radarmojokerto
icon featured
Features
Sulap Batok Kelapa Jadi Aksesoris Bernilai

Terinsipirasi berkat Minum Airnya, Pesanan Tembus Jerman

19 Desember 2018, 21: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Ahdhanil Farichi menunjukkan miniatur berbahan batok kelapa hasil kreasinya.

Ahdhanil Farichi menunjukkan miniatur berbahan batok kelapa hasil kreasinya.

Tidak ada satupun di dunia ini tercipta tanpa fungsi dan manfaat masing-masing. Termasuk batok kelapa yang memiliki unsur seni jika dikelola dengan baik.

Seperti yang dihasilkan Ahdhanil Farichi yang sengaja menyulap batok kelapa menjadi asesoris bernilai ekonomi tinggi.

SUDAH jamak ditemui di berbagai daerah di Indonesia tetang kerajian tangan yang berbahan dasar tempurung buah dari suku aren-arenan ini. Selain karena tumbuhannya yang mudah ditemukan di seluruh daratan nusantara, manfaat buahnya juga banyak dibutuhkan warga.

Sehingga keberadaan akan buah kelapa itu sendiri telah menjadi kebutuhan sehari-hari yang wajib tersedia di pasaran. Namun, bukan itu alasan awal Dhanil, sapaan akrab dari Ahdhanil Farichi, warga Dusun/Desa Bejijong, Trowulan, Kabupaten Mojokerto menyulap batok kelapa menjadi aneka asesoris yang bernilai ekonomis.

Hingga kreasinya menjadi ajang mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Akan tetapi, justru bermula dari pengalaman pahitnya saat menderita sakit lumayan berat sejak tahun 2012. Hingga memaksanya harus mengonsumsi air kelapa sebagai solusi alternatif untuk menyembuhkan penyakitnya itu.

’’Waktu itu setiap hari saya merebus kelapa lalu meminum airnya. Lama kelamaan saya termenung dan berpikir untuk memanfaatkan batok kelapa menjadi sebuah kerajinan. Saya coba-coba mencari referensi di internet, ternyata sudah banyak kerajinan yang terbuat dari batok kelapa,’’ ungkapnya.

Usai mendapatkan referensi, Dhanil tak langsung mempraktikkan kreasinya itu dengan bentuk yang sama. Menurutnya, jika bentuk kerajinan yang dibuatnya sama, maka tidak akan memiliki daya tarik.

Ia pun lantas mencari ide dan bentuk lain yang lebih rumit dan nyeleneh. Hingga muncullah bentuk miniatur helikopter, kapal, gitar hingga becak. ’’Saya juga membuat asesoris seperti gelang, anting, dan gantungan kunci. Tapi, lebih konsen di bentuk miniatur. Totalnya ada 150 bentuk dan jenis kerajinan,’’ tambahnya.

Namun, upaya awal Dhanil tidak berlangsung mulus. Ia sempat kesulitan dalam memproduksi lantaran tidak semua batok kelapa memiliki tekstur, bentuk, dan warna yang sama. Sehingga ia pun harus memilah lebih dulu batok kelapa untuk memperoleh tekstur dan bentuk yang pas dengan rancangan kreasinya.

Langkah hati-hati selalu ia tekankan demi memberikan kesan kesempurnaan dalam setiap kerajinan. Berbekal pengalaman bekerja di pabrik mainan kayu di Jombang, masalah itu pun dapat teratasi.

’’Awalnya memang susah karena bentuknya tak sempurna dan mudah patah karena berongga. Tapi, saya terus berusaha hingga bisa,’’ terangnya. Dirasa sudah mumpuni sebagai produk berkualitas, Dhanil pun memberanikan diri membuka usaha dengan modal pas-pasan.

Dia lantas memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai wadah untuk memasarkan produknya. Selain itu, pria 34 tahun ini juga menitipkan produknya di sejumlah art shop di Mojokerto.

’’Modal awal Rp 15 ribu untuk membeli sekarung batok kelapa di Pasar Brangkal (Kedungmaling, Red) dan di wilayah Mojoanyar,’’ ujarnya. Karena bentuknya yang unik dan bermacam variasi, kerajinan yang dibuat Dhanil rupanya mendapat sambutan baik di tengah masyarakat.

Dimana, sejak pertama kali dipasarkan, kerajinan batok kelapa yang dia buat sudah tembus di beberapa daerah di luar Jawa Timur (Jatim). Seperti Jakarta dan Sumatera. Bahkan, dia mendapat pesanan dari Jerman pada tahun 2014.

’’Yang paling laris memang asesoris. Karena harganya terjangkau. Kalau miniatur hanya orang-orang tertentu saja yang membeli. Beberapa order sempat saya cancel karena keterbatasan pengetahuan tentang pengiriman,’’ jelasnya.

Dia menyebutkan, harga untuk asesoris dibanderol Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu. Sedangkan miniatur dihargai Rp 15 ribu sampai Rp 350 ribu. ’’Semakin rumit dan lama waktu pengerjaannya, semakin mahal harganya. Kalau miniatur kapal, saya kasih harga Rp 350 ribu,” tandasnya.

Setiap bulan dia mendapat pesanan 2 lusin asesoris dan 4 miniatur. ”Omzet sebulan kira-kira Rp 1 juta sampai Rp 5 juta,’’ sebutnya.

(mj/far/ris/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia