Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ketaatan untuk Menggapai Doa Orang Tua dan Guru

Moch. Chariris • Rabu, 27 Maret 2024 | 04:50 WIB
PANJATKAN DOA: Sa’dullah Syarofi, putra Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto, KH Chusaini Ilyas. (foto: Internet)
PANJATKAN DOA: Sa’dullah Syarofi, putra Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto, KH Chusaini Ilyas. (foto: Internet)

RADARMOJOKERTO - Doa merupakan ritual berkomunikasi antara manusia dengan Allah SWT.

Oleh karena itu, doa menjadi ibadah yang penting.

BERDAKWAH: Gus Dullah saat menyampaikan tausiyah agama. (foto: Internet)
BERDAKWAH: Gus Dullah saat menyampaikan tausiyah agama. (foto: Internet)

Sebab, dengan doa seseorang dapat menyampaikan permohonan dan pujian kepada Allah SWT secara langsung.

Gus Sa’dullah Syarofi atau yang akrab disapa Gus Dullah menjelaskan, dalam majalis-majelis salawat pun dianjurkan untuk memperbanyak berdoa.

”Karena doa yang dimulai dengan memanjatkan salawat dan dipanjatkan secara bersama-sama, maka besar kemungkinan doa tersebut akan di ijabah,” kata wakil ketua PC NU Kabupaten Mojokerto ini.

”Hal tersebut sudah ditetapkan dalam Alquran bahwa, barang siapa yang mau menata ketaatannya untuk bertakwa kepada Allah dan para Nabi, maka ia akan dirindukan surga,” terang Gus Dullah

Sejatinya, lanjut Gus Dullah, hidup ini telah disangga oleh doa orang tua dan guru yang mustajabah.

Namun tidak semua ijabahnya turun kepada murid dan anaknya.

Maksudnya, kata Gus Dullah, dengan doa orang tua dan guru yang diijabah maka anak akan ditemukan dengan perkara baik di dunia atas kehendak Allah SWT.

Sedangkan bagi anak yang tidak tertembus doa, menandakan bahwa dirinya belum melaksanakan taat kepada orang tua dan guru.

”Di langit sudah disiapkan doa yang dipanjatkan orang tua dan guru, maka mari kita gapai ijabahnya doa dengan melakukan ketaatan,” imbuh Gus Dullah.

Dia menjelaskan, ketaatan sendiri terbagi tiga.

Pertama taat terhadap apa yang telah diberikan.

Mengandung maksud, semua yang sudah diberikan Allah SWT diterima dengan baik dan dianggap sebagai modal usaha untuk menciptakan berbagai kebaikan dalam hidup.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan mensyukuri dan tidak merasa kurang atas siapa pun yang menjadi orang tua dan guru yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT.

”Seseorang yang lahir kaya raya bukan berarti istimewa. Ia memikul beban dan derajat yang mahal, karena semua yang diberikan Allah SWT merupakan utang,” tutur kiai muda ini.

Kedua, taat dalam mengolah modal dan berproses.

Jika seseorang berniat dan berusaha menggerakkan tubuhnya untuk datang ke tempat-tempat baik guna melakukan hal bermanfaat.

Maka, di tahap ini seseorang telah mendapat setengah ijabah dari doa orang tua dan gurunya.

Ketiga, taat terhadap hasil.

Orang yang taat akan memiliki sikap optimistis dan tidak mudah menyerah.

Ia meyakini bahwa semua yang kembali padanya merupakan sesuatu yang baik, meskipun hal tersebut belum sesuai harapan.

”Dengan tergapainya doa yang dipanjatkan oleh para orang tua dan guru melalui ketaatan ini, semoga ijabahnya pun turun hingga anak cucu di kemudian hari,” pungkas Gus Dullah. (wilda mifta)

 

 

 

Editor : Moch. Chariris
#orang tua #taat #guru