radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Hiburan dan Perjuangan Melawan Zaman (2)

Sulap dan Tari Ular Ikuti Permintaan Pasar

21 Januari 2019, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sri Devi Lestari saat menari dengan ular piton miliknya.

Sri Devi Lestari saat menari dengan ular piton miliknya. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)

KEMAJUAN di era modern juga cukup dirasakan oleh Abdullah. Pesulap kawakan asal Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini juga terus berjuang agar tetap eksis.

Semakin derasnya arus teknologi informasi membuat siapa pun semakin mudah untuk mempelajari banyak hal. Termasuk tentang teknik dan trik sulap.

’’Dulu sulap itu seperti barang yang mahal, tapi kini siapa saja bisa mempelajari,’’ ujar Abdullah. Akibatnya, apresiasi terhadap dunia magic perlahan terkikis. Saat ini, tidak mudah membuat penonton bertepuk tangan.

Pria yang dikenal dengan panggilan Pak Dullah ini, mengatakan, hal itu dikarenakan pola pikir masyarakat yang mulai berubah. Dari yang dulu mempercayai hal yang mistis, kini menjadi berpikiran yang lebih logis. ’’Orang melihat sulap kini tidak lagi heran. Tetapi justru ingin tahu bagaimana caranya,’’ paparnya.

Menjadi pesulap yang digelutinya sejak duduk di bangku SD itu mengalami masa keemasan pada dekade 1990-an. Dalam satu bulan, hampir setiap hari dirinya tidak pernah sepi job. Maklum, sulap menjadi seni huburan yang langka saat itu. Sehingga, kehadirannya cukup dinanti banyak orang.

Berbagai acara mulai dari pertunjukan outdoor, tampil di atas panggung, sampai di acara resmi hotel pun telah dijalaninya. Pak Dullah juga memenuhi panggilan dari luar kota. Seperti, Jombang, Lamongan, Gresik, hingga Surabaya.

Namun, kondisinya saat ini seperti berubah 180 derajat. Zaman telah berubah. Sudah jarang acara resmi yang mengundangnya. Untuk dapat bertahan dibutuhkan inovasi. Tak cukup hanya itu, dirinya juga menyesuaikan dengan selera pasar. ’’Sekarang paling banyak permintaan dari acara ulang tahun,’’ ujarnya.

Karena iu, gaya penampilannya pun juga diubah. Pakaian yang dikenakan kini tak lagi formal. Kostum dan dandanannya dibuat dengan beraneka warna yang cerah. Tujuannya menarik perhatian penonton. ’’Kalau acara ulang tahun penontonnya kan anak-anak. Jadi ya harus menyesuaikan,’’ paparnya.

Setiap penampilannya kini pun juga mengajak badut. Performance yang ditampilkannya juga cenderung ringan yang disukai anak-anak. ’’Jadi bukan sulap yang berisiko atau berbahaya,’’ tandas pria kelahiran 16 November 1967 itu. Dengan bagitu, setidaknya bisa membuatnya eksis hingga saat ini.

Hal yang sama juga dirasakan Sri Devi Lestari, 36. Perempuan yang sudah 20 tahun lebih menjadi penari ular ini juga harus menuruti permintaan pasar. Terlebih, jasa yang dilakoninya tergantung pada panggung kesenian hiburan yang lain. Seperti ludruk, jaranan, campur sari, reog, hingga wayang kulit. ’’Kebanyakan untuk mengisi di tengah acara,’’ paparnya.

Namun, selama beberapa tahun terakhir, panggung kesenian tradisional dirasa mulai redup. Hal itu berakibat pula bagi menurunnya pekerjaan yang digelutinya sejak 1994 itu.

Puncak ramainya tanggapan tari ular berlangsung sejak 2000-an ke atas. Kala itu, banyak acara hajatan yang mengundang pertunjukan kesenian sebagai hiburan rakyat. Walhasil dirinya pun juga diminta untuk memeriahkannya. ’’Dulu kalau ada ludruk, wayang, atau jaranan, pasti di situ juga ada tari ular,’’ paparnya.

Karena itu, Sri Devi kerap tampil di berbagai kota. Seperti Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Lamongan,  Pasuran, Malang, hingga Probolinggo. Bahkan, dalam sehari dirinya bisa berpindah hingga enam lokasi berbeda. 

Namun, keberadaan ludruk saat ini tidak seperti dulu. Pertunjukan kesenian lainnya pun juga hampir bernasib sama. Perempuan kelahiran Surabaya, 11 September 1982 ini pun mulai beradaptasi.

Dia tidak hanya bergantung untuk mengisi mengisi pertunjukan kesenian. Tetapi memperluas jangkauan menerima berbagai acara yang lain. Dengan membawa tiga ekor ular jenis sanca dan piton, Sri Devi kini juga sering tampil dalam hiburan orkes melayu, kasidah, hingga acara ulang tahun.

’’Tari ular kan cenderung netral. Saya rasa masih bisa berpeluang untuk bertahan,’’ pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia