radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader

Donat dan Monas

03 Januari 2019, 20: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Abi Mukhlisin, wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

Abi Mukhlisin, wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto. (Nadzir/Radar Mojokerto)

Hari Selasa (1/1) tahun berganti. Akan tercatat dalam sejarah. Hari pertama di awal tahun. Kali pertama kita menentukan segalanya. Terutama perjalanan hidup.

Dan, semua pasti sama. Berharap jadi lebih baik. Bertambah maju dan sukses. Semua yang belum digapai, bisa dicapai. Baik pribadi. Keluarga. Maupun pekerjaan. Mari kita mulai. Yakin kita bisa.

Seperti tahun baru sebelumnya. Atau sebelumnya lagi. Tantangan akan semakin berat. Persoalan kian beragam. Seiring itu, solusi baru pun bermunculan. Terlebih dengan kemajuan teknologi. Namun, untuk semua itu, jawabannya tetap. Yakin kita bisa.

Pun dengan pemerintahan. Mojokerto. Ada kota dan kabupaten. Kota memang lebih kecil. Tapi, tantangan dan persoalannya tak ada beda. Bersentuhan dengan masyarakat dan birokrasi. Keduanya tak boleh pincang. Masyarakat harus lebih baik. Pun birokrasi. Sebab, keduanya sangat berkaitan.

Kota Mojokerto. Dulu dua kecamatan. Sekarang menjadi tiga. Meskipun ada warganya yang belum ganti KTP. Masih menggunakan data lama. Para penghuni kecamatan baru. Kranggan.

Yang awalnya Prajurit Kulon, tetep mawon. Yang Magersari, belum sempat ngurusi. Monggo, silakan diurus biar asyik. Toh sekarang kantornya baru. Dispendukcapil ada di GMSC. Gedung baru. Megah. Dan, tangganya bisa bergerak sendiri.

2019. Daerah berjuluk Kota Onde-Onde ini sedang memantapkan tekad. Bukan memperbanyak onde-onde agar gampang dicari. Tapi, tekad untuk berbenah diri. Pemerintah dan warganya diajak maju melangkah. Dengan daerah tetangga, jangan sampai kalah.

Tekad itu diusung pemimpin baru. Wali Kota Ika Puspitasari dan Wawali Achmad Rizal Zakaria. Di bawah nakhoda baru ini Kota Mojokerto sangat mungkin jadi asyik. Setidaknya dari panggilan. Ning dan Cak. Ning Ita dan Cak Rizal. Siapa pun yang memanggil jadi saudaranya. Tentunya saudara muda.

Berangkat dari tekad dan asyik, langkah berbenah dimulai. Donat. Nama kue empuk itu kerap disebut Ning Ita. Jauh sebelum pelantikan. Bahkan, hingga mendekati pengambilan sumpah.

Belum tahu, apakah sampai sekarang donat itu masih ada. Yang suka donat, silakan kepingin memakan. Yang tidak suka donat, silakan kepingin menyingkirkan.

Donat memang kue. Dan bisa dimakan. Namun, yang dimaksud Ning Ita bukan itu. Melainkan gambaran Kota dengan Kabupaten Mojokerto. Keberadaan kota dikurung atau dilingkari wilayah kabupaten. Saat ini, pembangunan di kota jauh tertinggal.

Tahun-tahun sebelumnya, kabupaten terus bergerak. Program pembangunan digeber. Infrastruktur dibenahi. Jalan mulus dan lebar. Bahkan, lebih kuat. Belum lagi pembangunan bidang lain. Fisik maupun nonfisik.

Sedangkan kota? Bukannya diam. Pembangunan tetap ada. Namun, dilihat dari atas, mungkin tidak wah seperti kabupaten. Kabupaten begitu menonjol. Dari kondisi itulah gambaran terpampang. Donat. Kota pada posisi lubangnya.

Ning Ita tidak mau itu. Donat harus dihabiskan. Jalan satu-satunya adalah berbenah. Maju melangkah, ayo berbenah. Mumpung awal tahun dan jabatan. Langsung tancap gas. Seabrek program telah disiapkan.

Termasuk yang diprioritas untuk segera dijalankan. Yakni, penyelesaian persoalan banjir, pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan ekonomi yang berbasis kerakyatan, dan mengembangkan potensi wisata.

Dan, dalam kaitannya dengan membangun kota, Ning Ita bahkan sudah menebar Spirit of Majapahit. Donat itu memang harus hilang. Belum tahu apa gambaran selanjutnya. Apakah akan diganti Monas.

Atau bentuk apa saja yang tidak menggambarkan kota tertinggal dengan tetangga. Bahkan, untuk itu, Ning Ita dan Cak Rizal sudah menyiapkan segalanya. Selain satker yang ada, juga menyiapkan tim sendiri. Tim kreatif. Kita tunggu kreasinya di tahun ini.

Lantas bagaimana dengan Kabupaten Mojokerto? Bisa dipastikan juga mempunyai harapan besar. Hidup tanpa harapan adalah kosong. Dan, kabupaten tidak ingin kosong. Meskipun beberapa bulan terjadi ’’kekosongan’’. Orang kedua yang bergerak. Wabup Pungkasiadi.

Tahun-tahun lalu, dengan motor Bupati Mustofa Kamal Pasa (MKP), kabupaten unggul. Mampu menciptakan ’’donat’’. Empuk dan bisa dinikmati. Lebih bagus dalam pembangunan dibanding kota. Saat ini, kondisi berubah.

Situasi birokrasi tidak seperti dulu. Wabup Pungkasiadi harus membuktikan. Bisa atau tidak.  Setidaknya, kabupaten sudah punya modal. Besar lagi. Pembangunan yang ada. Potensi yang tersedia. Meskipun demikian, tetap butuh kerja keras.

Diperlukan usaha, termasuk inovasi jika ingin lebih. Dan, semua itu sudah disiapkan. Termasuk melakukan sinergi dengan pemerintah pusat. Kaitannya dengan pemerataan pembangunan.

Selain itu, kabupaten juga bakal menggarap potensi lebih maksimal. Pariwisata salah satunya. Objek potensial dibangun dan dikembangkan serius. Bukti serius itu dengan gelontoran anggaran. Wisata Tanjungan akan digelontor Rp 8,5 miliar.

Coban Canggu dan food court-nya Rp 1 Miliar. Pun wisata Padusan Air Panas, rencana digerojok Rp 5 miliar.  Tentunya masih banyak program yang disiapkan. Terkait birokrasi dan masyarakatnya.

Seabrek pula strategi yang telah dimatangkan. Dengan semua itu, mampukah kabupaten mempertahankan donat? Atau sebaliknya jadi penikmat Monas di kota? Kota dan kabupaten, silakan berlomba. Kita tunggu hasilnya tahun ini. (*)

*) Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia