radarmojokerto
icon featured
Sportainment

PSMP Anggap Hukuman Kasus Match Fixing Sanksi Karet

25 Desember 2018, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Skuad PSMP saat merayakan gol kala mengarungi kompetisi Liga 2 di Stadion Gajah Mada Mojosari, Mojokerto, beberapa waktu lalu.

Skuad PSMP saat merayakan gol kala mengarungi kompetisi Liga 2 di Stadion Gajah Mada Mojosari, Mojokerto, beberapa waktu lalu. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Sanksi larangan bermain yang dialami PS Mojokerto Putra (PSMP) terus menjadi pertanyaan di kalangan pengurus dan manajemen.

Bagaiman tidak, selain tidak didasari bukti yang kuat dan nyata, sanksi yang diberikan juga dinilai sangat membingungkan. Sehingga menimbulkan tanda tanya besar pengurus akan di balik keputusan Komdis PSSI itu.

Presiden Klub PSMP, Firman Efendi, menjelaskan, poin kebingungan yang dimaksud adalah soal waktu larangan bermain. Di mana, dalam materi SK nomor 106/L2/SK/KD-PSSI/XII/2018 disebutkan, bahwa sanksi bagi PSMP adalah larangan bermain di Liga 2 musim 2019. Pernyataan tersebut dianggap menimbulkan banyak persepsi. Apakah sanksi ini hanya semusim nanti atau kah selamanya.

’’Kalau semacam itu kan seperti sanksi karet. Bisa panjang, bisa pendek. Artinya, sanksi PSMP bisa saja hanya semusim saja, atau juga selamanya. Karena di SK itu juga tidak diterangkan secara detail bagaimana ke depannya nanti,’’ ungkapnya.

Keresahan Firman tersebut rupanya didasari juga dengan regulasi kompetisi selama Liga 2 bergulir. Di mana, tim yang gagal menjalani pertandingan, maka hukumannya adalah degradasi.

Nah, keterangan tersebut yang tidak tercantum dalam SK. Sehingga PSMP kemungkinan besar masih bisa bermain kembali di Liga 2 musim di berikutnya pasca penjatuhan sanksi.

Akan tetapi, persoalan seperti itu juga tidak luput dari kemungkinan kontroversi. Yakni, tentang bagaimana nasib tim yang promosi dari Liga 3 ke Liga 2. setelah PSMP lepas dari sanksi dan kembali berkompetisi.

’’Makanya itu, persoalan ini yang juga kita jabarkan di materi banding,’’ tambahnya. Nah, untuk lebih mempertajam argumen banding, pengurus PSMP kini mulai menyusun strategi terbaiknya untuk bisa menganulir SK.

Termasuk memecahkan solusi atas persoalan yang mendera sepak bola Indonesia. Pihaknya juga tak segan memakai tim kuasa hukum terkemuka yang mahir dalam menjabarkan argumentasi logis dan gamblang tentang persoalan match fixing.

Sehingga dapat menyelematkan PSMP dari hukuman demi bisa menjalani kompetisi. Meski tengah hidup dalam kondisi serba pas-pasan sejak Liga 2 bergulir 2017 lalu.

’’Apa pun akan kami tempuh asalkan PSMP ini bisa lepas dari sanksi. Karena tudingan itu tidak ada unsur bukti yang jelas. Hanya berdasarkan analisa lembaga luar negeri,’’ pungkasnya. 

(mj/far/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia