Kamis, 25 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Riwayat Museum OVM Trowulan Jadi Cikal Bakal PIM

21 Maret 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Museum Trowulan, Kabupaten Mojokerto pada tahun 1931.

Museum Trowulan, Kabupaten Mojokerto pada tahun 1931. (Koleksi Ayuhanafiq for radarmojokerto.id)

Berawal dari keprihatinan tidak terawatnya benda cagar budaya (BCB), ada seorang yang berjasa di balik pendirian Museum Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Adalah Henri Mclaine Pont, warga kebangsaan Belanda.

Pria itu merupakan arsitek pembangunan sekaligus arkeolog yang mengumpulkan dan mempelajari temuan BCB di bekas tanah Kerajaan Majapahit.

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, Henri McLaine Pont adalah sosok yang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Pusat Informasi Majapahit (PIM) atau yang dikenal dengan Museum Majapahit Trowulan saat ini. Jauh sebelum PIM dibangun, pria asal Belanda tersebut membuat rancangan bangunan yang difungsikan sebagai Museum Trowulan.

Para pelajar sedang belajar BCB di Museum Trowulan.

Para pelajar sedang belajar BCB di Museum Trowulan. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

”Lokasi bangunannya dulu terletak di Jalan Raya Trowulan,” paparnya. Proses pembangunan dimulai sekitar tahun 1929. Rancangan arsitektur McLaine Pont tergolong unik. Pasalnya, desain degung dipadukan dengan unsur peradaban masa Majapahit dengan material bangunan yang disesuaikan.

Oleh karena itu, bahan yang digunakan didominasi kayu. Selain itu, bangunan dibuat dengan kubah tinggi beratap sirap. ”Pembangunan dapat diselesaikan sekitar dua tahun,” ungkapnya. Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, pembangunan museum itu berawal dari keperihatinan McLaine Pont terhadap terbengkalainya BCB.

Khususnya benda bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. Selain sebagai arsitek, lulusan Universitas Delf Belanda ini juga dikenal sebagai seorang arkeolog yang bekerja di Oudheidkundige Vereeneging Majapahit (OVM). OVM atau asosiasi arkeolog Majapahit itu banyak menemukan BCB sebagai bahan penelitian. Namun, semua benda bersejarah itu tidak sepenuhnya tersimpan dengan aman.

”Bahkan, ada yang tercecer di beberapa tempat,” tandasnya. Antara lain, tersebar di Pendapa Kabupaten Mojokerto, Kantor Kecamatan Trawas dan Trowulan. Menurut Yuhan, keprihatinan terhadap kurang terawatnya BCB pada masa Kerajaan Majapahit itu membuat McLaine Pont ingin membangun tempat penyimpanan yang lebih baik.

Impiannya pun baru terwujud pada Jumat, 20 Mei 1931. Gedung yang dibangun selama dua tahun itu akhirnya diresmikan. Yuhan mengatakan, agenda launching saat itu cukup mendapat perhatian berbagai kalangan. Dalam kesempatan itu turut juga dihadiri Bupati Kromodjojo Adinegoro.

Bupati Mojokerto keenam tersebut tak lain merupakan rekan McLaine Pont yang sama-sama berkecimpung dalam asosiasi arkeolog Majapahit. Bahkan, sebelum museum Trowulan, Bupati Kromodjojo telah mendirikan Gedung Artja yang berada di Pendapa Kabupaten Mojokerto. Gedung Artja juga digunakan sebagai tempat penyimpanan BCB.

Namun, semakin banyaknya temuan, sebagian koleksinya dipindahkan sebelum ke Museum Trowulan. Benda-benda bernilai sejarah itu kemudian diklasifikasikan sesuai fungsinya oleh McLaine Pont. Barang yang memiliki nilai tinggi diletakkan dalam kotak kaca khusus supaya terlindungi. ”Beberapa artefak yang tercecer di berbagai tempat juga menyusul dipindahkan ke museum Trowulan itu,” terangnya.

Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini, menambahkan, bekas gedung yang dikenal sebagai Museum OVM Trowulan itu kini tak berkesan lagi. Saat ini, lokasi museum tersebut telah digunakan sebagai Kantor Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan.

Kendati demikian, museum OVM menjadi cikal bakal berdirinya PIM atau Museum Majapahit yang didirikan di dekat situs Kolam Segaran, Kecamatan Trowulan. Sebagian koleksinya juga hingga kini masih tersimpan dan terawat dengan baik di dalamnya.

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia