Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Nasib Toko Buku di Kota Mojokerto, Nyaris Punah, Kini Tersisa Tiga Pedagang

Moch. Chariris • Kamis, 11 Januari 2024 | 02:04 WIB
TURUN DRASTIS: Pembeli mengamati tumpukan buku yang dijual Yosef, di Jalan Niaga, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Rabu (10/1). (foto: Afi for Radar Mojokerto)
TURUN DRASTIS: Pembeli mengamati tumpukan buku yang dijual Yosef, di Jalan Niaga, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Rabu (10/1). (foto: Afi for Radar Mojokerto)

RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM - Jalan Niaga di tengah Kota Mojokerto dulu identik dengan deretan pertokoan buku yang lengkap, murah, dan ekonomis. Dari buku pelajaran, ilmiah, fiksi, cerpen, kamus, majalah, poster, hingga kitab suci. Namun, kondisi tersebut berubah 180 derajat. Seiring berkembangnya zaman dan era digitalisasi. Hanya tiga pedagang yang masih bertahan.

Satu dari tiga pemilik toko yang masih bertahan itu adalah Yosef Tri Andrias. Pria 43 tahun ini sudah menekuni penjualan buku di Jalan Niaga sejak tahun 1996 silam. Ia menjual berbagai jenis buku bacaan. Mulai dari pelajaran sekolah, umum, cerpen, novel, kalender, dan fiksi.

MELAYANI: Yosef mengambilkan buku yang dicari pembeli di tokonya, Jalan Niaga, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Rabu (10/1). (foto: Wilda for Radar Mojokerto)
MELAYANI: Yosef mengambilkan buku yang dicari pembeli di tokonya, Jalan Niaga, Kelurahan Sentanan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Rabu (10/1). (foto: Wilda for Radar Mojokerto)

Harga yang ditawarkan pun beragam. Mulai dari Rp 2 ribu untuk poster, Rp 5 ribu hingga 10 ribu untuk kalender, Rp 5 ribu hingga Rp 150 ribu untuk buku umum dan kitab suci Alquran. Yosef menceritakan, usaha yang dirintisnya selama 28 tahun tersebut memang tidak seramai tahun 1990-an lalu. Kala itu, Yosef memperkirakan jumlah pedagang buku, baik yang menempati pertokoan maupun membuka lapak di trotoar, jumlahnya mencapai puluhan pedagang. 

Namun, belakangan tak sedikit penjual buku memilih menutup lapak dan stan mereka karena dinilai melanggar ketertiban umum. Menjual di kawasan fasilitas umum. Seperti di trotoar hingga memakan bahu jalan.

Terlebih, akses jalan pernigaan penghubung Jalan Majapahit dan PB Sudirman ini, memang tak selebar jalan-jalan protokol pada umumnya. ”Banyak penjual buku yang pindah. Yang boleh jualan di sini (Jalan Niaga) hanya warga di sini saja,” paparnya, Rabu (10/1).

Sedangkan dari sisi pembeli, Yosef menduga minat pembeli buku sudah beralih ke marketplace dan buku elektronik. Dimana sistem digitalisasi keduanya dinilai memudahkan pembeli memburu dan menemukan buku yang diinginkan, tanpa perlu datang ke toko.

Di samping itu, turunnya literasi di kalangan generasi milenial dan Z turut berimbas terhadap pendapatan mereka. ”Peminat buku di sini juga sudah turun sejak Covid- 19, karena mereka lebih suka beli dan baca online,” imbuhnya.

Minimnya peminat buku tersebut menjadi faktor menurunnya penjualan. Yosef menuturkan omzet yang diperoleh sebelum dan sesudah Covid perbedaanya cukup signifikan. Jika sebelumnya masih ramai pembeli, dalam sehari ia mampu meraup omzet Rp 500 ribu per hari. Namun, saat ini pendapatan Rp 250 ribu atau separonya dinilai sudah cukup baik.

Agar tokonya tetap eksis, dan penjualannya kembali pulih, Yosef berinisiatif menjual secara online dan offline. Salah satunya menawarkan melalui website dan mempromosikan di platform media sosial. ”Buku-buku ini saya foto kemudian saya upload di website. Lumayan ada peningkatan,” tandasnya. (wilda mifta)

Editor : Moch. Chariris
#legendaris #toko buku #pedagang