RADARMOJOKERTO - Introspeksi diri atau muhasabah merupakan proses evaluasi dan refleksi yang membuat seorang muslim memahami apa yang harus diperbaiki.
Gus Sa’dullah Syarofi atau akrab disapa Gus Dullah, menuturkan, yang perlu diketahui dalam muhasabah diri ialah kebagusan dan potensi kerusakan hati.
”Di dalam kitab Nashaikhul Ibad disebutkan, ada enam perkara yang merusak hati (fasadal qulub),” ujarnya.
Menurut Gus Dullah, penggunaan kata jamak qulub (banyak hati) dimaksudkan karena kotornya satu hati dapat menular ke hati yang lain.
”Seperti halnya air yang terkena najis, maka seluruh air di satu tempat tersebut akan menjadi najis,” terangnya saat menghadiri peringatan bulan Rajab di Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.
Di antara enam perkara yang dapat merusak hati tersebut, kata dia, dalam kehidupan acap kali dimaklumi sebagai kesalahan kecil.
Padahal, tindakan seperti ini justru akan menimbulkan masalah bagi lingkungan.
Akan tetapi, seseorang tersebut merasa hal tersebut normal dilakukan.
Dapat dicontohkan dengan ketidakbijakan meletakkan barang yang bukan pada tempatnya.
Sehingga hal ini akan menimbulkan ketersinggungan bagi orang di sekitarnya.
Serta berpotensi ditiru dan menulari yang lain.
Sifat tidak peka ini, lanjut dia, mengandung kerusakan hati yang berada di level berikutnya.
”Jika seseorang sudah berada di tahap paling dasar kerusakan hati, maka Allah SWT akan meningkatkan derajat kerusakannya,” imbuhnya.
Kedua, sifat malas atau mampu melakukan banyak hal, namun enggan untuk bertindak.
Orang dengan sifat ini telah memiliki ilmu mengenai suatu hal, namun ia sama sekali tidak berkeinginan untuk berbuat.
Sifat ini tergolong perilaku yang berbahaya, karena dapat menyebabkan kemalasan structural.
Yakni, selalu mencari kesempatan.
Seperti halnya sikap menunda-nunda pekerjaan, serta bolos belajar di sekolah atau pesantren.
”Sikap malas ini jika tidak segera diberantas, maka akan ditambah Allah SWT dengan kerusakan hati lainnya,” paparnya.
Ketiga, rasa pamrih ketika melakukan sesuatu.
Jika seseorang yang malas berniat melakukan sesuatu, maka niatnya tidak lepas dari rasa pamrih.
Gus Dullah menjelaskan, seseorang dengan sifat ini akan mendahulukun rasa pamrihnya daripada baktinya di tengah masyarakat.
Keempat, sifat mengeluh, maksudnya, jelas dia, orang yang memiliki sifat ini selalu merasa tidak pernah cukup atas rahmat yang telah diberikan Allah SWT.
Ia akan melihat kekurangan yang diterima, dan selalu memandang apa pun dalam dirinya dengan rendah.
Sedangkan memandang yang dimiliki orang lain dengan sangat istimewa.
”Orang yang hanya menghitung apa yang tidak dia peroleh dari Allah SWT, maka dia tidak akan menyadari seberapa banyak rahmat yang telah Allah berikan,” terang Gus Dullah.
Kelima, maido atau mencela.
Satu level di bawah level teratas penyakit hati.
Gus Dullah menjelaskan penyakit ke lima ini merupakan penyakit kronis.
Sebab, jika sudah ditahap ini seseorang pasti membawa empat penyakit lainnya.
Penyakit hati yang terakhir adalah sifat keras kepala.
Sifat ini membuat seseorang enggan untuk belajar dari kesalahan terdahulu.
Ia tidak mau menerima nasihat karena merasa apa yang dilakukan sudah benar.
”Oleh sebab itu orang-orang yang mau bermuhasabah dianggap sebagai orang yang meyakini kesempurnaan Allah SWT,” pungkas putra KH Chusaini Ilyas, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto ini. (wilda mifta)
Editor : Moch. Chariris