radarmojokerto
icon featured
Sportainment

Pasca Kasus Match Fixing, PSMP Kesulitan Hubungi Krisna Adi

28 Desember 2018, 23: 55: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Presiden Klub PSMP Firman Efendi dan kuasa hukum PSMP Sholeh (kanan).

Presiden Klub PSMP Firman Efendi dan kuasa hukum PSMP Sholeh (kanan). (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO - Kabar kecelakaan yang menimpa salah satu pemain PSMP, Krisna Adi Darma, Sabtu (22/12) malam cukup menggugah keprihatinan pengurus.

Bagaimana tidak, nasib pemain bernomor punggung 9 ini terus dihantam permasalahan serius di tengah isu match fixing yang mendera persepakbolaan Indonesia.

Termasuk The Lasmojo, klub terakhir yang ia bela sebelum dijatuhi sanksi larangan bermain seumur hidup oleh Komdis PSSI. Akan tetapi, upaya pengurus untuk menjenguk Krisna di Jogjakarta rupanya terganjal komunikasi.

Di mana, sejak laga terakhir melawan Aceh United, 19 November lalu, mantan pemain PSIM ini tak dapat lagi dihubungi. ’’Kita sudah mencoba untuk mencari dia. Tapi, nomor handphone-nya tidak aktif. Kita juga cari informasi ke rekan-rekannya, juga tidak ada komunikasi intensif dengannya,’’ tutur Firman Efendi, Presiden PSMP.

Terputusnya komunikasi antara manajemen dengan Krisna sejak PSMP gagal melaju ke semifinal sebetulnya disadari pengurus sebagai hal yang wajar. Pasalnya, kontrak kerja sama antara pemain dengan manajemen juga sudah berakhir sejak awal Desember.

Sehingga menjadi kewajiban pemain untuk tidak lagi memperkuat atau menjalani aktivitas bersama PSMP. Tidak hanya kontrak yang habis, rumor soal Krisna terlibat match fixing usai gagal mencetak gol penalti saat melawan Aceh United juga cukup memengaruhi psikologisnya.

Sehingga sulit untuk ditemui. Bahkan, ketika manajemen mengonfirmasi soal pemanggilannya oleh Komdis PSSI hingga diketahui mangkir, juga tak dapat dikonfirmasi apa penyebabnya.

Hal ini yang diakui pengurus cukup menyulitkan dalam mengurai persoalan atas tuduhan match fixing bersama PSMP. ’’Sampai saat ini kita juga nggak tahu kenapa dia tidak hadir saat dipanggil PSSI,’’ pungkasnya.

Sebelumnya, manajemen PSMP menyatakan mengajukan upaya banding atas sanksi yang telah mereka terima dari PSSI. Di mana, sanksi tersebut dinilai cacat hukum dan tidak memenuhi sesuai pasal 72 Kode Disiplin PSSI.

Sehingga, PSMP dinilai menjadi tumbal atas ketidakbecusan PSSI dalam mengembangkan kualitas sepak bola di Indonesia. Ditanya soal pembelaan terhadap Krisna, Firman mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada kuasa hukum.

Di mana, segala hal yang bersangkutan dengan PSMP dan pemain, menjadi tanggung jawab kuasa hukum. ’’Kita juga belum tahu kepastian nasib kita sendiri bagaimana. Kita juga nggak bisa menghubungi pemain. Jadi, nggak bisa komunikasinya,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia