Jumat, 22 Mar 2019
radarmojokerto
icon featured
Mojopedia

Riwayat Jalur KA di Utara Sungai Brantas Mojokerto

03 Januari 2019, 22: 30: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Eks Stasiun Lespadangan, Kecamatan Gedeg yang pernah menjadi tempat pemberhetian kereta api di jalur rel utara Sungai Brantas.

Eks Stasiun Lespadangan, Kecamatan Gedeg yang pernah menjadi tempat pemberhetian kereta api di jalur rel utara Sungai Brantas. (Rizal Amrulloh/Radar Mojokerto)

DI Mojokerto pernah mengalami masa kejayaan moda transportasi kereta api (KA). Sedikitnya, terapat tiga operator jaringan kereta api. Salah satunya adalah Oost-Java Stoomtram Maatschapij (OJS).

Sampai saat ini, masih dapat dijumpai sisa bangunan maupun jalur kereta api di utara Sungai Brantas itu. Di antaranya adalah keberadaan eks Stasiun Lespadangan, Kecamatan Gedeg.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, OJS membuat dua jalur rel di Mojokerto. Yaitu, yang menghubungkan antara Mojokerto dan Kecamatan Ngoro, serta Gempolkrep dan Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo.

Dia menjelaskan, OJS berpusat di Kota Surabaya. Operator KA swasta itu didirikan Th. Slaiter dan H. Van Rinsum saat mengajukan izin pembuatan rel dari palabuhan ujung ke Wonokromo. ”Jalur itu selesai dibangun tahun 1885,” jelasnya.

Berikutnya OJS mendapatkan izin lanjutan untuk membuat rel dari Sepanjang ke Wonokromo. Depo atau bengkel OJS saat itu berada di Wonokromo yang sekarang berubah jadi Terminal Joyoboyo. Jalur kereta api terus dikembangkan hingga ke wilayah Mojokerto dan Jombang.

Sejarawan yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, dibangunnya jalur rel di Mojokerto oleh OJS bermula dari pemintaan seorang taipan gula Gerrit Eschauzier. Alasannya, pemilik Eschauzier Concern yang menaungi beberapa pabrik gula (PG) itu terkendala angkutan untuk produksi pabrik miliknya. Salah satunya adalah di PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg.

Pada waktu itu, hasil produksi gula diangkut menggunakan perahu ke pelabuhan Surabaya. Namun, perahu pengangkut itu kerap tidak beroperasi saat musim kemarau. Sebab debit air sungai yang mengecil menyebabkan perahu kandas.

”Selain itu, ongkos sewa perahu juga dianggap tinggi hingga menyebabkan harga jual gula Gempolkrep ikutan naik,” ujarnya. Namun, saat menerima usulan itu, OJS menganggap jalur ke Gempolkrep tidak cukup prospektif untuk dibuatkan rel KA.

Mengingat, perkembangan ekonomi wilayah utara Sungai Brantas kala itu tidak sebaik di wilayah selatan. Untuk merayu agar OJS menyetujui, Eschauzier bersedia memberi pinjaman modal dan menawarkan kontrak angkut gula dari pabrik-pabrik gula miliknya.

Antara lain, PG Sentanen-Lor, PG Brangkal, dan PG Dinoyo.  ”Hingga akhirnya OJS menyetujui dan mulai membangun jalur rel ke Gempolkrep pada tahun 1888,” bebernya. Yuhan menjelaskan, pembangunan dimulai dari Stasiun Krian ke Balongbendo untuk melayani PG Balongbendo.

Selanjutnya dibangunlah jembatan melintasi Kali Mas ke Perning, dekat PG Perning, Kecamatan Jetis. ”Pembangunan diteruskan ke barat menuju Desa Jetis lalu belok ke selatan hingga ke Desa Mlirip. Jaringan rel itu berhenti di Gempolkrep,” tukasnya.

Di Desa Lespadangan, OJS membuat sebuah stasiun pemberhentian KA. Dipilihnya lokasi tersebut lantaran dekat dengan Kota Mojokerto yang berada di sisi selatan Sungai Brantas. Antara Lespadangan dengan Kota Mojokerto dihubungkan dengan jembatan yang di sisi selatannya terdapat halte KA milik OJS.

Halte itu dinamakan stasiun kali yang terhubung dengan stasiun OJS di Midji. Kota Mojokerto. ”Jadi stasiun Lespadangan itu dibuat untuk melayani penumpang,” tandasnya. 

(mj/ram/ris/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia