Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kisah Raja Firaun, Mukmin yang Menolak untuk Diselamatkan Allah SWT

Moch. Chariris • Minggu, 24 Maret 2024 | 05:11 WIB

 

ULAMA MASYHUR: KH Chusaini Ilyas, salah satu ulama sepuh di Kabupaten Mojokerto yang hingga kini masih aktif berdakwah. (foto: internet)
ULAMA MASYHUR: KH Chusaini Ilyas, salah satu ulama sepuh di Kabupaten Mojokerto yang hingga kini masih aktif berdakwah. (foto: internet)

RADARMOJOKERTO - Firaun menjadi tokoh yang dikenal karena kekafirannya.

Raja Mesir yang hidup di zaman Nabi Musa ini, terkenal bengis dan kejam.

BERKHARISMA: Kiai Chusaini Ilyas memberikan tausiyah agama. (foto: internet)
BERKHARISMA: Kiai Chusaini Ilyas memberikan tausiyah agama. (foto: internet)

Ia tidak ragu untuk membunuh siapa pun yang diduga hendak menghalanginya.

KH Chusaini Ilyas menjelaskan, Firaun merupakan seorang mukmin, namun ia meninggal dengan su’ul khotimah.

Diceritakan, Firaun merupakan manusia biasa yang mampu bertapa selama 40 tahun.

Pada suatu hari, Allah SWT memerintahkan Malaikat Jibril agar mendatangi Firaun dan memberi tahu, bahwa Allah SWT akan menerima amal ibadahnya, serta menempatkannya di surga.

”Maka Firaun yang angkuh menolak. Ia tidak membutuhkan keselamatan dari Allah SWT. Melainkan, ia meminta kehidupan selama 500 tahun tanpa menderita sakit. Maka, Malaikat Jibril menuruti kemauannya,” tutur Kiai Chusaini.

Semasa hidupnya, lanjut Kiai Chusaini, Firaun membuat kehancuran besar.

Yakni dengan membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir karena dikhawatirkan akan menjadi musuhnya di kemudian hari.

Sesuai dengan apa yang dikatakan para resi yang ia percayai.

Namun Allah SWT merahasiakan kehamilan seorang perempuan.

Dibuatnya rata perut perempuan yang sedang mengandung tersebut.

Sehingga ia berhasil melahirkan bayi laki-laki yang tumbuh dengan cepat.

”Ialah Nabi Musa yang menjadi musuhnya Firaun. Orang tuannya semakin kebingungan bagaimana harus menyembunyikan bayinya. Akhirnya, kedua orang tua tersebut memutuskan untuk menghanyutkan bayinya, Nabi Musa, ke Laut Merah,” papar ulama sepuh ini.

Sampailah bayi tersebut kepada istri Firaun, Asiyah.

Ia meminta Firaun agar setuju untuk merawat, dan melarang Firaun menyakitinya. Karena bayi tersebut ditemukan di laut, maka jika Firaun menyakitinya maka ia akan tenggelam di laut.

Di masa kenabiannya, Nabi Musa mulai menyebarkan agama Islam hingga berhasil mendapat umat setara dengan 12 wilayah dalam satu negara.

Nabi beserta umatnya berniat untuk pergi ke Laut Merah untuk menyelamatkan diri dari kejaran Firaun yang ingin membunuh mereka.

Dengan bantuan Iblis, Firaun berhasil mengetahui keberadaan Nabi Musa.

”Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukul tongkatnya ke laut sebanyak 12 kali. Maka muncullah jembatan yang dapat dilewati kaum Nabi Musa, dan menenggelamkan prajurit Firaun,” tegas Kiai Chusaini.

Melihat kejadian tersebut, Firaun hendak mengucapkan kalimat taubatnya, aamantu (saya beriman) namun tidak diteruskan hingga Annahu Laailaaha illaa Banii Israail wa Ana Minal Muslimin.

Allah SWT memasukkan air dan pasir ke mulutnya, sehingga ia tidak bisa meneruskan kalimat tersebut.

Karena Malaikat Jibril tidak rela jika Firaun menjadi muslim, sesuai dengan perjanjian awal.

Di mana ia menolak keselamatan dari Allah SWT.

”Maka Allah SWT menyelamatkan jasad Firaun tanpa keimannnya agar kaum muslimin tidak melupakan sejarah, ” pungkas pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto ini. (wilda mifta)

 

Editor : Moch. Chariris
#Allah SWT #nabi musa #firaun