan lokal yang tak tergantikan.

Dulu, anak-anak di berbagai daerah di Indonesia akrab dengan permainan seperti congklak, petak umpet, lompat tali, hingga gobak sodor. Permainan-permainan ini tidak membutuhkan alat canggih, cukup ruang terbuka dan interaksi langsung antar teman. Tawa dan kebersamaan menjadi bagian utama yang tak terpisahkan.

Berbeda dengan permainan modern yang cenderung individual dan berbasis layar, permainan tradisional mengajarkan banyak hal. Mulai dari kerja sama tim, strategi, hingga kemampuan berkomunikasi. Nilai-nilai ini secara tidak langsung membentuk karakter anak sejak usia dini.

Namun kini, pemandangan anak-anak bermain di halaman atau lapangan semakin jarang terlihat. Gadget dan permainan online menjadi pilihan utama karena dianggap lebih praktis dan menarik. Perubahan gaya hidup ini membuat generasi muda semakin jauh dari permainan tradisional yang pernah menjadi bagian penting masa kecil.

Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Kabupaten Mojokerto Digerojok Rp 58 Miliar

Sejumlah pemerhati budaya menilai bahwa jika tidak ada upaya pelestarian, permainan tradisional bisa benar-benar hilang. Padahal, permainan ini merupakan bagian dari identitas budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat di masa lalu.

Berbagai langkah mulai dilakukan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional. Sekolah-sekolah mulai mengenalkan kembali permainan ini melalui kegiatan ekstrakurikuler, sementara pemerintah daerah mengadakan festival dan lomba permainan tradisional untuk menarik minat generasi muda.

Selain itu, komunitas dan pegiat budaya juga memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional dengan cara yang lebih modern dan menarik. Harapannya, generasi saat ini dapat kembali mengenal dan merasakan keseruan permainan tanpa harus selalu bergantung pada teknologi.

Permainan tradisional bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran dan pelestarian budaya. Di tengah perubahan zaman, menjaga keberadaannya menjadi tanggung jawab bersama agar kesenangan sederhana ini tidak benar-benar hilang ditelan waktu.

JATI

Editor : Imron Arlado
budaya indonesia warisan budaya permainan tradisional edukasi anak anak-anak