Rabu, 19 Dec 2018
radarmojokerto
icon featured
Mojokerto

Sudah Tiga Kali Ganti Wali Kota, Pasar Tanjung Masih Terjelek

06 Desember 2018, 22: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Kondisi aktivitas perdagangan dalam Pasar Tanjung Tanjung Kota Mojokerto.

Kondisi aktivitas perdagangan dalam Pasar Tanjung Tanjung Kota Mojokerto. (Sofan Kurniawan/Radar Mojokerto)

MOJOKERTO – Tiga periode wali kota ke belakang dianggap gagal membangun pasar yang baik. Kini, kondisi pasar tradisional terkesan kumuh, becek, sekaligus semrawut.

Kalangan dewan merasa malu atas kondisi pasar tradisional induk hingga bawahnya tersebut. ’’Sudah tiga periodisasi wali kota tidak bisa buat pasar yang baik. Selama kunjungan ke daerah lain, hanya Pasar Mojokerto yang terjelek,’’ ungkap Ketua Komisi I DPRD Kota Mojokerto Riha Mustofa.

Selama ini, kata dia, perbaikan kondisi pasar-pasar sebatas janji-janji politik. Padahal, dirinya mengaku, dewan sudah mendorong agar pemkot membangun pasar yang representatif dan modern.

’’Apa sulitnya coba, pasar ayam kumuh tidak tertata. Pasar Tanjung juga. Pasar ikan hanya seminggu saja (beroperasi setelah peresmian). Pasar Kranggan sudah 30 tahunan masih belum ada perubahan,’’ jelasnya.

Dirinya menyebutkan, harusnya sekarang ini pasar-pasar sudah berlantaikan granit. Asalkan, ada kemauan yang kuat dari pemda maupun wali kota. Disinggung soal penganggaran, Riha mengaku, berkali-kali dewan berupaya menganggarkan namun selalu gagal.

’’Kalau keinginan pedagang, ya dibangun dan ditata rapi serta diklasifikasikan menurut jenisnya,’’ lanjut politisi PPP ini. Dengan dibangun pasar yang baik, pihaknya yakin akan memajukan perekonomian daerah dan masyarakat.

’’PAD bisa masuk dan terkontrol dengan baik,’’ tukas anggota Fraksi Persatuan Demokrat Keadilan (PDK) ini. Selain itu, pedagang kecil juga dapat untung karena semua jenis pedagang terfasilitasi baik dari segi ruang maupun waktu.

Dirinya mengaku prihatin dengan pedagang kecil. Mereka terpaksa tempati jalan, ruas pinggir gang, emperan toko di sekitaran Pasar Tanjung untuk mereguk sesuap nasi.

’’Setiap saat ditertibkan mereka tak tahu harus pindah ke mana. Jadi yang menertibkan pun ada rasa kemanusiaan. Jadi buah simalakama. Mereka ada retribusi tapi hak-haknya tidak dipenuhi,’’ keluhnya.

Untuk itu, menurutnya, sangat perlu dibangun pasar yang rekreatif. Pasar dengan banyak lantai, semisal lantai satu pedagang kelontong, lantai dua bisa pakaian jadi/aksesori, dan lainnya.

’’Meski sulit bukan berarti tidak bisa. Yang penting kemauan untuk membangun Kota Mojokerto. Itu butuh perjuangan dan pengabdian,’’ terang dia. 

(mj/fen/ris/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia