Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Gus Dullah: Masuk Surga tanpa Hisab, dengan Menjaga Empat Jenis Mutiara dari Surga

Moch. Chariris • Jumat, 15 Maret 2024 | 03:44 WIB
TOKOH AGAMA: Wakil Ketua Tanfidziyah PC NU Kabupaten Mojokerto Gus Dullah saat memberikan tausiyah agama. (foto: Internet)
TOKOH AGAMA: Wakil Ketua Tanfidziyah PC NU Kabupaten Mojokerto Gus Dullah saat memberikan tausiyah agama. (foto: Internet)

RADARMOJOKERTO - Bulan Ramadan menjadi momen bagi umat Islam untuk berlomba-lomba menjalankan ibadah.

Namun, banyak dari mereka yang tidak menyadari amal ibadah mana yang diterima dan yang ditolak oleh Allah SWT.

BERKHARISMA: Gus Dullah, Putra Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto, KH Chusaini Ilyas. (foto: Internet)
BERKHARISMA: Gus Dullah, Putra Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto, KH Chusaini Ilyas. (foto: Internet)

Sa’dullah Syarofi atau yang akrab disapa Gus Dullah menuturkan, banyak di antara umat Nabi Muhammad SAW yang menjalakan ibadah, namun tak ada catatan pahala baginya. 

”Dalam hadis Nabi disebutkan, banyak umatnya yang menjalankan ibadah puasa, namun yang didapat hanya lapar dan dahaga,” jelas Gus Dullah saat menghadiri pengajian di Desa Berbek, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Putra pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Karangnongko, Mojoranu, Sooko, Mojokerto, Kiai Chusaini Ilyas ini menerangkan, terdapat empat mutiara surga yang diberikan kepada setiap anak cucu Nabi Adam AS.

Mutiara tersebut sebagai tanda dari surga untuk mengenal penduduknya ketika hari akhir nanti.

Terlebih, seseorang yang mampu menjaganya akan masuk surga tanpa melalui hisab atau perhitungan.

Adapun empat Mutiara tersebut, lanjut wakil tanfizdiyah PC NU Kabupaten Mojokerto ini adalah al-aqlu, ad-dinu, al-haya, serta al-amalussalih.

Al-aqlu berarti akal yang merupakan kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk.

Akal diberikan sebagai kelebihan dan kemuliaan manusia dibanding dengan makhluk Allah yang lain.

Akan tetapi, hanya dengan memiliki kemampuan ini, masih belum cukup bagi manusia untuk dapat menghuni surga.

Kedua, ad-dinu yang artinya agama.

Namun, di sini ad-dinu lebih dimaksudkan kepada aturan yang membuat seseorang memiliki kecenderungan untuk memilih yang baik ketimbang yang buruk.

Ketiga, al-haya yang artinya memiliki rasa malu.

Maksudnya, kata Gus Dullah, seseorang yang akan mempertimbangkan dahulu sebelum melakukan sesuatu.

Apakah sesuatu yang dilakukannya kan menjadi sumber masalah atau tidak.

Selain itu, sikap al-haya ini juga mempertimbangkan kemanfaatan bagi orang lain dari apa yang ia lakukan.

”Sama halnya dengan seseorang yang melakukan salat sepanjang hidupnya, tanpa bekerja. Dengan tujuan untuk mendapat belas kasih orang lain,” terangnya.

Sehingga hal tersebut, tegas Gus Dullah tidak mendatangkan maslahah bagi orang lain. ’Karena dia memiliki tujuan untuk kepentingan diri sendiri,” tambahnya.

Keempat, al-amlasussalih, yakni perbuatan baik.

Gus Dullah memaknai amalussalih sebagai keniscayaan.

Diterangkannya, jika ketiga mutiara di atas dimiliki dan dipertahankan seseorang, maka jalan selanjutnya, apa pun yang ia lakukan niscaya akan dinilai ibadah oleh Allah SWT.

”Ketika seseorang telah mencapai tahapan ini, dapat dipastikan bahwa ia telah mempertimbangkan perbuatannya dengan akal, aturan, serta rasa malu. Maka sesuatu yang dilakukannya meskipun bukan ibadah akan diganjar oleh Alllah sebagai ibadah,”paparnya.

Layaknya Nabi Muhammad SAW yang berhasil mempertahankan empat mutiara surga hingga akhir hayatnya.

Maka, segala aktivitasnya telah diganjar pahala oleh Allah SWT.

Sebab, semua yang dilakukan Nabi Muhammad tidak pernah menjadi masalah, serta bermanfaat bagi umatnya. (wilda mifta)

 

Editor : Moch. Chariris
#amal #hisab #mutiara #surga #ibadah