RADARMOJOKERTO - Di bulan Ramadan ini, tempe menjadi salah satu pilihan lauk untuk sahur dan berbuka.
Karena proses pengolahan simpel, mudah dan cepat.
Pada umunya tempe berbentuk kotak atau lonjong, dibungkus dengan plastik hingga daun pisang.
Namun, saat ini perajin tempe membuat beragam inovasi.
Tempe dibuat dengan bentuk yang unik dan menarik.
Salah satunya dilakukan, Nastain, 35, perajin tempe asal Lingkungan Randegan, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.
Bersama kakaknya, Indra Ambarwati, dia mengkreasikan tempe dengan berbagai bentuk karakter emoji. Yakni, berupa potangan love dan smile.
Ini dilakukan untuk menambah nilai jual dan menyesuaikan selera konsumen.
”Mulanya banyak pelanggan yang mengeluh anaknya kian bosan mengonsumsi tempe. Jadi, dibuatlah tempe karakter ini juga untuk meningkatkan mood anak-anak saat mengonsumsinya,” kata Natain, ditemui di rumahnya.
Dia menjelaskan, tempe karakter tersebut hanya diproduksi untuk pesanan.
Ia tidak menyiapkan stok, akibat proses pembusukan tempe yang cepat.
”Selama ini saya hanya menerima pesanan online area kota saja, karena takut akan berubah rasa dan kualitas tempenya saat proses pengiriman,” imbuhnya.
Pembuatan tempe karakter pun sama seperti dengan tempe pada umumnya.
Hanya saja, tempe jenis ini menggunakan cetakan khusus.
Seperti tempe smile dicetak menggunakan pipa sepanjang 20 sentimeter dan berdiameter 7,5 cm.
Kemudian dilubangi dua kayu dan bambu untuk membentuk mata dan mulut.
Sedangkan tempe love dicetak menggunakan mika plastik dimodifikasi menjadi bentuk hati.
Harga yang dipatok untuk satu bungkus tempe smile hanya Rp 12 ribu.
Sedangkan tempe love Rp 5 ribu.
Nastain dapat menerima pesanan sebanyak empat hingga lima kali per minggu.
”Biasanya pesanan yang datang berjumlah kecil, untuk porsi makan keluarga,” ungkapnya.
Pelanggan tempe karakter berasal dari kalangan ibu rumah tangga yang ingin meningkatkan nafsu makan anak.
Nastain mengaku ke depan, dirinya berencana mengembangkan bentuk karakter tempe agar semakin beragam dan diminati.
”Saat ini masih belajar membuat karakter lain,” tandasnya. (wilda mifta)
Editor : Moch. Chariris