radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Dinkes Tak Maksimal Tanggapi Kasus DBD, Desa Fogging Mandiri

10 Januari 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Petugas fogging desa melakukan pengasapan di lembaga pendidikan Desa/Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Selasa (9/1).

Petugas fogging desa melakukan pengasapan di lembaga pendidikan Desa/Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Selasa (9/1). (Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Kasus demam berdarah dengue (DBD) semakin meluas. Memasuki musim pancaroba ini memang mengharuskan semua warga lebih waspada akan serangan penyakit yang disebabkan nyamuk aedes agepty tersebut.

Setelah sebelumnya sepuluh warga Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko dilaporkan terserang, kemarin DBD giliran dialami warga Desa/Kecamatan Puri. Setidaknya dikabarkan ada empat orang dinyatakan positif. Warga pun melakukan fogging secara mandiri. 

Napsi Harto, 55, warga setempat mengaku anaknya positif terserang penyakit DBD. Awalnya, gejala tersebut dirasakan sejak Sabtu (5/1) lalu. Putranya mengalami demam tinggi hingga akhirnya dilarikan ke RS Dian Husada, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko.

Setelah dilakukan uji laboratorium, oleh pihak rumah sakit, kata Harto, anaknya yang berusia 18 tersebut dinyatakan positif DBD. ”Sekarang masih dirawat RS Dian Husada. Belum tahu, kondisinya membaik atau belum,’’ katanya Selasa (9/1).

Kades Puri, Jupri Yadi membenarkan, saat ini dari laporan warga ke pihak desa sudah ada empat orang yang terserang DBD. ’’Dua orang masih gejala, dan dua sudah positif terserang DBD,’’ katanya. Karena ditakutkan semakin meluas, pihaknya langsung mengadakan fogging secara mandiri.

Apalagi, Desa Puri sejak dari tahun 2010 lalu pernah melakukan fogging mandiri melalui iuran warga Rp 10 ribu per KK (kepala keluarga). ”Kami sudah punya alat dan orangnya sendiri. Dan kami rutin setiap musim hujan datang melakukan fogging sendiri,’’ jelasnya.

Alasannya, kata Yadi, selain untuk mempererat kebersamaan antarwarga, juga karena fogging perhatian dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto belum berjalan maksimal. ”Kalau (fogging, Red) dari dinas kesehatan itu, jika sudah ada yang terserang DBD, baru melakukan fogging. Ya sudah telat,’’ ucapnya.

Melalui pertimbangan tersebut, desa mengambil insiatif sendiri. Yakni, mengadakan fogging secara mandiri. ”Kami bisa saja membayar pakai uang desa. Ini juga demi kesehatan juga,’’ pungkasnya.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto, dr Langit Kresna Janitra mengatakan, hingga kemarin dinkes belum menerima laporan tentang penyakit DBD di Desa Puri. ”Kami nanti akan coba cari infomasi tentang hal itu. Untuk saat ini kami belum mendengar,’’ kilahnya. (ras)

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia