radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Serangan DBD Mengganas, Sudah 140 Anak dan Balita Jalani Perawatan

11 Januari 2019, 18: 23: 27 WIB | editor : Mochamad Chariris

Seorang ibu mendampingi putranya yang terserang penyakit DBD saat dirawat di RSI Sakinah Mojokerto, Jumat (11/1).

Seorang ibu mendampingi putranya yang terserang penyakit DBD saat dirawat di RSI Sakinah Mojokerto, Jumat (11/1). (Muh. Ramly/Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Memasuki musim pancaroba ini ancaman serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) tak bisa dianggap sepele. Setidaknya, dalam satu setengah bulan saja satu rumah sakit di Mojokerto telah merawat sekitar 140 pasien. 

Rumah sakit yang menerima pasien dengan kasus akibat gigitan nyamuk aedes aegepty relatif tinggi ini adalah RSI Sakinah Mojokerto. Kepala Seksi Perawatan RSI Sakinah Mojokerto Nunuk Kurniati, menyatakan, pasien yang terdata positif terserang DBD memang relatif tinggi.

Yakni, tercatat telah mencapai 140 pasien. Jumlah tersebut terkomulatif dari bulan Desember 2018 hingga awal Januari 2019 ini. Rinciannya, pada Desember lalu tercatat telah mencapai 88 pasien. Sedangkan dari 1 hingga 10 Januari 2019 kemarin telah mencapai 52 pasien.

Mayoritas pasien tersebut dialami anak-anak di atas usia 5-7 tahun dan usia balita (0-5 tahun). "Kalau anak-anak, memang sangat rawan terjaring (terserang) DBD," katanya. Mudahnya serangan DBD pada anak-anak dan balita ini, menyusul sistem imun mereka yang belum terbentuk secara sempurna. "Sehingga rentan terserang (DBD)," jelasnya.

Dia menegaskan, ratusan pasien tersebut merupakan warga dari berbagai kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Di antara pasien tertinggi datang dari Kecamatan Dawarblandong, dan disusul Kecamatan Sooko. Selebihnya, diketahui warga luar kota. Salah satunya dari Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. "Dari seratus (lebih) pasien itu juga ada dari luar Mojokerto," tambahnya.

Atas kondisi itu, Ninik mengimbau agar setiap keluarga benar-benar menjaga kesehatan, terutama pada anak usia balita. Dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dan menerapkan sistem 3M (menguras, menutup dan mengubur).

Selain itu, memberikan asupan gizi bagi anak-anak secara konsisten. "Karena musim hujan memang mengharuskan selalu hati-hati pada penyakit DBD ini," ujarnya. Jumah pasien terserang DBD ini diduga terus berkembang.

Menyusul, sebelumnya, 10 anak-anak dari Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, juga dikabarkan terserang. Dua di antaranya kakak-beradik pernah dirawat di RSU Gatoel, Kota Mojokerto. Selain itu, turut menyerang empat warga di Desa/Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Hingga akhirnya pihak desa memutuskan melakukan fogging mandiri melalui iuran warga Rp 10 ribu per KK (kepala keluarga). Dengan alasan langkah dinkes menangani kasus tersebut belum maksimal. 

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia