Jumat, 19 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Zona Muda
Selasar

Ritual Baridin

18 Februari 2019, 01: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ilustrasi

Ilustrasi (Desain grafis Nadzir/radarmojokerto.id)

DI hari ke empat puluh satu, Baridin tidak mampu lagi membedakan antara rasa lapar dan haus, antara kantuk dan terjaga, antara duduk atau berbaring. Semua rasa dari panca indra yang dimilikinya dirasakan kosong, hampa dan suwung.

Dalam kepekatan kamarnya yang lembab selama lebih dari satu purnama sinar sang mentari pun tak diizinkannya masuk,  tak ada penerangan apapun bahkan jendela dan kisi-kisi ditutup kain hitam. Sekejap, ingatan Baridin melayang ke satu peristiwa yang menimbulkan niat kuat untuk melakukan apa yang sekarang dilakoninya.

Pagi nan cerah, sinar mentari malu-malu mengintip dintara rimbunnya pepohonan asam jawa yang banyak tumbuh disekitar areal persawahan, kicau prenjak dan lenguh kerbau menjadi melodi-melodi indah kala sang malam tergantikan tugasnya oleh bola jagat yang perlahan namun pasti semburat menerangi mayapada.

Diantara melodi-melodi alam yang berkumandang silih berganti, diantara deru sang bayu yang terus merayu dedaunan, sayup-sayup alunan seruling terdengar syahdu mendayu-dayu, dan siapapun peniup seruling itu dipastikan memiliki kemampuan yang luar biasa dari tiap tarikan napasnya, jari jemarinya nan lincah meniti rongga-rongga kosong sebatang bambu hingga tercipta alunan suara menghentak sukma.

’’Duhai, kau dengar itu, Suratminah?” tanya seorang gadis dengan kuncir buntut kuda, yang ditanya plototkan mata bulat indah, disaat senyumnya merekah lesung pipit tercipta di ke dua pipinya.

’’Kula akui dia pandai meniup seruling, sayang dia bukan tipe yang selama ini kula cari,”

’’Tipe seperti apa sih yang sira cari, Suratminah?”

’’Tentunya ganteng dan kaya dong.”

’’Jangan terlalu tinggi, kalau jatuh sakit loh,” sela teman lainnya, seorang gadis dengan kebaya kembang-kembang warna salem.

’’Betul itu, Suratminah. Kita sebagai seorang wanita lebih baik dicintai daripada mencintai.”

’’Bagaimana seandainya  kalian yang dicintai Baridin?”

’’Nggg….”

’’Nah….”

Obrolan ke tiga gadis desa itu terhenti manakala satu sosok pemuda berkulit gelap, memanggul weluku dipundaknya yang kekar berhenti tepat dihadapan gadis-gadis yang masih cekikikan, Suratminah terkesiap sedang ke dua temannya langsung menepi memberikan jalan bagi sang pemuda.

’’Senok Suratminah mau kemana?”

’’Huh…,’’ dengus sang gadis sambil melengoskan wajah kemudian berlalu meninggalkan sang pemuda yang masih terpaku di tempatnya sedang ke dua teman Suratminah hanya mampu saling pandang.

***

Baridin memiliki wajah biasa-biasa saja, sederhana dan pemalu namun berhati baik dan tulus siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya tanpa pamrih dan ikhlas menerima apapun dengan keadaan dirinya sebagai anak dari seorang janda miskin penjual telor keliling. Ayah Baridin sudah lama meninggal, tepat ketika sang ibu melahirkan dirinya.

Seharusnya sebagai seorang lelaki Baridin sudah dikatakan pantas untuk berkeluarga sebab teman-teman sebayanya sudah banyak yang memiliki istri dan anak. Namun, itulah…, kehendak takdir membuat dirinya berbeda dengan laki-laki di desanya, sampai menginjak usia kepala tiga. Baridin masih betah melajang. Hingga orang-orang sekampung menjulukinya dengan sebutan ‘Bujang Lapuk’.

Itu dulu, semanjak melihat Suratminah di sebuah pasar malam, getar-getar asmara sang bujang lapuk mulai tumbuh subur dalam hatinya. Dimalam nan sepi seperti sekarang ini Baridin merasakan kehangatan menyusup dalam relung jiwa walau sekadar angan dan hayalan yang diciptakannya sendiri bersama sang pujaan hati, Suratminah anak pak.

Dam, Juragan beras dan orang terkaya di kampung Jagapura lor. Walau sering mendapat cacian, makian dan hinaan dari sang pujaan hati namun Baridin menganggap semua itu adalah bumbu perjuangannya demi merebut simpati sang gadis.

’’Duh, senok Suratminah…, kula gandrung kapiluyung mareng awakmu, nok…,” desah Baridin sembari memeluk guling butut kesayangannya yang entah berapa abad sarung guling itu tidak pernah tersentuh air.

Sang ibu, sema Wangsih bukannya menutup mata akan kondisi Baridin anak semata wayangnya yang sedang dimabuk asmara, sebagai orang tua tentu akan mendukung buah hatinya dalam memilih pasangan hidup, tapi begitu mengetahui gadis idaman sang anak merupakan keturunan terpandang di desanya, kaya raya, wong sugih, sebagai seorang manusia biasa tentu sema Wangsih memiliki rasa ‘Nampi raos’, mawas diri, mengukur diri. 

Tapi tidak dengan pemikiran Baridin, bujang lapuk yang tengah dilanda katresnan itu tidak peduli, semakin dihina, diejek, dicaci-maki, rasa cinta Baridin semakin tumbuh subur dalam jiwa mudanya.

Sudah sering sema Wangsih menasihati putranya itu, berusaha menjodohkannya dengan gadis-gadis yang sepadan baik bibit, bebet dan bobotnya, namun Baridin tetap bersikukuh bahwa hanya Suratminah yang mampu mengobati kegaluan hatinya.

’’Duh, kacung Baridin kita ini orang miskin wong kere, kudu mawas diri,  ngaji diri,  siapa kita siapa keluarga juragan Dam.”

’’Sema Wangsih, bukankah cinta tidak kenal kasta.”

’’Kacung Baridin, niat mu ini ibarat kokok beluk merindukan bulan.”

’’Maka dari itu sema Wangsih, kula  akan berusaha meraih bulan itu dalam pelukan.”

’’Sudah kau pikirkan akibatnya, kacung?”

’’Sudah sema, kula mohon pinanglah senok Suratminah,” rengek Baridin yang tentu saja membuat ibunya, sema Wangsih begitu terkejut dengan permintaan anak semata wayangnya itu.

’’Apa tidak bisa ditawar lagi cung?”

’’Lebih baik kula mati daripada tidak kejajar pasang dengan senok Suratminah.”

Kembali sema Wangsih terkejut dengan pernyataan putranya itu.

’’Baiklah, kacung Baridin sema akan meminang Suratminah untukmu,” tandas sema Wangsih. Walau keraguan begitu sesak menyelimuti batin namun demi kebahagiaan anak terkasih seorang ibu akan rela melakukan apa saja demi tercapai cita-cita sang anak walau ditebus dengan keringat, air mata, darah dan nyawa sekalipun, begitulah tekad sema Wangsih maka setelah mempersiapkan segala sesuatunya berangkatlah sema Wangsih ke rumah juragan Dam.

***

Kumis juragan beras yang runcing di ujung itu semakin mencuat begitu mendengar pernyataan  sema Wangsih yang akan meminang Suratminah anak semata wayangnya buat dipersunting oleh Baridin, sambil berkacak pinggang orang terkaya di kampung Jagapura lor itu marah besar, menuding-nudingkan telunjuknya pada sema Wangsih yang tampak mengkeret ketakutan, puas memaki-maki berbagai seserahan berupa hasil kebun dan sawah yang seyogianya buat pinangan hancur lebur, berserakan ditendang juragan Dam.

Bukan itu saja, perlakuan yang sama pun ditunjukan oleh Suratminah anaknya yang merasa dipermalukan oleh pinangan yang ditujukan pada dirinya. Gadis ayu itu seketika berubah bengis dan kasar mengusir sema Wangsih dari rumah kediamannya yang megah.

’’Aduhh…, tidak tahu diri sekali itu orang…,” sentak juragan Dam.

’’Bener mama Dam. Masa kula harus menikah dengan wong blesak itu, kere lagi.”

’’Ya, sudahlah senok mari kita masuk, mengganggu saja.”

’’Terus bagaimana dengan barang-barang seserahan ini, mama?”

’’Suruh Wa Gober memasukannya ke dalam gudang.”

Sementara itu….

Sema Wangsih telah sampai di rumah dan langsung disambut Baridin yang merasa heran kenapa sang ibu pulang dengan berurai air mata, setelah menenangkan diri sejenak Sema Wangsih menceritakan apa yang telah dialaminya.

’’Keterlaluan, memaki dan menghina seenaknya tapi seserahan tetap diambil, kurang ajar.” Sungut Baridin kemudian bangkit dari duduknya.

’’Mau kemana cung Baridin?”

’’Kula akan memberi pelajaran pada juragan kaya itu.”

’’Sudahlah kacung Baridin.”

’’Tidak, kalau yang dihina dan dicaci itu  kula, jika sema yang diperlakukan sekasar itu kula  tidak terima.”

