Rabu, 20 Mar 2019
radarmojokerto
icon featured
Features
Pergelaran Ludruk pada Perayaan Natal

Gambarkan Jati Diri dan Identitas Masyarakat Indonesia

27 Desember 2018, 20: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Salah satu adegan ludruk diperagakan di GKI Pacet, Senin  malam (25/12).

Salah satu adegan ludruk diperagakan di GKI Pacet, Senin malam (25/12). (Abe Arsyad Radar Mojokerto)

Hari Natal adalah hari besar yang sangat dinanti umat Kristiani. Bermacam perayaan ramai-ramai digelar. Namun, yang satu ini bisa dibilang lain dari yang lain.

Umat Kristiani wilayah Pacet memperingati hari besarnya dengan menggelar ludruk yang merupakan seni teater tradisional asli Jawa Timur. Berikut gambaran singkat pagelaran ludruk di dalam GKI Pacet.

PERAYAAN Natal di GKI Pacet tahun ini berbeda dengan pada umumnya. Sebab, di dalam rumah ibadah umat Kristiani tersebut, bukan irama musik ritmis berupa piano, gitar atau pun alat musik akustik lain yang terdengar.

Melainkan, irama tradisional gamelan yang terdengar kental pada Senin malam (25/12). Gema gong, letupan bonang, ritmis saron dan peking mengalun iringi lagu-lagu Kristiani yang dinyanyikan bersama. Mulai lagu Malam Kudus, Hai Mari Berhimpun, dan Gloria In Excelsis Deo.

Tak hanya itu, acara utama pada malam peringatan Natal itu adalah pergelaran ludruk. Diawali tarian Ngremo, ludruk dengan naskah Tiga Pusaka Wasiat digelar. Pergelaran Ludruk yang disutradarai Kukun Tri Yoga itu dimainkan 14 orang serta 6 orang sebagai pemusik gamelan.

Itu hasil proses selama lima kali latihan dengan formasi  kolaborasi antara komunitas persada dengan jemaat GKI Pacet. Turut memeriahkan juga dua bintang tamu yang merupakan pelawak Karya Budaya. Yaitu, Cak Uyis dan Cak Liwon. Ludruk yang berdurasi sekitar 1,5 jam itu berhasil dipentaskan dengan meriah.

Andreas Kristianto, rohaniwan GKI Pacet, mengungkapkan, dari dulu GKI Bajem Pacet adalah gereja yang sangat menghargai budaya-budaya lokal. Saat acara Natal, mereka selalu menampilkan tarian-tarian daerah.

Dengan cara menghidupi budaya, agama menjadi kontekstual dan peka terhahadap nilai-nilai keluhuran bangsa. ’’Kami ingin merayakan Natal di dalam kesahajaan, kerarifan lokal, dan kesederhanaan yang ada di dalam nilai-nilai Ludruk,’’ katanya.

Hal itu karena sebenarnya pentas ludruk menggambarkan jati diri dan identitas masyarakat Indonesia. Itu sesuai dengan tema ibadah Natal kali ini yaitu Damai Sejahtera di Bumi Pancasila. Juga menjadi kebahagiaan bagi pihaknya.

Sebab, perayaan Natal kali ini selain dihadiri oleh jemaah gereja di wilayah Pacet, turut hadir juga dari jaringan Gusdurian, komunitas seni persada serta puluhan umat Islam. ’’Jadi tidak hanya warga Kristiani saja yang datang, tetapi juga teman-teman Muslim. Semuanya guyub dan menampilkan persaudaraan yang kuat antarsesama anak bangsa,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Sutradara ludruk, Kukun Tri Yoga, mengungkapkan, ini adalah pentas kali pertama komunitas perasada dalam acara pergelaran ludruk di Gereja. Dengan mementaskan naskah berjudul Tiga Pusaka Wasiat  hasil buah ide dari Muji, Sutradara dari Ludruk Karya Budaya. Menurutnya, naskah tersebut berisi pesan moral bahwa semua manusia sangatlah perlu perdamaian di dalam keluarga.

Apalagi di negara Indonesia. ’’Untuk ludruk sendiri, kalau dari pihak gereja saja sangat menghargai budaya asli Jawa Timur, terlebih lagi lagi komunitas-komunitas yang lain,’’ tegas Kukun yang juga tergabung dalam jaringan Gusdurian Mojokerto itu.

Ketua GKI Pacet, Kusnan, mengaku, begitu antuasias dengan perayaan Natal kali ini. Karena, menurutnya, ini adalah upaya untuk mengangkat kembali budaya ludruk yang sudah memudar di kalangan anak muda. ’’Dari acara ini, kita semua berharap pemerintah juga ikut terlibat di dalam memperhatikan nasib kesenian rakyat asli Mojokerto,’’ tukasnya. (abe arsyad)

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia