RADARMOJOKERTO - Berbagai persiapan Hari Raya Idul Fitri mulai dilakukan umat muslim.
Salah satunya dengan menyiapkan kudapan khas Hari Raya.
Di antaranya, kerupuk rambak yang terbuat dari kulit sapi.
Popularitas kerupuk rambak belakangan dimanfaatkan menjadi peluang bisnis bagi perajin rambak sapi.
Salah satunya, Sampiyono, warga Desa/Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.
Perajin kerupuk rambak ini sudah berkecimpung menekuni usaha rambak sejak tahun 2003 silam.
Di lahan berukuran 3 ribu meter persegi ini, ia gunakan sebagai tempat produksi rambak sapi.
Mujari, 45, salah satu karyawan Sampiyono menjelaskan, proses pembuatan kerupuk rambak diawali dengan perendaman kulit sapi mengggunakan air apu atau batu kapur.
Dilanjutkan dengan pengeringan, pemotongan, pemberian bumbu, hingga penggorengan.
Dengan dibantu sekitar 50 karyawan lainnya, dalam satu kali produksi di hari biasa mampu mencapai 5 ton krecek atau kerupuk rambak.
”Di hari biasa kami dapat produksi sebanyak 5 ton. Sedangkan saat bulan puasa hingga menjelang Lebaran, pesanan melonjak hingga dua kali lipat. Satu kali produksi bisa mencapai 10 ton krecek rambak,” tuturnya, Jumat (22/3).
Selama ini, bahan baku yang digunakan untuk usaha rambak Sampiyono menggunakan kulit sapi lokal dan impor.
Kulit sapi lokal diperoleh dari mitra kerjanya di daerah Magetan dan Purwosari. Sedangkan kulit sapi impor dari India, China, Nepal, serta Korea.
”Tidak ada yang membedakan dari kulit sapi lokal dan impor. Rasanya tetap sama karena bumbu yang digunakan sama,” imbuh Mujari.
Kerupuk rambak Sampiyono ini dibanderol dengan harga bervariatif.
Tergantung jenis dan ukuran rambak.
Kerupuk rambak stik mi yang dipotong tipis memanjang dijual Rp 85 ribu per kilogram (kg), kerupuk rambak stik lebar Rp 87 ribu, serta kerupuk rambak kotak dijual Rp 90 ribu per kg.
Sujari mengungkapkan, kerupuk rambak ini dipasarkan melalui offline dan online.
Pihaknya tidak hanya mengirimkan kerupuk rambak ke seluruh Indonesia, namun juga ke luar negeri.
Seperti China dan Korea.
Baca Juga: Bayi Laki-Laki Malang Ditelantarkan di Depan Rumah Warga Pungging Mojokerto
Sedangkan, lanjut Mujari, kendala yang kerap dialami selama masa produksi ialah cuaca yang tidak menentu.
Pasalnya, ketika cuaca panas dibutuhkan 2 hingga 4 hari untuk menjemur krecek rambak.
”Ketika musim penghujan proses pengeringan akan lebih lama. Dua minggu belum bisa produksi,” pungkasnya. (wilda mifta)
Editor : Moch. Chariris