Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Pesantren Tertua di Mojokerto, As-Sholichiyah Didirikan Kiai Muhammad Sholeh Ilyas Tahun 1975

Moch. Chariris • Sabtu, 23 Maret 2024 | 03:53 WIB
BERSEJARAH: Pondok Pesantren As-Sholichiyah adalah pesantren pertama dan tertua di Mojokerto. (foto: Radar Mojokerto)
BERSEJARAH: Pondok Pesantren As-Sholichiyah adalah pesantren pertama dan tertua di Mojokerto. (foto: Radar Mojokerto)

RADARMOJOKERTO – Peradaban Islam di Nusantara dibawa pedangang dari Timur Tengah.

Saat itu Nusantara masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit yang mayoritas masyarakatnya menganut agama Hindu–Buddha.

BERZIARAH: Peziarah sedang berdoa di kompleks pemakaman muassis Pondok Pesantren As-Sholichiyah di Penarip Gang 2, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. (foto: Bryan Noer for Radar Mojokerto)
BERZIARAH: Peziarah sedang berdoa di kompleks pemakaman muassis Pondok Pesantren As-Sholichiyah di Penarip Gang 2, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. (foto: Bryan Noer for Radar Mojokerto)

Penyebaran agama Islam di Nusantara tidak lepas dari peran para walisongo dan ulama terdahulu.

Salah satu bukti adanya penyebaran agama Islam di Nusantara karena adanya pondok pesantren (ponpes).

Pondok Pesantren As-Sholichiyah di Jalan Penarip Gang II, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

Pesantren ini menjadi bukti sejarah peradaban Islam di Mojokerto dan mengawali tersebarnya posantren di wilayah lainnya.

Pesantren ini didirikan oleh Kiai Muhammad Sholeh Ilyas.

Mochammad Ilyasin, 26, pengurus Pondok Pesantren As-Sholichiyah menuturkan, Kiai Muhammad Sholeh lahir di Kesesi, Pekalongan, Jawa Tengah.

Kiai Muhammad Sholeh hijrah ke Mojokerto tahun 1870 ketika berusia 60 tahun.

Sebelumnya, Kiai Muhammad Sholeh pernah menimba ilmu pada Kiai Asron di Indramayu, Jawa Barat.

Setelah nyantri di Kiai Asron, kemudian Kiai Muhammad Sholeh sempat menimba ilmu kepada Kiai Khozin Siwalan di Japanan, Porong, Sidoarjo.

”Setelah puluhan tahun menimba ilmu, Kiai Sholeh datang ke Mojokerto, dan menikah dengan sepupu dari istri KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pesanteren Tebuireng, Jombang,” ungkapnya, Kamis (21/3).

Perjalanan Dakwah Kiai Muhammad Sholeh di Mojokerto tidak berjalan dengan mudah.

Masyarakat sekitar saat itu masih sangat sulit menerima ajakan untuk salat maupun mengaji.

Sehingga Kiai Muhammad Sholeh memutuskan berpindah-pindah tempat untuk menyiarkan agama melalui berdakwah.

Awal hijrah ke Mojokerto Kiai Muhammad Sholeh sempat tinggal di Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.

Di sana ia mendirikan musala dan menjalankan kegiatan dakwah Islam.

Musala tersebut kini berubah menjadi Masjid Al Mubarok di Jalan Riyanto, Prajurit Kulon.

Setelah berjalan dua tahun berdakwah, Kiai Muhammad Sholeh menemui jalan buntu karena masyarakat belum sepenuhnya menerima ajaran agama Islam.

Dari hal tersebut, Kiai Muhammad Sholeh lantas meminta petunjuk kepada Allah SWT dan memutuskan pindah ke Lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan.

Saat di daerah tersebut Kiai Muhammad Sholeh menghadapi masalah yang serupa saat bermukim di Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon.

Akhirnya, beliau berpindah lagi ke Lingkungan Penarip, Kelurahan/Kecamatan Kranggan.

Di daerah tersebut dakwah Kiai Muhammad Sholeh berjalan mulus dan masyarakat menyambut baik kedatangan Kiai Muhammad Sholeh.

Bahkan banyak anak-anak dari luar daerah yang menimba ilmu di Kiai Muhammad Sholeh.

Tahun 1875, Kiai Muhammad Sholeh kemudian mendirikan Pondok Pesantren As-Sholichiyah, tak lain pesantren pertama dan tertua di Mojokerto.

Gus Yasin menambahkan, Pondok Pesantren As-Sholichiyah banyak melahirkan kiai yang mashur. Salah satunya, KH Achyat Chalimy, pendiri Pesantren Sabilul Muttaqin Kota Mojokerto.

”Kiai Sholeh wafat di usia 135 tahun. Setelah beliau wafat, pesantren tersebut diteruskan oleh keturunannya,” jelasnya.

Sebagai pesantren tertua di Mojokerto, As-Sholichiyah memiliki bukti peninggalan sejarah yang dirawat hingga saat ini.

Di antaranya Alquran berusia kurang lebih 200 hingga 300 tahun.

”Kertas yang dibuat untuk menulis Alquran berasal dari bahan terbaik, yakni dari kulit hewan dan kulit pohon,” imbuhnya.

Selama bulan Ramadan, Pondok Pesantren As-Sholichiyah melaksanakan kegiatan.

Mulai dari pengajian rutin seusai salat.

Baca Juga: Curi ATV, Remaja Asal Kota Mojokerto Divonis Pembinaan 6 Bulan

Pengajian tersebut dipusatkan di musala, pesantren, dan masjid.

Santri di pesantren ini berasal dari berbagai daerah.

Seperti Dawarblandong, Gresik, Lamongan, Jombang hingga Balikpapan, Kalimantan Timur. (zukria amelia)

Editor : Moch. Chariris
#pesantren #kiai #mojokerto