radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader

Body Shaming

29 Desember 2018, 07: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Khudori Aliandu, wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

Khudori Aliandu, wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto. (Nadzir/Radar Mojokerto)

HAMPIR semua kejahatan sejatinya menjadi ancaman bagi pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas). Termasuk di Mojokerto.

Bahkan, dalam kalender harkamtibmas, naik turunnya aksi kriminalitas sudah bisa ditebak. Kondisi seperti juga terjadi di hampir di setiap kota. Situasi itu sudah menjadi roda berputar setiap tahunnya.

Seperti menjelang Lebaran, Natal dan tahun baru (Nataru) seperti sekarang ini. Secara otomatis tren tindak kejahatan akan meningkat. Tren ini karena tidak lepas dari kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, tingginya perputaran uang yang beredar di tengah masyarakat, membuat kejahatan juga mengikuti. Tak urung, peran, ketegasan, sekaligus pencegahan petugas dalam menekan pun diuji.

Apalagi, dewasa ini, dengan berkembangnya teknologi informasi (TI) yang cukup pesat, membuat pelaku kejahatan kian cerdik dalam beraksi. Seperti halnya yang terjadi pada kasus pembobolan mesin ATM BCA di Indomaret Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto pertengahan oktober lalu.

Untuk menguras uang Rp 673,7 juta dari mesin ATM, pelaku tak membutuhkan waktu lama. Dalam satu jam saja, komplotan ini bisa membongkar brankas mesin ATM berbahan besi tersebut. Pembobolan ini tergolong profesional karena hanya bermodal referensi melalui YouTube.

Sehingga, kondisi itu mengharuskan penegak hukum memiliki kompetensi selangkah lebih maju. Menyusul, kejahatan dunia maya muncul dengan sendirinya seiring dengan perkembangan TI. Bahkan, berkembangnya teknologi dewasa ini disebut-sebut menjadi pedang bermata dua.

Di satu sisi memberikan dampak positif bagi kemajuan zaman, di sisi lain berdampak negatif dan bahkan menimbulkan tindak pidana jika tidak dimanfaatkan dengan bijak.

UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektonik (ITE). Lebih khusunya lagi, tak lama ini, body shaming juga kategori masuk tindak pidana.

Istilah body shaming ini merujuk kepada mengkritik dan mengomentari secara negatif fisik atau tubuh atau penampilan seseorang. Semisal kok makin gemuk saja sekarang. Itu manusia apa gapura.

Mulanya, ejekan-ejakan itu sebelumnya banyak dimanfaatkan masyarakat jadi bahan lelucon. Tapi, kini aturan sudah berbicara lain. Tidak ada kompromi bagi mereka yang mengkritik fisik seseorang. Tidak tahu pasti apa yang menjadi pertimbangan.

Namun, yang jelas, dengan berlakunya body shaming membuat pengguna media sosial (medsos) dituntut harus berhati-hati dan lebih bijak saat berekspresi. Jika tidak mau celaka. Meski beberapa pelaku body shaming mengaku hanya bercanda, namun tetap saja ini dinilai bentuk bullying.

Artinya, perlu diketahui, segala penghinaan yang dilakukan di medsos ternyata termasuk ranah tindak pidana. Pelakunya bisa dijerat dengan pasal 27 ayat 3, UU ITE. Ancamannya, dapat dipidana paling 4 tahun dan atau denda maksimal Rp 750 juta.

Kendati begitu, perlu diketahui, bahwa ketentuan ini merupakan delik aduan. Di mana dalam penyelidikannya memang harus ada korban yang resmi melapor. Sejauh tidak ada yang melapor dan dirugikan, kondisi itu aman-aman saja.

Polres Mojokerto menyebut angka kriminalitas di berbagai wilayah kepolisian memang lebih cenderung kepada proses pencegahan. Menyusul, bisa dipastikan pelaku kejahatan akan tetap memonitor petugas. Apalagi, jika melihat tren kejahatan tersebut memang terdapat perkembangan.

Misalnya dalam hal modus, namun perkembangan tersebut sudah dapat terbaca. Namun, terlepas dari itu, para penegak hukum dituntut lebih jeli. Berdasarkan teori aktivitas rutin atau routine acktiviti theory, terjadinya suatu tindak kejahatan ini lantaran bertemunya tiga unsur utama dalam ruang dan waktu yang sama.

Pertama, pelaku yang termotivasi atau motivated offenders. Adanya pelaku kejahatan. Pelaku yang termotivasi itu termasuk, karena kebutuhan dan kebiasaan. Kedua, target yang sesuai atau suitable target. Artinya, adanya sasaran atau calon korban yang sesuai.

Ketiga, ketiadaan pengamanan atau petugas absence of capable guardians. Sehingga, tiga unsur utama terjadi tindak kejahatan harus bisa diredam sedemikian mungkin. Di sisi lain, tren kejahatan juga layaknya teori balon.

Jika upaya preventif seperti patroli dilakukan rutin dan merata, bisa dipastikan angka kejahatan akan ditekan secara menyeluruh. Sebaliknya, jika hanya satu sisi ditekan, sisi yang lain akan menggelembung.

Sebab, bagaimanan pun juga pelaku kejahatan akan melihat peluang dengan objek menarik. Objek ”menarik’’ di sini bisa objek yang lemah. Seperti wanita dan anak-anak atau objek dengan penjagaan lemah. Sesuai arahan Kapolres Mojokerto AKBP Setyo Koes Heriyatno kini mulai digencarkan Mojokerto Raya.

Kota dan kabupaten akan bersinergi bersama dalam menjaga harkamtibnas. Diharapkan dengan adanya sinergitas yang lebih kuat lagi komitmen untuk menanggulangi kejahatan. Sehingga lebih maksimal.

Lebih maksimal jika bersinergi daripada berkompetisi. Walaupun kompetisi tetap dilakukan, tetapi kompetisi yang konstruktif bukan kompetisi yang menjadi ego (destruktif). Karena pelaku kejahatan, baik di kota maupun kabupaten sejatinya adalah musuh yang harus diberantas bersama.

*Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto

(mj/ori/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia