Minggu, 21 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Anggaran Normalisasi Dikepras, Pembangunan Tanggul Jebol Ditunda

06 Februari 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pekerja dari BBWS Brantas memperbaiki plengsengan Kali Sadar yang ambrol tergerus air beberapa waktu lalu.

Pekerja dari BBWS Brantas memperbaiki plengsengan Kali Sadar yang ambrol tergerus air beberapa waktu lalu. (Rizal Amrulloh/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Rencana pembangunan tanggul Kali Sadar di area Kota Mojokerto ditunda. Menyusul, adanya pengeprasan mata anggaran dalam program normalisasi Kali Sadar mencapai Rp 100 miliar lebih.

Sedianya, program besutan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas yang berlangsung di area Kota Mojokerto itu tidak hanya meliputi mengerukan sedimentasi sungai. Namun, juga pembangunan tanggul yang rusak. Terutama di kawasan Kecamatan Kranggan hingga Kecamatan Gunung Gedangan.

Meski demikian, nyatanya rencana pembangunan tanggul untuk memperkuat normalisasi sungai yang berhulu di daerah Gatoel tersebut ditunda. Menyusul, adanya pengeprasan mata anggaran program normalisasi Kali Sadar. Sedianya, total anggaran yang dialokasikan pada proyek tahun jamak itu sebesar Rp 350 miliar lebih. Namun, dikepras mencapai Rp 100 miliar.

’’Akhirnya kami melakukan skala prioritas,’’ ungkap Sri Purwaningsih, Kabid Jaringan Pelaksana Sumber Air (JPSA) BBWS Brantas, melalui pengawas utama, Danu Rayendra Gandi.

Skala prioritas yang dilakukan yakni mengutamakan pembangunan tanggul di daerah Kabupaten Mojokerto. Lantaran, kawasan tersebut sebelumnya tidak memiliki tanggul sungai.

Tidak adanya tanggul sungai di daerah Kabupaten praktis menjadi penyebab utama sejumlah desa menjadi daerah langganan banjir. Terutama ketika Kali Sadar meluap saat musim penghujan. Sehingga membanjiri kawasan pedesaan yang sejajar dengan muka air sungai. Selain itu, wilayah Kali Sadar yang melintasi Kabupaten Mojokerto terbilang cukup panjang yakni 19 kilometer.

’’Terpaksa kami prioritaskan di wilayah Kabupaten,’’ sambung dia.

Dikatakannya, berbeda di area Kota Mojokerto yang telah memiliki tanggul dan plengsengan kendati telah berusia puluhan tahun. Meski demikian, kejadian ambrolnya sejumlah plengsengan di area kota, pihaknya mengaku bersiap memperbaiki.

Disinggung kapan pembangunan tanggul di area Kota dilakukan? Pihaknya mengaku belum diketahui pasti. Hanya saja, program normalisasi Kali Sadar telah menjadi rencana strategis Pemprov Jatim. Dengan demikian, tetap menjadi rencana pembangunan dalam lima tahun ke depan.

Di samping itu, upaya pembangunan tanggul di area kota, disebut Danu, juga belum memiliki kesiapan lahan. Karena, kondisi lahan tanggul di sepanjang Kranggan hingga Gunung Gedangan belum steril. Masih banyak bangunan semipermanen hingga permanen pada area tanggul. ’’Sedangkan, itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah,’’ sambung dia.

Seperti di kawasan Gunung Gedangan, disebut-sebut terdapat sekitar 25 bangunan yang belum disterilisasi. Sehingga, pembangunan tak dapat dilakukan. Selain itu juga area tanggul di kawasan Gatoel, area tanggul Taman Makam Pahlawan, hingga area Kuti.

Diketahui, Kali Sadar merupakan sungai buatan yang dibangun era kolonial Belanda sekitar tahun 1920. Sungai tersebut disebut floodway sebagai upaya penjinak banjir di area Kota Mojokerto. Kali Sadar berhulu di Gatoel dan bermuara di Kali Porong dengan panjang sekitar 23 kilometer. 

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia