Jumat, 19 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Zona Muda

Cerita di Balik Kolam Segaran, Ada Pulau Suci yang Hilang

31 Januari 2019, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Warga memancing di Kolam Segara Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Warga memancing di Kolam Segara Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/radarmojokerto.id)

Banyak situs cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit yang tersebar di Kecamatan Trowulan. Salah satunya adalah Kolam Segaran yang berada di Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Bangunan berbentuk kolam besar itu merupakan salah satu tempat yang disucikan oleh masyarakat Majapahit. Seperti apa ?

SEJARAWAN Ayuhanafiq menjelaskan, untuk mendapatkan gambaran tentang Ibu Kota Kerajaan Majapahit di Trowulan telah tertulis dalam Kitab Negarakertagama.

Namun, dalam buku karangan Mpu Prapanca yang ditulis pada masa Raja Hayam Wuruk tersebut masih belum tercatat nama tempat dan bangunan kolam besar yang kini dikenal sebagai Kolam Segaran.

Menurutnya, tidak tercatatanya Kolam Segaran di Negarakertagama dikarenakan pembuatannya dilakukan setelah buku selesai ditulis. ’’Diperkirakan kolam dibuat pada kisaran abad ke-15,’’ terangnya.

Dalam banyak cerita yang berkembang, Kolam Segaran merupakan tempat untuk menggelar pesta dan upacara. Lokasi itu dijadikan Raja Majapahit untuk menjamu tamu asing.

Untuk menunjukkan kebesaran kekuasaan, segala piranti pesta dibuang ke dalam kolam. Itu dilakukan sebelum pesta jamuan berakhir dan disaksikan para tamu.

Dengan begitu, maka tercipta asumsi bahwa Majapahit merupakan kerajaan yang makmur. Karena alat pesta dan upacara dibuang setelah digunakan. Namun, pria yang akrab disapa Yuhan ini, memiliki pandangan lain. ’’Karena ternyata yang terjadi tidak demikian,’’ paparnya.

Dia menyebutkan, kolam itu justru dibuat setelah Majapahit mengalami kemunduran. Dengan begitu, pesta pora jarang dilakukan oleh raja-raja setelah Hayam Wuruk. Yuhan mengatakan, kolam Segraran tersebut berfungsi sebagai penampungan persediaan air saat kemarau datang.

’’Selain itu, kolam besar itu juga dipakai untuk upacara keagamaan,’’ paparnya. Kolam berukuran sekitar 375 x 175 meter dan memiliki kedalaman 3 meter itu dibangun untuk mengatasi kurangnya debit air di jobong atau sumur-sumur penduduk.

Dimungkinkan debit air menyusut karena adanya penebangan kayu secara besar-besar. ’’Kayu itu digunakan untuk bangunan ketika jumlah penduduk saat itu semakin meningkat,’’ paparnya.

Akan tetapi, perwujudannya tentu berbeda dengan yang terlihat saat ini. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini, mengatakan, pada masa lalu, tepat di tengah air kolam terdapat sebuah pulau kecil. Daratan tersebut melambangkan Pulau Jawa yang dikelilingi oleh lautan.

Pulau kecil itu digunakan untuk menggelar ritual harian, bulanan, dan tahunan. Tempat tersebut dinamakan Jambhudwipa yang dilengkapi bagunan suci. Hampir setiap hari tidak pernah sepi aktivitas keagamaan.

Jambhudwipa diibaratkan sebagai pulau Jawa yang dimitoskan dibuat oleh dewa dari potongan puncak Gunung Mahameru. ’’Penduduk juga mengambil airnya yang dikategorikan air suci,’’ ujarnya.

Sebagai bangunan suci, posisi Jambhudwipa berada di pusat delapan arah mata angin atau Astadikpalaka. Tempat yang dijaga oleh dewa-dewa dari segala penjuru. Hal itu karena kolam tersebut ditempatkan sebagai titik tengah aktivitas sosial Kota Raja di Trowulan.

’’Secara fungsional kolam itu termasuk sebagai kolam besar yang dilengkapi fasilitas pendukung yang disucikan atau uttama pathirtan,” tandasnya. Saat ditemukan, kolam yang belum diketahui namanya itu lalu disebut sebagai Kolam Segaran. Kondisinya sudah mengalami sedimentasi.

Tanah yang mendangkalkan kolam itu sebagaian besar diakibatkan dari serangkaian bencana banjir dan letusan gunung. Karena itu, dilakukan pengerukan agar tampak fisiknya sebagai sebuah kolam. ’’Saat pengerukan itu pula Jambhudwipa ikut diangkut. Maka pulau suci itu hilang permanen,’’ pungkasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia