Rabu, 20 Mar 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Burung Emprit Serbu Pertanian, Biji Padi Jadi Sasaran

09 Januari 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Biji padi yang habis diserang burung pipit hingga tersisa gagangnya saja.

Biji padi yang habis diserang burung pipit hingga tersisa gagangnya saja. (Abe Arsyad/Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Kekhawatiran akan kegagalan panen padi dirasakan kalangan petani di Dusun Kalijaring, Desa Sadar, Kecamatan  Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Pasalnya, kawanan burung pipit menyerang areal persawahan yang sudah mulai memasuki masa tumbuh biji padi tersebut. Sehingga, petani harus melakukan penjagaan ekstra. Bahkan, mereka seharian standby di sawah.

Jika tidak, padi digadang-gadang saat panen terancam ludes tinggal gagangnya saja. ”Kalau tidak dijaga, berapapun luas sawahnya, padi bisa ludes. Petani tidak kebagian,” ungkap Sapiah, 70, salah satu petani.

Supiah mengusir burung pipit di areal persawahan miliknya di Dusun Kalijaring, Desa Sadar, Kecamatan  Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Supiah mengusir burung pipit di areal persawahan miliknya di Dusun Kalijaring, Desa Sadar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. (Abe Arsyad/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Bahkan, saat ini, terhitung sudah satu bulan menjaga padi di sawah miliknya dari ancaman burung pipit atau emprit. Sapiah setiap hari ia menjaga sawah dari mulai pukul 05.00 hingga 17.00 WIB.

Menurutnya, jam paling rawan diserang adalah saat pagi hari sekitar pukul 05.00 dan 12.00 WIB. Burung pipit dinilai berbahaya meskipun sudah diusir berkali-kali, mereka akan datang kembali.

Saat petani istirahat, barang beberapa menit saja, kawanan burung pipit sudah bertengger kembali di area sawah yang sudah mulai ditumbuhi biji padi. ”Sekali obrak-obrak (mengusir, Red) burung langsung bertebaran,” ungkapnya.

Meskipun dijaga ekstra, jatah panen petani pun tetap berkurang. Itu terlihat dari banyaknya padi yang tinggal gaganya saja. ”Pernah salah satu petani di sini gagal panen, padinya habis karena tidak dijaga,” ungkapnya.

Sehingga, petani wilayah tersebut menganggap burung pipit adalah ancaman terbesar. Sementara untuk hama tikus tidak seberapa banyak. Hujan disertai angin juga menjadi hal yang diresahkan petani.

Pasalnya, jika hujan disertai angin menerpa persawahan yang sudah ada padinya, pasti akan rubuh. Dan biji-biji padi terendam air. Sehingga, petani harus memanen lebih awal dari jadwal panen yang seharusnya.

Karena jika terlalu lama terendam air, padi tidak bisa dipanen. ”Ini yang terendam air besok (hari ini, Red) saya panen. Harusnya masih minggu depan,” pungkasnya. (sad)

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia