Jumat, 22 Mar 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Ruang Inklusi SMPN Diusulkan Rehab Berat

11 Januari 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Anggota DPRD Kota Mojokerto melihat kondisi ruang kelas untuk inklusi di SMPN 8 Kota Mojokerto.

Anggota DPRD Kota Mojokerto melihat kondisi ruang kelas untuk inklusi di SMPN 8 Kota Mojokerto. (Fendy Hermansyah/Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Perbaikan fasilitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah inklusi SMPN 8 Kota Mojokerto, diusulkan dewan. Yakni, dengan merehabilitasi ruangan pengajaran inklusi.

Usulan itu dikemukakan Komisi III DPRD Kota Mojokerto selepas meninjau sekolah model yang juga sekolah inklusi tingkat menengah pertama. Dewan melihat proses kegiatan belajar mengajar siswa inklusi di lokasi. Termasuk pula berinteraksi dengan mereka.

Sejumlah usulan diserap di antaranya perbaikan fasilitas belajar mengajar, penyediaan guru pendamping, alat peraga, buku, pelatihan hingga kamar mandi khusus. Dewan juga sempat melihat sejumlah ruangan sekolah yang mengalami kerusakan.

Namun belum dilakukan perbaikan sejak dua tahun terakhir ini. ’’Salah satunya rehab berat kelas yang nantinya bisa diperuntukkan kelas inklusi,’’ ungkap Cholid Virdaus, wakil ketua Komisi III DPRD Kota Mojokerto, kemarin.

Dikatakannya, setelah melihat langsung ke lokasi dan menyerap aspirasi dari guru dan kepala sekolah, sejumlah usulan muncul. ’’Banyak hal yang perlu percepatan untuk kelancaran kelas inklusi. Ini menjadi komitmen Komisi III, Kadis Pendidikan dan Kepsek SMPN 8,’’ tambah Cholid.

Koordinator Komisi III yang juga Wakil Ketua DPRD, Suyono mengatakan, setelah meninjau ke lokasi ada sejumlah hal yang ditemukan. Ada 6 siswa didik inklusi yang masuk kelas reguler. Namun belum ada guru pendamping khusus, psikologi, dan sarpras terkait. ’’Ini patut menjadi perhatian bersama,’’ kata dia.

Disebutkannya pula, keberadaan ruangan kelas yang mengalami kerusakan juga jadi perhatian. Karena, sudah dua tahunan kondisi itu berlangsung. ’’Harapan kami ruangan itu dapat dimanfaatkan untuk ruangan inklusi. Tentu melalui perbaikan terlebih dahulu,’’ tambah Suyono.

Kepala Dispendik Kota Mojokerto Amin Wachid, menegaskan, sinergi dengan dewan diperlukan agar program sekolah inklusi di Kota Mojokerto menjadi perhatian bersama.

Termasuk, terkait usulan penggunaan ruangan kelas yang rusak agar dapat diperbaiki tahun ini. ’’Sejumlah ruangan tersebut telah masuk dalam rencana perbaikan yang kami gelar tahun 2019 ini,’’ terang dia.

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia