radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Sudah Musim Hujan, Proyek Normalisasi Belum Juga Tuntas

08 Januari 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Alat berat diturunkan untuk mengerjakan proyek normalisasi Sungai Sadar di Kabupaten dan Kota Mojokerto.

Alat berat diturunkan untuk mengerjakan proyek normalisasi Sungai Sadar di Kabupaten dan Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Banjir yang terjadi di Mojokerto tahun 2017 menjadi catatan tersendiri bagi semua kalangan masyarakat. Sehingga, kewaspadaan tetap harus dijaga.

Menyusul upaya utama pencegahan banjir dengan normalisasi Sungai Sadar belum rampung digarap. Sehingga, kawasan banjir di Mojokerto belum memasuki titik aman. Hal itu itu dingungkapkan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, M. Zaini.

Menurutnya, hal itu lantaran pekerjaan normalisasi penyebab utama banjir di Sungai Sadar belum selesai. ’’Memang normalisasi ini adalah multiyears. Pekerjaannya sampai tahun berikutnya. 2018-2019 berkelanjutan,’’ ungkapnya.

Terakhir, pihaknya melakukan mitigasi sepanjang Sungai Sadar, Jumat (4/1). Mulai dari titik dekat RS Gatoel ditelusuri sampai Kedungbendo, Mojosari. Langkah itu untuk melihat sejauh mana kegiatan proyek normalisasi.

Zaini mengungkapkan, pengerjaan normalisasi tahap pertama dari dekat RS Gatoel hingga Mojosari diperkirakan sudah 80 persen. ’’Tinggal tahap kedua yang Mojosari-Jasem, Ngoro, yang belum. Mungkin tahun 2019,’’ ungkapnya.

Artinya, untuk Sungai Sadar Mojosari- Jasem, Kecamatan Ngoro, akan mulai dikerjakan tahun ini. Terkait material proyek normalisasi, pihaknya meminta para pekerja proyek untuk meminimalisir alat-alat berat yang berada di tengah sungai.

Juga gundukan-gundukan tanah bekas galian fondasi di tengah sungai. Untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu air meluap. Kedati demikian, ujar Zaini, pihak proyek normalisasi menyatakan siap bertanggung jawab manakala terjadi sesuatu yang dipicu material di sungai itu.

Sementara itu, karena normalisasi yang digadang-gadang bisa mengurangi dampak luapan air Sungai Sadar belum bisa tuntas tahun 2018, pihaknya mengimbau masyarakat agar segera melakukan pencegahan dini. Terutama kesadaran tidak membuang sampah sembarangan.

Sebab, masih banyak ditemukan sampah yang menjadi pemicu penuhnya volume sungai hingga terjadi pendangkalan. Dan, kondisi itu bisa menjadikan sumbatan atau endapan. Sehingga luapan air akan sangat mungkin terjadi.

Menurutnya, pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga ikut andil dalam hal ini. ’’Bukan hanya melarang orang untuk membuang sampah di sungai, tapi juga mencarikan solusi. Mungkin bisa dipasang kontainer di lokasi tanggul yang seringkali dibuat jujukan pembuangan sampah,’’ ungkapnya.

Menurutnya, kalau hanya dipasang larangan, namun tidak ada solusi, itu kurang tepat. Sebaliknya, jika ada solusi seperti disediakannya tempat penampungan di lokasi, itu akan lebih baik.

Untuk saat ini, pihak BPBD juga mengimbau agar masyarakat selalu memantau SIMONA atau Sistem Informasi Mojokerto Bencana yang bisa diakses di android masing-masing. Sehingga, jika ada bencana langsung bisa menyampaikan kepada BPBD.

Agar BPBD langsung tanggap. Pihaknya juga terlah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait upaya pencegahan prabencana. ’’Kemarin sudah dilakukan di Desa Sadar Tengah dan Desa Gayaman,’’ pungkasnya. (sad)

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia