Jumat, 19 Apr 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Riwayat Jembatan Terusan Mojokerto (2-habis)

Halte Stasiun KA Berubah Menjadi Pos Polisi

24 Januari 2019, 22: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Pos polisi di Jalan Raya Terusan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto yang sebelumnya adalah halte kereta api di jalur rel Stasiun Lespadangan.

Pos polisi di Jalan Raya Terusan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto yang sebelumnya adalah halte kereta api di jalur rel Stasiun Lespadangan. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)

SETELAH transportasi darat semakin berkembang, jalur sungai perlahan mulai ditinggalkan. Fungsi Jembatan Terusan kian strategis.

Pasalnya, jembatan tersebut menjadi transportasi utama menuju Kota Surabaya. Terlebih dapat dilalui berbagai moda transportasi darat, termasuk kendaraan berat sekalipun.

Ayuhanafiq menambahkan, keberadaan Jembatan Terusan semakin penting ketika dibangun rel kereta api (KA) oleh maskapai Oost-Java Stoomtram Maatschapij (OJS). Tepat di seberang utara Sungai Brantas didirikan Stasiun Lespadangan, di Kecamatan Gedeg.

Menurut Yuhan, dibangunnya jalur KA itu menjadi alternatif moda transportasi darat. ”Warga yang ingin berpindah jalur kereta pasti melewati jembatan itu menuju ke stasiun kota. Begitu juga sebaliknya,” paparnya.

Selain stasiun, juga didirikan halte Lespadangan. Tempat pemberhentian keretaitu juga tidak kalah ramai. Kini, bekas halte tersebut dijadikan sebagai pos polisilalu lintas di sisi utara jembatan.

Oleh karena itu, Lespadangan dulu menjadi titik persimpangan hilir mudiknya penumpang. Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini menambahkan, oleh karena itu, keberadaan Jembatan Terusan membantu mempercepat akselerasi wilayah utara Sungai Brantas.

Setidaknya, kondisi itu berlangsung hingga pertengahan 1980-an. Mengingat, pada saat itu pemerintah membuat jalan yang tol berbayar dari Desa Jampirogo, Kecamatan Sooko ke kawasan Desa Mlirip, Kecamatan Jetis.

Jalur baru itu kemudian menggeser peran jembatan Lespadangan. ”Angkutan umum tidak lagi melewati jembatan Lespadangan,” paparnya. Dan pada tahun 1990-an, kemegahan Jembatan Terusan berakhir riwayatnya.

Akses untuk menyeberang Sungai Brantas itu telah putus total dikarenakan telah rusak. Sebagai gantinya, dibuat jembatan baru yang hanya berjarak beberapa meter di sisi barat jembatan lama.

Namun, ukuran tidak terlalu lebar. Hanya berkisar enam meter. Sementara pada masing-masing sisinya ditambahkan jalur khusus bagi pejalan kaki. Akan tetapi, tidak semua kendaraan dapat melintas. Karena jembatan itu kini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia