radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Serapan Bulog di Tahun 2018 Meleset dari Target

06 Januari 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

: Buruh angkut menata beras di gudang Bulog Subdivre Surabaya Jalan RA Basuni Sooko, Kabupaten Mojokerto.

: Buruh angkut menata beras di gudang Bulog Subdivre Surabaya Jalan RA Basuni Sooko, Kabupaten Mojokerto. (Jawa Pos Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Kebijakan operasi pasar (OP) guna mengatasi kenaikan harga dan pasokan kebutuhan pokok di sejumlah pasar di Kota dan Kabupaten Mojokerto rupanya belum sebanding dengan jumlah bahan baku yang disediakan.

Bagaimana tidak, Bulog sebagai penyedia kebutuhan pangan menyatakan diri belum mampu memenuhi target serapan beras sebagai komoditi pangan utama masyarakat di tahun 2018 kemarin. Meski cadangan beras masih melimpah di awal tahun ini, namun situasi itu belum cukup aman dalam menjamin ketersediaan beras di pertengahan tahun 2019 mendatang.

Sehingga tuntutan serapan lebih tinggi tak dapat dihindari Bulog sejak awal tahun 2019 ini. ’’Kita belum tahu untuk target serapan tahun ini, karena memang belum ada edaran dari pusat. Cuman untuk tahun kemarin, kita tidak bisa memenuhi semuanya,’’ ungkap Kurniawan, Kabulog Subdivre II Surabaya Selatan.

Sesuai catatan serapan tahun lalu, Bulog yang membawahi kawasan Mojokerto dan Jombang ini hanya berhasil menyumbangkan 25,65 ribu ton beras saja selama 12 bulan. Atau hanya 54 persen dari target serapan sebesar 47,5 ribu ton selama tahun 2018.

Jumlah tersebut dinilai sudah masimal di tujuh kawasan lumbung padi di Mojokerto dan Jombang.  Di mana, kualitas beras yang dibeli selektif sesuai Inpres No 5 tahun 2015. ’’Sebenarnya kita ini selektif dalam pengadaan beras. Kita nggak berani membeli dengan kualitas rendah, minimal kualitasnya adalah standar beras premium,’’ imbuhnya.

Meski demikian, Wawan sapaan akrabnya tak terlalu khawatir akan kebutuhan pasokan beras yang dapat ia serap selama setahun nanti. Sebab, di akhir Februari nanti, diperkirakan masa tanam padi di kawasan Mojokerto dan Jombang telah memasuki masa panen. Sehingga bisa langsung diboyong dan dibeli dari petani sesuai HPP (harga pokok penjualan) yang sudah ditetapkan.

’’Perkiraaan mulai Februari sampai Maret kita bisa panen. Baru di bulan April sampai September, serapan agak sedikit berkurang karena masuk musim panas,’’ pungkasnya. Sebelumnya, Bulog telah menggelontorkan sejumlah komoditi bahan pokok ke sejumlah pasar di kota dan kabupaten lewat kebijakan OP.

Ada enam pasar yang dijadikan target OP sembako. Dengan rata-rata pasokan yang digelontorkan sebesar tiga ton per hari per pasar, atau mencapai 50 ton hingga seminggu ke depan. Dengan asumsi harga bahan pokok yang dijual dibawah HET (harga eceran tertinggi).

(mj/far/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia