Jumat, 19 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader
Oming Tentang Nasib PSMP Bersama M. Sholeh.

Banding Tak Kunjung Direspons, Pembinaan Pemain Ikutan Mati

10 Februari 2019, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kuasa hukum PS Mojokerto M. Sholeh.

Kuasa hukum PS Mojokerto M. Sholeh. (Istimewa for radarmojokerto.id)

Sebagai klub profesional, PS Mojokerto Putra (PSMP) telah menjadi ikon dan lahan penghasilan bagi para pegiatnya. Namun, semenjak sanksi larangan bermain diberikan Komdis PSSI, Laskar Majapahit kini seolah vakum tanpa aktivitas dan pembinaan sepak bola.

Bagaimana nasib tim ini musim depan. Berikut obrolan wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto Farisma Romawan bersama kuasa hukum PSMP Muhammad Sholeh.

Seperti apa kelanjutan banding PSMP atas sanksi Komdis PSSI?

Sampai saat ini, tidak ada perkembangan apa pun. PSSI dan semua pejabat exco-nya seolah tidak ada aktivitas setelah banyak pejabat PSSI ditangkap oleh Satgas Antimafia Sepak Bola Mabes Polri. Kita juga merasakan imbas dari penangkapan itu, karena banding tidak segera direspons.

Menurut Anda apa tingkat kerugiannya?

Secara materi jelas rugi. Kita mengajukan banding saja biayanya Rp 30 juta. Sebagai tim dari daerah, nominal itu sudah sangat besar. Akan tetapi, sampai saat ini justru tidak ada kejelasan. Kerugian kedua adalah soal moril. Selama ini tidak pernah terbukti secara otentik PSMP terlibat match fixing, kok tiba-tiba dituduhkan.

Bagaimana nasib kompetisi Indonesia saat situasi PSSI masih rumit?

Saya kok mengira kompetisi di 2019 nanti tidak akan bisa berjalan jika saja dua elemen penting ini masih ngotot berjalan sendiri-sendiri. PSSI merasa tertekan karena satgas terus menyelidiki dan menangkap oknum-oknum yang terlibat dalam skandal suap.

Sementara satgas antimafia terus membersihkan kebusukan di PSSI tanpa ada koordinasi lanjutan tentang cara menyelamatkan sepak bola yang baik. Terbukti masih ada nama-nama, seperti IB dan HS yang disebut-sebut ikut terlibat. Sekarang Komdis PSSI ditangkap, wasit ditangkap, bidang kompetisi ditangkap, terus siapa yang menjalankan kompetisi.

Apa pengaruhnya bagi klub?

Jelas berpengaruh besar. Saat ini, hampir semua klub sudah melaksanakan persiapannya. Belanja pemain berkualias, berburu pemain asing, menggelar TC (training center). Itu biayanya tidak sedikit, bisa sampai puluhan miliar.

Bayangkan saja jika kompetisi ternyata tidak jadi digelar tahun ini. Harusnya ada duduk bersama antara satgas dengan PSSI untuk bisa meneyelenggarakan kompetisi yang bersih tanpa ada suap, dan berjalan lancar.

Lalu, Apa hubungannya dengan PSMP?

PSMP pun ikut terkatung-katung nasibnya. Tidak ada kejelasan membuat pemain harus mencari klub lain untuk mencari nafkah. Sementara pembinaan sepak bola ikutan mati. Kita lihat sendiri, tim lokal pun sekarang stagnan. Karena tidak bisa menyalurkan pemain terbaiknya untuk bisa masuk dalam bagian PSMP, karena memang mendapat sanksi. 

(mj/far/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia