Rabu, 20 Mar 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia
Rumah Pegadaian Dlanggu Tahun 1912 (2-habis)

Tak Difungsikan setelah Ditempati Mapolsek

10 Januari 2019, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ornamen dan teralis jendela yang masih asli sejak dibangun sekitar satu abad lalu.

Ornamen dan teralis jendela yang masih asli sejak dibangun sekitar satu abad lalu. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)

EKSISTENSI rumah pegadaian Dlanggu sempat meredup saat takluknya pasukan kolonial oleh penjajah Jepang sekitar tahun 1942.

Ketika pasukan negeri Matahari Terbit mulai masuk ke wilayah Mojokerto, terjadi aksi penjarahan terhadap barang-barang milik Belanda.

Ayuhanafiq menceritakan, salah satu yang menjadi sasaran penjarahan adalah rumah pegadaian Dlanggu. Bahkan, setelah barang ada di dalamnya telah habis dijarah, dan gedung itu sempat dibakar oleh massa.

Menurutnya, berkecamuknya masyarakat kala itu adalah sebagai bentuk pelampiasan kebencian rakyat terhadap Belanda. Untuk mencegah agar penjarahan tidak sampai meluas, tentara Jepang kemudian mengultimatum akan menembak mati para penjarah.

”Setelah penjarahan berhenti, dlakukan ultimatum lanjutan agar semua barang jarahan dikembalikan,” paparnya. Pengembalian barang-barang itu dilakukan dengan cara mengumpulkan di tempat yang telah ditentukan.

Jika ultimatum itu tidak dilakukan, tentara Nippon mengancam akan melakukan penggeledahan. ”Jika terbukti, pelaku bakal dihukum berat,” bebernya. Yuhan menjelaskan, dengan cara tersebut barang jarahan dengan segera dikembalikan.

Namun, ultimatum itu hanya dalih tentara Jepang. Sebab barang yang terkumpul tidak dikembalikan pada pemiliknya, melainkan disimpan di gudang perbekalan Jepang.

Setelah masa kemerdekaan, rumah pegadaian Dlanggu sempat dialihfungsikan menjadi markas Polisi Sektor (Polsek) Dlanggu. Namun, beberapa waktu kemudian, gedung tua itu dikosongkan karena sudah tidak lagi difungsikan.

Namun, transaksi utang-piutang dengan sistem gadai itu masih berlangsung hingga saat ini. ”Karena jawatan pegadaian mendirikan bangunan baru tepat di samping gedung tua itu,” imbuhnya.

Setidaknya, hingga saat ini gedung yang berusia lebih dari satu abad itu masih dapat menjadi penanda sejarah perekonomian masyarakat pada masa lalu. Meski nasib gudang penyimpanan barang yang berada di belakang rumah pegadaian itu kini hanya tinggal dinding saja.

Yuhan mengatakan, selain rumah pegadaian, akselerasi ekonomi lainnya di kawasan Dlanggu ditandai dengan adalah adanya pasar tradisional berada berdekatan dengan halte kereta api. Pasar tersebut juga menggunakan metode putaran hari pasaran Jawa.

”Sistem pasaran bergiliran itu biasanya menempatkan Pasar Kliwon sebagai pasar utama,” pungkasnya. Sementara di sekitarnya dikelilingi oleh pasar pendukung lainnya. Yaitu, Pasar Legi, Pasar Pahing, Pasar Pon, dan Pasar Wage.

(mj/ram/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia