radarmojokerto
icon featured
Features
Destinasi Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo

Sulap Gang Sepi Jadi Wisata Bibit

20 Desember 2018, 23: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Salah satu gang di Desa Jiyu, Kec. Kutorejo, Kab. Mojokerto, sudah disulap jadi objek wisata.

Salah satu gang di Desa Jiyu, Kec. Kutorejo, Kab. Mojokerto, sudah disulap jadi objek wisata. (Iis Ulin Nuha/Radar Mojokerto)

Kemajuan suatu desa tak lepas dari gabungan semangat warga dan perangkat untuk bersama mewujudkannya. Mencari titik keunggulan dan mengembangkannya.

Itulah yang dilakukan warga Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo. Dengan memanfaatkan keahlian warga di bidang pertanian, terwujudlah desa wisata bibit yang ramai pengunjung.

SIANG itu matahari tertutup mendung tipis. Angin yang berembus sejuk di Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, membuat orang mengira bahwa hari masih pagi. Bagaimana tidak, dengan beragam tanaman sayur di setiap rumah warga menambah segar suasana.

Terlebih gang yang berada tepat di depan Balai Desa Jiyu. Orang pasti akan terpaku melihat pintu masuk yang dijaga seekor gajah hitam buatan warga. Saat melangkahkan kaki ke jalan gang itu. Mata langsung disuguhi pamandangan payung-payung cantik bergelantungan.

Ketika melihat ke bawah, terlihat lukisan-lukisan lucu yang menempel pada aspal. Kanan kiri berbaris rapi rak-rak beragam tanaman sayur-mayur nan hijau. Dan semua itu tersaji di sepanjang jalan Gang 1 Dusun Tumpangsari, Desa Jiyu.

Pemandangan itu memang baru. Awalnya hanya beberapa warga yang menanam sayur di depan rumah. Itu pun untuk kebutuhan sehari-hari. Kemudian mereka ikut lomba KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari) yang terdiri dari warga RT 01 dan RT 02. Sehingga, jalan dihias.

’’Setiap hari ada tamu-tamu yang berkunjung dari berbagai daerah. Banyak juga yang beli tanaman bibit di sini. Yang paling laris adalah tanaman kelor merah. Karena tumbuhan langkah itu memiliki banyak manfaat untuk kesehatan,’’ ujar Ketua RT 02 Dusun Tumpangsari, Matsoim.

Karena beberapa hari diguyur hujan, warga terpaksa mengamankan tanaman-tanaman yang berbaris itu. Payung-payung yang menghiasai jalan harus diambil. Karena payung itu dibutuhkan saat hujan tiba. Dan lomba KRPL juga berakhir.

Kendati demikian, masih ada saja pengunjung membeli tanaman bibit. Atau sekadar melihat-lihat. Melihat situasi itu, beberapa perangkat desa turun untuk memanfaatkan situasi viralnya Desa Jiyu agar beralih menjadi desa wisata.

Payung warna-warni digelar kembali di sepanjang jalan Gang 1. Diadakan pelatihan pertanian tentang pupuk organik khusus untuk warga.

’’Kami mengikuti pembelajaran pupuk organik di balai desa. Banyak manfaatnya. Mulai dari pembibitan sampai perawatan dari hama. Semuanya dari bahan organik. Tidak boleh pakai bahan kimia sama sekali,’’ ungkap warga Desa Jiyu, Rifki.

Warga mengaku tidak ada yang sulit mewujudkan semua itu. Mereka yang mayoritas petani sudah terbiasa bercocok tanam. Semua tanaman ditata kembali. Bagian paling timur disediakan spot selfie dengan berbagai bunga yang indah. Ban bekas disulap jadi hiasan yang berwarna-warni.

Lengkap dengan tempat duduk yang nyaman. Warga di RT yang lain mulai ikut menanam sayur di rumah dengan polybag dan kaleng-kaleng bekas.

’’Bertahap akan menambah kawasan wisata bibit ini ke dusun-dusun yang lain. Semua warga akan mulai menanam berbagai jenis sayuran serta tanaman obat. Benar-benar akan menjadikan Desa Jiyu ini sebagai desa wisata tanaman bibit,’’ pungkas Matsoim. (iis ulin nuha)

(mj/ris/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia