Jumat, 19 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Hukum & Kriminal

Diganjar 7 Tahun, Pasangan Terdakwa Kasus Aborsi Teteskan Air Mata

19 Maret 2019, 19: 20: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Terdakwa Dimas Sabhra Listianto saat mendengarkan pembacaan putusan majelis hakim PN Mojokerto.

Terdakwa Dimas Sabhra Listianto saat mendengarkan pembacaan putusan majelis hakim PN Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto/id)

MOJOKERTO – Raut muka dua remaja itu nampak lusuh. Tatapannya sama-sama kosong. Sesekali, mereka saling menatap. Sepertinya, sama-sama merasakan penyesalan yang luar biasa.

Meski duduknya tak berdampingan, terkadang pasangan itu saling memandang. Seakan saling memberikan kekuatan satu sama lain. Keduanya adalah Dimas Sabhra Listianto, 21, dan Cicik Rocmatul Hidayati, 21. Terdakwa aborsi yang disimpan di jok motornya itu pertengahan Agustus 2018 lalu, akhirnya menjalani puncak persidangan di Pengadilan Negeri Mojokerto, Senin (18/3).

Mereka masing-masing diganjar majelis hakim dengan hukuman penjara selama 7 tahun. Selain hukuman 7 tahun, ketua majelis hakim Hendra Hutabarat, SH juga menjatuhkan denda sebesar Rp 1 miliar subsider kurungan penjara selama 1 bulan.

Terdakwa Cicik Rocmatul Hidayati saat mendengarkan pembacaan putusan hakim.

Terdakwa Cicik Rocmatul Hidayati saat mendengarkan pembacaan putusan hakim. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

Hukuman ini dinilai adil lantaran kedua terdakwa terbukti melanggar pasal 80 ayat (3), ayat (4) juncto pasal 76 huruf C UU Nomor 17 Tahun 2016, tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016, tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Selama proses pembacaan putusan kemarin, suasana persidangan yang berlangsung di ruang Candra itu berlangsung sangat tegang. Orang tua terdakwa dan keluarga yang memenuhi ruang sidang untuk menyaksikan hukuman yang akan dijalani kedua remaja ini. Mereka seakan tertunduk malu dan merasakan kesedihan, hingga tak sedikit yang berlinang air mata.

Putusan yang dijatuhkan oleh majelis hakim kali ini, jauh lebih rendah dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). JPU pidana penjara 10 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider selama 3 bulan. Ketua majelis hakim, Hendra Hutabarat, mengatakan, putusan yang dijatuhkan sudah sangat tepat.

Pasalnya, terdapat sejumlah pertimbangan. ’’Seharusnya orang tua harus melindungi anaknya hingga dewasa kelak,’’ ungkapnya. Namun, pada kenyataannya, terdakwa telah terbukti bersalah yakni telah melakukan tindak pidana, yakni menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak hingga anak meninggal dunia.

’’Untuk 7 tahun itu sudah tepat,’’ katanya setelah keluar dari ruang sidang. Terpisah, kuasa hukum terdakwa, Kholil Askohar, menegaskan, terdakwa berencana banding atas putusan tersebut. ’’Kita menghormati putusan majelis hakim itu. Untuk banding kami akan memusyawarahkan dulu dengan keluarga Dimas dan Cicik,’’ tuturnya.

JPU Kejari Mojokerto, Kusuma Wardani, tak banyak berkomentar. Ia pun menyatakan pikir-pikir atas putusan tersebut. ’’Kami pikir-pikir dulu. Karena harus melaporkan hal ini ke atasan kami,’’ kata dia.

Sementara itu, ayah terdakwa Cicik, Mohammad Mansyur, mengatakan, dirinya sebagai orang tua hanya bisa pasrah atas putusan yang diambil oleh majelis hakim. ’’Ya kami sabar ajalah atas keputusan hakim,’’ ujarnya.

Sekadar diketahui, Dimas Sabhra Listianto dan Cicik Rochmatul Hidayati sebelumnya diamankan anggota Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Mojokerto, 14 Agustus 2018 silam. Ia diduga melakukan aborsi bayi hasil hubungan gelapnya.

Setelah berusaha mencari cara mengaborsi bayi dalam kandungan, keduanya mendapat obat untuk penggugur kadungan. Obat bermerek Gastrul yang didapatnya dari bidan bernama Nur Saadah Utami Pratiwi, 25, di wilayah Provinsi Aceh.

Usai mendapatkan obat, keduanya merencanakan tempat aborsi dan memilih sebuah vila di kawasan Pacet. Agar tak diketahui orang lain, bayi itu masukkan ke bagasi motor Yamaha NMAX warna merah nopol W 3192 AT.

Mereka menuju ke puskesmas Kecamatan Mojoanyar. Sampai di puskesmas, kondisi bayi kritis akibat terlalu lama berada di bagasi motor. Petugas puskesmas pun merujuknya ke RS Gatoel di Kota Mojokerto. Namun, sampai di rumah sakit, dokter menyatakan nyawa bayi tersebut tidak bisa ditolong. (ras)

(mj/ron/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia