radarmojokerto
icon featured
Features
Warung Sedekah Komunitas Amira Bilqis

Nasi Bungkus Donasi Anggota, Pembeli Bayar Seikhlasnya

21 Januari 2019, 21: 16: 19 WIB | editor : Mochamad Chariris

Sejumlah warga membeli nasi di warung sedekah di Jalan Masjid, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Sejumlah warga membeli nasi di warung sedekah di Jalan Masjid, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Sepintas, warung kaki lima di Jalan Masjid, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokertio ini, tidak jauh berbeda dengan warung nasi pada umumnya.

Namun, yang membedakan adalah pembeli tidak dipatok harga dari berbagai menu yang disajikan. Mereka bisa membayar seikhlasnya.

SIANG itu, tenda kecil berukuran dua meter persegi dikerumuni banyak orang. Anak-anak hingga dewasa. Sejumlah ibu-ibu terlihat sibuk melayani mereka.

Ya, di Jalan Masjid, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Mojosari itu, dijadikan lokasi anggota Komunitas Amira Bilqis untuk berjualan nasi bungkus. Warung itu dinamakan warung sedekah. Sesuai dengan namanya, dari setiap menu yang disajikan tidak dipatok tarif.

Mereka hanya menyediakan kotak sedekah yang bisa diisi berapa pun nominalnya. ’’Mau sedekah Rp 1.000 monggo, lebih juga monggo,’’ terang Citra Atmarini, ketua Komunitas Amira Bilqis Mojosari.

Menu yang disajikan bervariasi. Seperti yang disediakan kebanyakan warteg. Hanya saja, menu itu berasal dari hasil donasi anggota komunitas. Menurut Citra, beberapa anggota ada yang memberi berupa masakan yang siap saji, bahan mentah, atau uang untuk kebutuhan belanja.

’’Jadi tidak hanya pembeli yang sedekah, masakan ini juga hasil sedekah,’’ tandasnya. Antara lain diwujudkan dengan melakukan kegiatan sosial di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), panti asuhan, atau dibelanjakan sembako untuk disumbangkan bagi yang membutuhkan.

Ibu rumah tangga asal Jalan Jeruk, Kelurahan Seduri, Kecamatan Mojosari ini, mengatakan, warung sedekah hanya dibuka seminggu sekali. Tepatnya pada hari Jumat. Mereka membuka lapak sekitar pukul 10.00 pagi. Tidak sampai tiga jam, sekitar 300-400 porsi pun ludes terjual.

Dia mengatakan, hasil dari penjualan tersebut berkisar antara Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta. Citra mengaku, uang yang terkumpul itu tidak dijadikan modal jaulan berikutnya. Melainkan juga untuk disedekahkan kembali. ’’Istilahnya tidak ada uang nandon, semuanya kita sedekahkan kembali,’’ ulasnya.

Warung sedekah telah didirikan sejak setahun yang lalu. Citra menceritakan, warung tersebut awalnya bertempat di Jalan Gajah Mada, Desa Randubango, Kecamatan Mojosari. Tetapi saat itu konsepnya adalah menjual nasi dengan harga yang terjangkau.

Tujuannya meringankan beban bagi masyarakat tidak mampu. Satu porsi hanya dijual paling mahal Rp 3 ribu. Namun, setelah beberapa bulan berjalan, cara tersebut dirasa tidak tepat sasaran. Pasalnya, tidak semua pembeli dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Tetapi justru dimanfaatkan warga yang mampu. ’’Dengan harga murah malah menjadi kesempatan bagi yang mampu. Padahal sasaran kami tidak seperti itu,’’ bebernya.

Karena itu, mereka mengubah konsep dari warung murah menjadi warung sedekah. Lokasinya pun berpindah tepat di dekat Masjid Makbadaul Muttaqin, Kelurahan Sarirejo. Dengan cara baru itu, animo pembeli semakin tinggi.

Bahkan kali ini bisa berasal dari berbagai lapisan. Tujuannya sama, bagi yang tidak mampu bisa mendapatkan makanan dengan harga murah. Di sisi lain, warga yang kalangan menengah ke atas bisa memberikan sedekah dengan cara membeli makanan.

’’Karena tidak sedikit juga yang membeli dengan uang lebih,’’ tandasnya. Saat ini, sudah ada satu cabang warung yang ditempatkan di lokasi lain dengan konsep yang sama. Ke depan, mereka juga berkeinginan untuk menambahnya lagi. 

(mj/ram/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia