radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

PS Mojokerto Putra Ragukan Data Satgas Antimafia Bola

09 Januari 2019, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

PS Mojokerto Putra saat menjamu Aceh United di Liga 2 musim 2018 di Stadion Gajah Mada Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

PS Mojokerto Putra saat menjamu Aceh United di Liga 2 musim 2018 di Stadion Gajah Mada Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Dugaan suap sebesar Rp 115 juta dari terlapor VW (Vigit Waluyo) ke DI (Dwi Irianto) yang disebutkan tim Satgas Antimafia Bola Polri untuk memuluskan langkah PS Mojokerto Putra (PSMP) ditanggapi serius pengurus The Lasmojo.

Betapa tidak, pengurus mempertanyakan kevalidan data yang dikumpulkan satgas tentang dugaan suap yang menyeret nama Laskar Majapahit dalam skandal match fixing. Di mana, ada ketidakcocokan data dari fakta yang dialami PSMP selama bermain di kompetisi sepak bola Indonesia.

Terutama soal level PSMP yang disebutkan bermain di Liga 3 dan ngotot naik ke Liga 2. Sehingga berupaya menempuh jalur suap melalui tangan VW ke PSSI lewat DI alias Mbah Putih sebagai anggota Komite Disiplin (Komdis) untuk memuluskan langkah tersebut.

’’Kan PSMP tidak pernah berlaga di Liga 3,’’ tutur Muhammad Soleh, kuasa hukum PSMP. Ya, dalam perkara suap yang dilaporkan manajemen Persibara (Banjarnegara) itu, Polri menyebutkan jika Mbah Putih menerima aliran dana terkait kongkalikong tersebut dari Vigit Waluyo sebesar Rp 115 juta.

Dengan tujuan, agar PSMP bisa promosi ke Liga 2 setelah sebelumnya hanya bermain di Liga 3. Dugaan suap tersebut diatur sejak semusim sebelumnya. Namun, pernyataan ini rupanya tidak sinkron sama sekali dengan fakta yang terjadi selama ini di dalam tubuh PSMP.

Di mana, sejak tahun 2010 hingga sekarang, tim yang bermarkas di Stadion Gajah Mada Mojosari itu selalu berada di kasta kedua dan tidak pernah sekalipun turun kasta ke Liga 3. Pernyataan ini jelas bertentangan dengan tuduhan skandal pengaturan skor yang selalu dialamatkan ke PSMP.

’’Jadi, tuduhan match fixing ini diragukan. Polisi sepertinya belum paham dan harus mempertanyakan ke kita,’’ imbuhnya. Pun demikian dengan adanya nama VW atau Vigit yang selalu dikaitkan dengan PSMP.

Soleh menegaskan kembali kepada publik jika PSMP sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Vigit. Meski sempat ada kasak-kusuk soal kehadiran VW di beberapa pertandingan home PSMP tahun 2017, hal itu dinilainya tidak bisa dijadikan rujukan soal keterlibatan VW.

’’VW itu siapa, tidak ada nama itu di dalam struktur pengurus dan manajemen,’’ tambahnya. Untuk itu, Soleh lantas memohon kepada pihak kepolisian untuk mengkroscek kembali hasil penyelidikannya. Pihak pengurus PSMP pun siap jika suatu saat diminta untuk menjelaskan.

Termasuk dugaan match fixing yang membuat The Lasmojo dijatuhi hukuman larangan bermain selama semusim di Liga 2 musim 2019. ’’Kalau diminta ya kita berikan. Intinya kami siap untuk memberikan keterangan,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia