Seblang Olehsari biasanya digelar setiap tahun setelah Hari Raya Idul Fitri, selama tujuh hari berturut turutJAWA POS RADAR MOJOKERTO – Banyuwangi dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan tradisi budaya, dan salah satu yang paling sakral adalah Seblang Olehsari. Tradisi ini berasal dari Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Osing.
Seblang bukan sekadar tarian, melainkan ritual adat yang sarat makna spiritual, dipercaya sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia tak kasatmata.
Seblang Olehsari biasanya digelar setiap tahun setelah Hari Raya Idul Fitri, selama tujuh hari berturut-turut. Acara ini dimulai dari 23-29 Maret. Ritual ini menjadi bentuk ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan bagi seluruh warga desa. Masyarakat percaya bahwa jika tradisi ini tidak dilaksanakan, desa dapat terimpa musibah atau gangguan nonfisik.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem, DPUPR Mojokerto Siagakan Empat Alat Berat dan Dua Tim Reaksi Cepat
Ciri khas utama Seblang Olehsari adalah penarinya yang merupakan gadis muda yang belum menikah. Penari ini tidak dipilih secara biasa, melainkan melalui proses spiritual yang diyakini sebagai kehendak leluhur.
Dalam pertunjukannya, penari akan mengalami kesurupan dan menari mengikuti alunan musik tradisional serta tembang-tembang khas yang dinyanyikan oleh para sinden. Dalam kondisi tersebut, penari dipercaya menjadi perantara antara dunia manusia dan roh leluhur.
Selain sebagai ritual tolak bala, Seblang juga memiliki fungsi sosial dan budaya. Tradisi ini mempererat hubungan antarwarga, memperkuat identitas masyarakat Osing, serta menjadi sarana pelestarian nilai-nilai leluhur. Setiap gerakan, kostum, dan iringan musik memiliki makna filosofis yang mencerminkan keharmonisan hidup.
Dalam tradisi Seblang, terdapat sebuah prosesi yang disebut Tundik, yaitu momen ketika penonton diajak ikut menari bersama penari Seblang. Tundik berlangsung saat penari membawa sampur atau selendang sebagai simbol ajakan.
Dalam prosesi ini, penari akan melemparkan selendang ke arah penonton. Siapa pun yang menerima atau terkena selendang tersebut dipercaya telah “terpilih” dan diwajibkan naik ke atas panggung untuk menari bersama penari Seblang.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, ajakan tersebut tidak boleh ditolak. Jika seseorang menolak untuk ikut menari setelah menerima selendang, diyakini ia bisa terkena bala atau mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, prosesi Tundik menjadi bagian yang sakral sekaligus penuh ketegangan, karena melibatkan interaksi langsung antara penari dan penonton dalam suasana ritual.
Dalam tradisi Seblang Olehsari, tidak setiap tahun terjadi pergantian penari. Seorang penari bisa menjalankan perannya selama beberapa tahun berturut-turut selama masih dianggap “terpilih”. Berikut beberapa penari Seblang Olehsari yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir:
· Wahyuni (2003-2004)
· Ika (2005-2007)
· Suidah (2008-2014)
· Diah (2015-2017)
· Susi (2018-2022)
· Putri (2023-2025)
· Lia (2026 – selanjutnya)
Gerakan tari dalam Seblang tidak dibuat secara koreografis seperti tari modern, melainkan mengalir mengikuti kondisi penari saat kesurupan. Hal ini menunjukkan bahwa aspek spiritual lebih dominan dibandingkan aspek estetika. Namun justru di situlah letak keunikan dan kekuatan tradisi ini.

Pelaksanaan Seblang tidak hanya sebatas pertunjukan tari, tetapi melalui serangkaian tahapan ritual, antara lain:
1. Pemilihan Penari (Pemilihan Seblang)
n Dilakukan secara adat melalui musyawarah dan pertimbangan spiritual oleh tokoh adat.
2. Selametan dan Ritual Terbuka
Warga mengadakan doa bersama sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kelancaran acara.
3. Pertunjukan Tari Seblang
Penari mulai menari dalam kondisi trance (kesurupan) diiringi musik gamelan dan tembang tradisional Osing.
4. Sembur Uborampe (Media Ritual)
Penari membawa atau menggunakan atribut tertentu seperti selendang dan mahkota bunga (omprok) yang memiliki makna simbolis.
5. Penutup dan pemulihan Penari
Setelah ritual selesai, penari seblang akan disadarkan kembali oleh pawang atau tokoh adat.
Baca Juga: BOS-BOP Bisa Dimanfaatkan untuk Honor Guru Non-ASN
Setelah sampai di pengujung acara, penari Seblang akan diarak berkeliling desa yang disebut ider bumi, berjalan beriringan bersama para pawang, Sinden dan seluruh perangkat menuju tempat penjuru yang dianggap tempat bermula Desa Olehsari berdisi dan Adat Seblang dilaksanakan, yaitu situs Mbah Ketut, Lahan Petahunan, Sumber Tangah dan berakhir di Balai Desa. NENSI
Editor : Imron Arlado