Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Pesanan Rambak Mojokerto Melonjak Selama Ramadan, Jadi Buruan Kudapan Khas Lebaran

Moch. Chariris • Sabtu, 23 Maret 2024 | 03:15 WIB
PENGOLAHAN: Proses perebusan kulit sapi untuk dijadikan krecek rambak di Desa/Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Mojokerto)
PENGOLAHAN: Proses perebusan kulit sapi untuk dijadikan krecek rambak di Desa/Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Mojokerto)

RADARMOJOKERTO - Berbagai persiapan Hari Raya Idul Fitri mulai dilakukan umat muslim.

Salah satunya dengan menyiapkan kudapan khas Hari Raya.

DIBURU: Pengunjung mengamati produk rambak di Desa/Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto yang diburu ketika bulan Ramadan. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Mojokerto)
DIBURU: Pengunjung mengamati produk rambak di Desa/Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto yang diburu ketika bulan Ramadan. (foto: Misbakhul Ulum for Radar Mojokerto)

Di antaranya, kerupuk rambak yang terbuat dari kulit sapi.

Popularitas kerupuk rambak belakangan dimanfaatkan menjadi peluang bisnis bagi perajin rambak sapi.

Salah satunya, Sampiyono, warga Desa/Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

HIDANGAN KHAS: Kerupuk rambak kotak salah satu jenis rambak yang digemari selama Lebaran. (foto ilustrasi, Internet)
HIDANGAN KHAS: Kerupuk rambak kotak salah satu jenis rambak yang digemari selama Lebaran. (foto ilustrasi, Internet)

Perajin kerupuk rambak ini sudah berkecimpung menekuni usaha rambak sejak tahun 2003 silam.

Di lahan berukuran 3 ribu meter persegi ini, ia gunakan sebagai tempat produksi rambak sapi.

Mujari, 45, salah satu karyawan Sampiyono menjelaskan, proses pembuatan kerupuk rambak diawali dengan perendaman kulit sapi mengggunakan air apu atau batu kapur.

Dilanjutkan dengan pengeringan, pemotongan, pemberian bumbu, hingga penggorengan.

Dengan dibantu sekitar 50 karyawan lainnya, dalam satu kali produksi di hari biasa mampu mencapai 5 ton krecek atau kerupuk rambak.

”Di hari biasa kami dapat produksi sebanyak 5 ton. Sedangkan saat bulan puasa hingga menjelang Lebaran, pesanan melonjak hingga dua kali lipat. Satu kali produksi bisa mencapai 10 ton krecek rambak,” tuturnya, Jumat (22/3).

Selama ini, bahan baku yang digunakan untuk usaha rambak Sampiyono menggunakan kulit sapi lokal dan impor.

Kulit sapi lokal diperoleh dari mitra kerjanya di daerah Magetan dan Purwosari. Sedangkan kulit sapi impor dari India, China, Nepal, serta Korea.

”Tidak ada yang membedakan dari kulit sapi lokal dan impor. Rasanya tetap sama karena bumbu yang digunakan sama,” imbuh Mujari.

Kerupuk rambak Sampiyono ini dibanderol dengan harga bervariatif.

Tergantung jenis dan ukuran rambak.

Kerupuk rambak stik mi yang dipotong tipis memanjang dijual Rp 85 ribu per kilogram (kg), kerupuk rambak stik lebar Rp 87 ribu, serta kerupuk rambak kotak dijual Rp 90 ribu per kg.

Sujari mengungkapkan, kerupuk rambak ini dipasarkan melalui offline dan online.

Pihaknya tidak hanya mengirimkan kerupuk rambak ke seluruh Indonesia, namun juga ke luar negeri.

Seperti China dan Korea.

Baca Juga: Bayi Laki-Laki Malang Ditelantarkan di Depan Rumah Warga Pungging Mojokerto

Sedangkan, lanjut Mujari, kendala yang kerap dialami selama masa produksi ialah cuaca yang tidak menentu.

Pasalnya, ketika cuaca panas dibutuhkan 2 hingga 4 hari untuk menjemur krecek rambak.

”Ketika musim penghujan proses pengeringan akan lebih lama. Dua minggu belum bisa produksi,” pungkasnya. (wilda mifta)

 

Editor : Moch. Chariris
#kerupuk #lebaran #rambak