’’Kacung Baridin sudah, jangan menambah kesedihan dihati sema mu ini.”

’’Lantas apa yang harus kula  lakukan, sema?”

’’Bersabarlah, serahkan semuanya pada kehendak Gusti Alloh.”

’’Tapi sema…”

’’Berjanjilah Baridin, jangan biarkan sema mu ini menanggung malu yang kedua kalinya.”

’’Baiklah sema….”

***

’’Baridin, apa sira sudah mantap dengan niat itu?”

’’Sangat mantap Gemblung, sira tunjukan saja dimana tempatnya,” ujar Baridin yang pada kesempatan itu tengah mencurahkan isi hati  pada sahabat karibnya  Gemblung Pinulung.

’’Laku, ritual dan resikonya sangat berat. Baridin.”

’’Seberat apapun, kula sanggup.”

’’Baiklah, besok kula antar sira menemui Embah Jampi.”

Keesokan harinya, dimana matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya Baridin dan sahabatnya Gemblung Pinulung telah berada di gubuk kediaman Embah Jampi, seorang paranormal kondang, dukun terkenal diseantero Kabupaten.

’’Ajian pelet Jaran Goyang…,” gumam Baridin, Embah Jampi hanya mengangguk pelan.

’’Sira kudu puasa empat puluh hari empat puluh malam tanpa sahur, kemudian ditutup dengan ritual pati geni, apa sira sanggup?”

’’Kula sanggup Embah…”

’’Dan rapalkan jampi pelet jaran goyang ini tiap malam.”

’’Baik, Mbah Jampi.”

Maka Begitulah, demi cinta berbalut dendam pada Suratminah, Baridin mengikuti bujukan setan guna membalas dendam sakit hati atas perlakuan Suratminah dan ayahnya juragan Dam terhadap ibunuya, sema Wangsih.

Malam merambat ke dini hari, empat puluh hari sudah Baridin melakukan ritual pelet jaran goyang didalam kamarnya yang senantiasa gelap, pekat dan pengap tinggal sehari lagi ritual yang dilakukannya yakni pati geni. Semantara itu, pengaruh pelat atau guna-guna Jaran Goyang yang tengah ditebar Baridin mulai menampakkan efeknya.

Suratminah, putri semata wayang juragan kaya itu perlahan namun pasti mulai terpengaruh daya pelet yang sangat sakti diseantero tanah Jawa tersebut, sikapnya kini banyak termenung, melamun dan kadang-kadang seperti orang lupa ingatan. Tiap saat yang diucapkan dari bibirnya hanya nama Baridin, Baridin dan Baridin. Makanan dan minuman yang disuguhkan pun tidak disentuhnya hal mana membuat orang tuanya, juragan Dam mulai khawatir.

’’Senok, sira kenapa?”

’’Mama.., kita pengen ketemu kang Baridin, mama….”

’’Senok, sira jangan membuat malu keluarga…., eling sadar.”

’’Pokoknya pertemukan kula dengan Kang Baridin…,”

’’Tapi, senok…”

’’Lebih baik kula mati daripada tidak kejajar pasang dengan kang Baridin….”

’’Aduh…bagaimana ini.”

’’Ayo mama… pertemukan kula dengan kang Baridin.”

’’Baiklah senok…”

Tidak ada jalan lain. Akhirnya juragan Dam hari itu juga dengan membawa anaknya Suratminah pergi ke rumah Baridin, di depan rumah keduanya disambut sema Wangsih.

’’Sema Wangsih dimana Baridin?”

’’Di dalam kamarnya, juragan.”

’’Pertemukan kula dengan Kang Baridin sema Wangsih,” sela Suratminah membuat perempuan paruh baya itu terkejut beberapa kejap.

’’Mari…,” ujar sema Wangsih yang berajak mendekati kamar Baridin.

’’Cung Baridin, keluarlah ini ada Suratminah.”

’’Kang Baridin…ayo keluar ini Suratminah….”

Tak ada jawaban, suasananya tetap seperti sebelumnya hening, sepi dan sunyi. Firasat seorang ibu muncul dan tanpa menunggu waktu didobraknya kamar anaknya tersebut. Sema Wangsih langsung merangkul tubuh Baridin yang lemah begitupun Suratminah, sembari terus memanggil nama Baridin, gadis ayu ini terus mengguncang-guncang tubuh Baridin yang mulai kaku.

Mengetahui Baridin sudah tidak bernyawa lagi, raungan keras terdengar dari mulut Suratminah gadis itu berlari keluar tanpa tentu arah dan diketemukan dua hari berikutnya di pusara Baridin dalam kondisi tidak bernyawa. (*)

Cerpen KUSYOTO

Indramayu, Januari 2019

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia