radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader
Menggali Potensi Wisata Air Mojokerto (1)

Tak Bisa Lepas dari Majapahit

05 Januari 2019, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Direktur Jawa Pos Radar Mojokerto, Andung A. Kurniawan.

Direktur Jawa Pos Radar Mojokerto, Andung A. Kurniawan. (Nadzir/Jawa Pos Radar Mojokerto)

Beroperasinya jalan tol Surabaya – Mojokerto – Jombang – Kertosono memang sangat memudahkan dan membantu mempersingkat waktu tempuh kota-kota tersebut. Namun di sisi lain, juga bisa menjadi dilema bagi Kota Mojokerto.

 

KALAU sebelum ada jalan tol, para pengendara roda empat atau lebih, bisa melewati, dan bahkan singgah di Mojokerto, sekarang mereka tidak lagi melewati Kota Mojokerto. Maka peluang Mojokerto untuk mendapat tamu juga hilang, atau terpengaruh.

Di sisi lain, posisi Kota Mojokerto yang ‘dipisah’ dua sungai yakni Sungai Brangkal dan Sungai Ngotok serta ‘dipagari’ Sungai Brantas membuat kota ini istimewa. Keistimewaan itulah yang kemarin coba ditelusuri dan digali oleh Wawali Mojokerto Achmad Rizal Zakaria bersama tim.

Kebetulan saya kenal baik dengan Mas Supriyadi, suami Ning Ita, Wali Kota Mojokerto, kebetulan juga diajak Mas Supri ikut jalan-jalan melihat kondisi sungai di Mojokerto.

Rute pertama, rombongan melintasi Jl Hayam Wuruk sampai batas timur Kota Mojokerto dengan wilayah Kabupaten Mojokerto. Jogging Track yang dulu sempat jadi ikon Mojokerto, sudah terlihat berubah fungsi dan beberapa bagian sudah rusak.

Daerah bantaran Sungai Brantas di sisi selatan di sepanjang Jl Mayjen Sungkono juga jadi perhatian. Sebagian bantaran digunakan warga sebagai sawah, sebagian lainnya jadi kolam pancing.

Rombongan kemudian beralih menuju Pulorejo, salah satu wilayah Kota Mojokerto yang diapit Sungai Brantas dan Sungai Ngotok. Masuk dari Jembatan Pulorejo terus belok kiri menuju hutan kota terus ke Jembatan Rejoto. 

Ada pemandangan menarik dan sangat indah yang bisa dinikmati dari Jembatan Rejoto, aliran Sungai Ngotok di bawahnya yang terlihat tenang, tidak deras, dan jalur lurus ke arah timur memberi kesan tersendiri.

Apalagi di bantaran kiri kanan terlihat hamparan tanaman tebu yang memanjang sampai ujung timur sungai.Ketika melihat ke arah barat, garis lintas matahari memberikan tanda ada pemandangan indah saat matahari terhit dan terbenam.

Tampaknya Wawali Cak Rizal dan Mas Supri penasaran dan ingin lebih tahu tentang bagian-bagian Sungai Ngotok. Karena itu tak lama kemudian, rombongan pun kembali menuju Jembatan Pulorejo.

Cak Rizal yang asli Pulorejo, langsung mengajak rombongan menuju ujung pertemuan Sungai Ngotok dan Sungai Brangkal yang bertemu dengan Sungai Brantas. Dari situ terlihat jelas Jembatan Les Padangan melintang di atas Sungai Brantas.

Perjalanan singkat menelusuri sungai itu ternyata memberikan inspirasi dan jawaban tentang peluang Kota Mojokerto untuk menjadi salah satu destinasi wisata.  ’’Wisata Air Mojokerto yang disampaikan Ning Ita beberapa waktu lalu, sudah mulai bisa kita kerjakan,’’ kata Cak Rizal.

Karena Sungai Brantas, dan Sungai Brangkal, merupakan sarana transportasi pada masa Kerajaan Majapahit, wisata air Mojokerto juga bisa mengangkat nama Majapahit sebagai ikon wisata air. (*)

*)Penulis adalah Direktur Jawa Pos Radar Mojokerto.

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia