radarmojokerto
icon featured
Sambel Wader

Sepak Bola Saja kok Repot

29 Desember 2018, 01: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Farisma Romawan, wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

Farisma Romawan, wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto. (Nadzir/Radar Mojokerto)

DESEMBER, masuk di pengujung tahun 2018. Waktunya merefleksikan diri. Mengenang peristiwa selama setahun terakhir untuk dijadikan bahan evaluasi di tahun berikutnya.

Termasuk mengenang jasa tokoh atau sosok yang paling berpengaruh terhadap kehidupan selama ini. Dan bicara soal tokoh fenomenal di bulan ke-12 ini, penulis lebih condong pada sosok kharismatik menurut kacamata pribadi.

KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur ini selalu menjadi perbincangan orang banyak. Khususnya di kalangan Nahdliyin atau warga NU, bahkan nonmuslim. Meski raga beliau telah tiada, namun jasa dan sikapnya masih hangat untuk dibahas.

Bahkan diteladani. Termasuk, ke-nyelenehan-nya. Baik selama menjadi ulama, Presiden RI ke-4, hingga sebagai guru bangsa dan Ketua PB NU. Tidak sembarang orang mampu menirukan ’’kegilaan’’ beliau yang justru banyak disadari orang awam setelah peristiwa terjadi.

Dengan jargonnya gitu aja kok repot, sikap dan gagasan Gus Dur dinilai kerap menerobos masa depan yang tak banyak diperkirakan sebelumnya. Sikap gagasan nyeleneh itu tidak hanya dalam unsur agama, politik, negara, dan budaya saja.

Dalam hal olahraga pun, cucu hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari ini juga kerap menyikapi persoalan olahraga, utamanya sepak bola. Buktinya, puluhan hingga ratusan kolom esai sepak bola pun pernah beliau tulis di belbagai media masa.

Baik saat mengulas Piala Eropa 1988, 1992 hingga 1996, atau saat membahas World Cup 1982, 1986, 1990, 1994, hingga 1998. Bahkan, menurut Andreas W. Marbun, pengamat sepak bola Indonesia dalam esainya bertutur, bahwa keterlibatan Gus Dur dengan sepak bola sangat mendalam.

Tidak hanya mengamati perkembangan teknis formasi dan strategi, tapi juga faktor nonteknis persepakbolaan suatu negara. Salah satunya Indonesia yang sering ia kritik melalui PSSI.

Saking pahamnya, Gus Dur tak lupa menyindir akan situasi sepak bola Indonesia di era-era awal peleburan kompetisi Galatama dan kompetisi Perserikatan yang penuh ’’permainan’’. Di mana, 75 persennya adalah usaha di luar lapangan, dan 25 persen lainnya puncak dari usaha dari luar lapangan itu sendiri.

’’Pemain juga penting. Tapi lebih dulu pengurusnya dan ujungnya pada pelatih. Pada manajer,’’ selorohnya pada media kala itu. Nah, sindiran Gus Dur kala itu nampaknya masih terus terpelihara sampai saat ini.

Di mana, rumor adanya mafia dan judi di balik pertandingan dan kompetisi di Indonesia semakin repot untuk diperbincangkan. Sebuah usaha di luar lapangan yang sangat memengaruhi terhadap kondisi di dalam lapangan. Entah apa yang diketahui Gus Dur kala itu.

Hingga ia merepotkan diri untuk mengomentari usaha luar lapangan itu, yang disebut-sebut masih terus berjalan pesat sampai era modern saat ini. Tidak hanya di kasta tertinggi saja. Di kasta kedua pun tak luput dari magis ”The Godfather” yang banyak berkeliaran.

Salah satunya yang disebut-sebut mirip mobil pabrikan Jerman, Volkswagen atau VW. Termasuk klub kebanggaan publik dan suporter fanatik Mojokerto PSMP. Yang katanya ikut merasakan magis si ”Tangan Tuhan” itu sejak dua musim terakhir.

Sampai-sampai mengundang perhatian banyak netizen dan suporter luar daerah untuk repot-repot kepo (knowing every particular object) lewat hujatan-hujatan kepada tim yang bermarkas di Stadion Gajah Mada Mojosari ini.

Mulai dari komposisi tim, cara bermain tim, hingga ulah suporternya yang kerap bermanuver dengan tingkah dan koreo berbeda. Akan tetapi, menurut kacamata penulis, hujatan seperti itu wajar-wajar saja.

Sebab, yang namanya pendukung selalu didasari oleh sifat militansi yang membungkam kemajuan manusia dalam berpikir objektif. Seperti yang diterangkan Francis Bacon di salah satu gagasannya dalam novum organum yang berupa konsep idola.

Di mana, ada empat jenis sifat idola yang semuanya menghambat pemikiran kritis seorang manusia. Tidak hanya di tingkat suporter, di tingkatan pengurus atau manajemen pun ternyata juga memiliki ’’loyalitas’’ besar dalam membela tim kesayangan.

Seperti yang ditunjukkan pengurus PSMP yang tak segan menyewa kuasa hukum sekaliber Muhammad Sholeh demi bisa menganulir sanksi larangan bermain lantaran dituding terlibat match fixing oleh Komdis PSSI.

Sekalipun kita tahu, apa yang sudah terjadi di empat laga PSMP seperti yang dituduhkan komdis. Pun demikian PSSI yang dalam pandangan penulis juga tak pernah menindak ”The Godfather” atau mobil Jerman seperti yang ramai diperbincangkan sebulan terakhir.

Sehingga perseteruan hangat antara PSMP dengan PSSI seolah mengaburkan persoalan inti, tentang siapakah dalang di balik match fixing itu, dan bagaimana penindakannya. Namun, penulis di sini hanya ingin mengimbau kepada pembaca, biarlah hal itu menjadi perdebatan hangat yang semakin digosok semakin menambah popularitas.

Kita pun tak usah repot-repot mengomentari atau bahkan terlibat perseteruan hingga muncul sifat sarkastik atau kebencian mendalam terhadap lawan idola Anda. Sebab, situasi seperti itu bisa jadi sudah diseting secara matang. Daripada kita harus berdebat panjang tanpa tahu apa manfaatnya.

Toh, masih banyak persoalan yang harus kita selesaikan daripada hanya membahas tim yang sudah dua kali ini mendapat kisah pahit bersama sang VW. Kurang puaskah kita dijanjikan naik ke kasta utama yang hanya semusim saja lewat merger dengan Persegi Bali di tahun 2006 lalu.

Atau kita lebih baik pindah konsentrasi saja ke Liga 3. Ketika satu tim lainnya asal Mojokerto, Persem mulai menukik prestasinya. Bahkan, hanya dengan semusim saja, Laskar Damarwulan berhasil menggebrak dengan capaian menembus zona nasional.

Padahal, mereka baru saja aktif usai vakum selama 4 tahun. Tapi, lagi-lagi bukankah situasi itu sama seperti PSMP. Yang sempat jeblok di ISC B tahun 2016. Namun, berkembang pesat di Liga 2 musim 2017 dan 2018.

Dua  fenomena yang semakin asyik dibahas ketika kita sadar, ternyata betapa repotnya menangani sepak bola Indonesia. Ataukah kita justru bersikap terbalik seperti Gus Dur, dengan meminjam jargonnya, sepak bola saja kok repot?

* Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Mojokerto.

(mj/far/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia