Rabu, 24 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Hubungan Lintas Agama di Mojokerto Berlangsung Harmonis

04 Maret 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (jawapos.com for radar mojokerto)

MOJOKERTO – Ketua PC NU Kabupaten Mojokerto KH Adzim Alawy mengapresiasi keputusan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Banjar, Jawa Barat (Jabar). Di mana, organisasi Islam terbesar di Indonesia itu telah merekomendasikan tidak lagi istilah penyebut kafir kepada warga nonmuslim.

Menurut Kiai Adzim, penyebutakan kafir pada sesama anak bangsa adalah hal tidak tepat. Sehingga penyebutan kafir diganti dengan kata warga negara sudah tepat. Tidak hanya itu, lanjut Kiai Adzim, agar umat Islam tidak lagi dengan mudah mengklaim agama lain kafir, dan harus dijauhi karena dinilai berbeda.

”Selain itu, hal ini bentuk penghormatan pada sesama warga negara, dan tumbuhlah kedamaian,’’ katanya. Meski demikian, lanjut Kiai Adzim, umat Islam harus tetap menjadikan Alquran dan hadis sebagai pondasi dalam beragama. ”Intinya, mengapa kita tidak boleh menyebut kafir, karena jika kata-kata kafir terus digaungkan di negara kita, potensinya akan mencederai persaudaraan kita sesama manusia,’’ tambanya.

Di Kabupaten Mojokerto sendiri, kata Kiai Adzim, hubungan muslim dan nonmuslim sejauh ini sudah sangat baik dan toleran. Semakin terjaga, saling menghormati, dan mendahulukan persaudaran maupun perdamaian. Sementara itu, disinggung perihal kelompok di wilayah Kabupaten Mojokerto, Kiai Adzim menjawab masih ada, namun jumlahnya tidak banyak.

”Dari hal itu, ini bentuk dakwah kami ke depannya agar kelompok yang terbiasa radikal harus kita ayomi hingga sadar,’’ harapnya.  Dia menambahkan, dalam waktu dekat PC NU akan menggelar pertemuan untuk menindaklanjuti  hasil Munas NU. ”Nanti kami tabayun bersama-sama. Kami jelaskan kepada masyarakat, bahwa mengganti kafir dengan warga negara itu sangat pas,’’ ujarnya.

Ketua PC NU Kota Mojokerto KH Sholeh Hasan mengatakan hal yang sama. Menurutnya, kesepakakan untuk tidak lagi menyebut kafir pada nonmuslim sudah sesuai. Pasalnya, tidak dipungkiri saat ini masih ada pihak yang gampang mengklaim orang lain sebagai kafir dan harus dijauhi, bahkan dimusuhi. ”Jadi, karena itu juga sudah keputusan dari ulama NU, kita harus mengikuti,’’ katanya.

Kiai Sholeh menyatakan, meminjam istilah cendikiawan Islam, Nurkholis Madjid: Non Muslim Yes, Kafir No adalah hal tepat dan tidak akan menyakiti saudara se-bangsa se-tanah air. Khusunya di Mojokerto. ”Saya rasa, menyebut nonmuslim sudah bagus, agar tetap damai,’’ jelasnya.

Kiai Sholeh meyakini, di Kota Onde-Onde, selama ini hubungan muslim dan nonmuslim sangat hangat, harmonis dan toleran. Hal itu dibuktikan seringnya kegiatan yang melibatkan lintas agama. Bahkan, lintas etnis, budaya dan keyakinan. Baik dalam acara formal maupun nonformal. ”Kami (warga NU) dan nonmuslim sering cangkruan bareng. Jadi, ya (hubungan kita) sangat baik,’’ tandasnya.

Munawar Tobing, 42, salah satu umat Kristiani mengaku senang mendengar keputusan Munas NU. Di mana, tidak akan lagi penyebutan kafir kepada warga nonmuslim. Hal itu sekaligus sebagai penanda, bahwa ke depannya toleransi dan saling menghargai satu sama lain akan semakin kuat. Tidak ada lagi perbedaan dengan memandang agama atau keyakinan.

”Tidak ada pengkotak-kotakan. Saling bersatu, dan tidak menyalahkan,’’ katanya. Dia menjelaskan, sejauh ini hubungan warga muslim dan nonmuslim di Mojokerto terjalin dengan baik. Umat Kristiani dan Islam sudah sangat harmonis dan sangat toleran. ”Saya juga sering mengikuti pengajian, dan baksos di pesantren Mojokerto. Jadi, saya rasa ya sudah baik-baik saja, hubungannya antara Kristen dan muslim,’’ paparnya. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia