Minggu, 21 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Satu Bulan, Satu Rumah Sakit di Mojokerto Rawat 255 Pasien DBD

03 Februari 2019, 17: 36: 08 WIB | editor : Mochamad Chariris

Dua bocah pasien DBD menjalani perawatan intensif di RS Islam Sakinah Mojokerto.

Dua bocah pasien DBD menjalani perawatan intensif di RS Islam Sakinah Mojokerto. (Muh. Ramli/radarmojokerto.id)

MOJOKERTO – Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Mojokerto terus bertambah. Di RS Islam Sakinah Mojokerto saja, dalam waktu hanya satu hari jumlah pasien akibat gigitan nyamuk aedes aegypti mengalami peningkatan hingga mencapai 30 pasien.

Kepala Seksi Perawatan RSI Sakinah Mojoketo Nunuk Kurniati, menjelaskan, kemarin (2/2), pasien DBD yang dirujuk ke rumah sakit milik Nahdlatul Ulama (NU) ini memang bertambah hingga 30 persen. Jumlah pasien tersebut tercatat sebanyak 28 pasien anak-anak. Rata-rata berumur dari 1 tahun hingga 10 tahun. Selebihnya adalah dua orang dewasa.

Nunuk menyatakan, pasien tertinggi berasal dari Kecamatan Puri dan Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. ”Kami belum hitung detailnya. Namun, yang terbanyak dari Kecamatan Puri. Ada juga pasien dari Jombang,’’ katanya. Sebelumnya, kata Nunuk, pasien DBD yang tercatat di RSI Sakinah dari 1 Januari hingga 1 Februari kemarin terhitung telah mencapai 255 pasien.

Perinciannya, pasien asal Kecamatan Puri 35 orang, Kecamatan Sooko 28 orang, Kecamatan Trowulan 19 pasien, dan dari Kecamatan Dlanggu 11 pasien. ”Semuanya sudah sembuh dan diperbolehkan pulang,’’ tandasnya. Atas tingginya kasus DBD ini, Nunuk mengimbau kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto agar terus melakukan langkah-langkah pencegahan. Seperti halnya memetakan wilayah endemis DBD.

”Dinkes harus menyisir, dan tidak hanya melakukan fogging saja. Karena fogging sendiri, kami rasa hasilnya tidak terlalu manjur,’’ ujarnya. Tidak hanya itu, bagi masyarakat, Nunuk menyarankan agar selalu hati-hati dan benar-benar menjaga kebersihan lingkungan. Khususnya bagi orang tua yang mempunyai anak kecil dianjurkan menjaga pola makan dan menjaga kebersihan melalui penerapan tiga M (menutup, mengubur dan menguras).

Serta meningkatkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). ”Bisa dibilang kenapa DBD ini bertambah, karena faktor kebersihan yang belum terjaga dengan baik,’’ jelasnya. Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto dr. Langit Kresna Janitra, menegaskan, untuk pencegahan DBD, dinkes sudah melakukan berbagai upaya semaksimal mungkin.

Yakni, dari melakukan fogging dan melakukan penyisiran ke desa-desa yang warganya banyak terjangkit DBD. ”Kami sudah sosialisasi ke masyarakat dan puskesmas. Masyarakat diimbau untuk hati-hati dan selalu menjaga kebersihan,’’ tandasnya. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia